Connect with us

Analisis

Kritik Internal Israel dan Runtuhnya Strategi Netanyahu

Published

on

Ilustrasi realistik seorang figur simbolik Israel berdiri di depan cermin besar yang pecah, dengan pantulan-pantulan retaknya menampilkan gambaran Gaza yang hancur, pejuang Hezbollah, rudal Iran, dan Amerika yang beralih ke Arab Saudi. Wajah figur tampak cemas dan tertekan, merepresentasikan krisis internal dan keruntuhan mitos kekuatan Israel.

Di tengah malam yang terasa semakin penuh bisik-bisik kekalahan, saya membayangkan sebuah negara yang selama puluhan tahun hidup dengan keyakinan bahwa kekuatan adalah jawaban bagi segalanya. Seperti seseorang yang mengira rumahnya kokoh karena dindingnya tinggi, padahal retaknya sudah menjalar dari dalam. Israel, negeri yang selalu dibanggakan sebagai “benteng tak terkalahkan”, kini mendengar bunyi retak itu dengan jelas—bukan dari musuh di luar, tapi dari suara-suara di jantung kekuasaannya sendiri. Dan ketika kritik datang dari dalam, dari jurnalis senior seperti Nehemia Shtrasler di Haaretz, bunyinya jauh lebih nyaring. Lebih menusuk. Lebih memalukan.

Saya rasa kita semua tahu bahwa kritik eksternal bisa disapu begitu saja. Israel sudah terbiasa menyebutnya bias, propaganda, atau sekadar kecemburuan dunia. Namun, bagaimana jika yang berbicara adalah putra rumah itu sendiri? Bagaimana jika yang mengatakan bahwa Israel secara strategis melemah adalah orang yang selama ini membela mitos kekuatan Israel? Di titik itulah absurditas menjadi terlalu telanjang untuk ditutup-tutupi. Dan kita dipaksa mengakui bahwa runtuhnya mitos Israel bukan isapan jempol, melainkan kenyataan keras yang bahkan Washington tak lagi berusaha menyangkal.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Shtrasler menulis bahwa Netanyahu gagal mengalahkan, meski satu saja dari musuhnya. Hamas tetap berdiri, Iran semakin kuat, Hizbullah kian percaya diri. Ini bukan sekadar kritik; ini autopsi terbuka atas strategi negara yang pernah membanggakan dirinya sebagai satu-satunya kekuatan moral dan militer di kawasan. Ironisnya, semakin keras Israel berusaha membuktikan dominasinya, semakin jelas retakan yang muncul. Seperti sebuah tembok yang dicat ulang terus-menerus, padahal fondasinya sudah keropos. Dan kini, cat itu mulai mengelupas, memperlihatkan kerusakan yang sejak lama diabaikan.

Saya tidak sedang mengulang fakta yang Anda tahu. Saya sedang mengingatkan bahwa fakta-fakta ini datang dari mulut mereka sendiri. Bahwa seorang editor Israel menyebut Netanyahu sebagai “manusia paling keji dalam sejarah bangsa Yahudi” bukan kalimat yang keluar dari aktivis kampus atau pengamat dunia ketiga. Itu keluar dari pusat legitimasi Israel. Seperti ketika seseorang akhirnya berani berkata, “Kita sudah terlalu lama berbohong pada diri sendiri,” dan kebohongan itu runtuh dalam sekali hembusan.

Yang menarik, dan sekaligus menggelikan, adalah betapa Israel kini justru menjadi korban dari strategi yang selama ini dianggapnya brilian. Serangan terhadap Gaza? Tidak mematahkan Hamas. Serangan terhadap Lebanon? Tidak mematahkan Hizbullah. Penggembosan diplomasi Iran? Justru membuka jalan bagi perluasan pengaruh Tehran. Ini bukan sekadar kegagalan. Ini adalah bumerang geopolitik yang meluncur kembali ke wajah pengirimnya dengan kecepatan penuh. Anda bisa menyebutnya karma, atau sekadar logika sederhana: dunia tidak selamanya tunduk pada narasi satu negara, terutama ketika dunia sudah muak melihat kekerasan dipasarkan sebagai solusi keamanan.

Dan sumber kritik internal itu melihat sesuatu yang sudah lama kita lihat dari luar: bahwa Netanyahu menggunakan ancaman permanen sebagai modal politik. Bahwa dia memelihara konflik alih-alih menyelesaikannya. Bahwa dia membangun karier di atas ketakutan, bukan keamanan. Shtrasler menyebutnya gagal total, dan saya kira itu masih terlalu halus. Karena dampaknya bukan hanya kegagalan strategis; ia telah memecah masyarakat Israel dari dalam, memperdalam jurang antara kelompok ultra-Ortodoks dan sekuler, antara politisi dan rakyat, antara kenyataan dan khayalan.

Israel selalu mencitrakan dirinya sebagai negara demokrasi yang kuat, namun kini lebih terlihat seperti rumah tangga yang dipenuhi teriakan tetapi takut membuka pintu agar tetangga tidak tahu. Namun apa daya, suara itu kini terdengar sampai ke luar pagar. Ketika elitnya sendiri mulai mengaku bahwa Israel tidak lagi “anak emas Washington”, itu bukan sekadar kehancuran reputasi. Itu adalah kehilangan pelindung utama. Seperti seseorang yang selama ini merasa aman karena membawa nama keluarga terpandang, lalu tiba-tiba menyadari bahwa keluarga itu pun sudah tidak ingin mengakuinya.

Kritik internal seperti ini mencerminkan kecemasan eksistensial yang jauh lebih dalam daripada yang ingin diakui Israel. Bahwa negara yang dibangun atas narasi keamanan kini justru terjebak dalam ketakutan yang ia ciptakan sendiri. Bahwa kekuatan yang selama ini diagungkan ternyata rapuh. Bahwa perang tak berujung tidak lagi dianggap strategi jitu, melainkan jebakan yang mempercepat kemunduran. Israel sedang melihat dirinya sendiri di cermin yang retak, dan pantulan itu tak lagi perkasa. Ia tampak letih. Tersudut. Dan, ya, takut.

Saya tak membayangkan Israel runtuh besok pagi. Namun saya melihat sesuatu yang jauh lebih penting: retaknya mitos. Mitos tentang “total victory” yang kini terdengar seperti lelucon buruk. Mitos tentang keunggulan diplomatik yang terkikis karena Washington mulai menatap Riyadh. Mitos tentang kemenangan moral yang luluh lantak oleh citra Gaza yang hancur dan tubuh-tubuh yang tak lagi bisa dibela dengan kalimat “ini adalah hak kami.” Mitos tentang kekuatan yang justru memperlihatkan kelemahan di tiap sudutnya.

Peliknya, kritik dari dalam Israel ini bukan sekadar keluhan, tetapi alarm. Alarm bahwa strategi negara itu telah mencapai titik buntu. Alarm bahwa dunia sudah berubah dan Israel terlalu sibuk memelihara bayang-bayang masa lalunya. Alarm bahwa Netanyahu menjadikan seluruh negara sebagai taruhan dalam permainan politik pribadinya. Dan ketika jurnalis senior seperti Shtrasler berani menuliskan semua itu secara gamblang, kita tahu sesuatu telah patah. Sesuatu yang tidak akan kembali utuh.

Saya rasa kita semua, termasuk pembaca di Indonesia yang jauh dari pusaran konflik itu, bisa memahami betapa ironisnya situasi ini. Kita sering menyaksikan pemimpin yang terlalu yakin pada dirinya sendiri, yang hidup dari retorika, yang mengira kekuasaan adalah solusi untuk semua masalah. Dan kita tahu bagaimana akhirnya: rakyat yang menanggung beban, negara yang terpecah, masa depan yang dikorbankan. Apa yang terjadi di Israel hari ini bukan cerita asing. Ia mencerminkan pola yang kita lihat di berbagai belahan dunia, termasuk yang dekat dengan kita.

Pada akhirnya, kritik dari dalam Israel adalah refleksi paling jujur tentang negara itu. Refleksi yang tidak bisa ditolak, tidak bisa dituduh bias, tidak bisa disapu ke bawah karpet. Refleksi yang menunjukkan bahwa Israel tidak hanya menghadapi musuh-musuh eksternal, tapi juga menghadapi bayangannya sendiri. Dan seperti semua negara yang didera kesombongan politik, ia kini harus berhadapan dengan kenyataan keras: bahwa kekuatan tanpa kebijaksanaan hanyalah jalan menuju kehancuran. Bahwa kekerasan tanpa kontrol adalah formula untuk kekalahan jangka panjang. Bahwa mitos tanpa evaluasi pada akhirnya akan runtuh oleh beratnya sendiri.

Itulah yang membuat kritik Shtrasler begitu penting. Ia bukan sekadar tulisan. Ia adalah pengakuan. Pengakuan bahwa Israel sedang kehilangan arah. Pengakuan bahwa strategi Netanyahu telah membawa negara itu ke tepi jurang. Pengakuan bahwa mitos Israel yang selama ini dijual ke dunia kini pecah berantakan di hadapan mata mereka sendiri. Dan pengakuan, betapapun pahitnya, selalu menjadi langkah pertama menuju kebenaran.

Kita mungkin tidak tahu ke mana arah Israel setelah ini, tetapi satu hal jelas: suara-suara dari dalam tak lagi dapat dibungkam. Dan ketika sebuah negara mulai berdebat dengan dirinya sendiri, dunia sebaiknya tidak hanya menonton, tetapi memahami: inilah tanda bahwa sebuah era sedang berakhir, dan era baru—entah lebih baik atau lebih buruk—sedang mendekat.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer