Opini
Hormuz dan Dukungan Diam-Diam Eropa untuk Amerika
Laut di sekitar Selat Hormuz kembali dipenuhi kecemasan yang berbau minyak, mesiu, dan kepura-puraan diplomatik. Kapal perang bergerak perlahan di jalur yang menjadi nadi energi dunia, sementara para pemimpin Barat sibuk merangkai kalimat-kalimat indah tentang “keamanan pelayaran” dan “stabilitas global”. Di layar televisi, semuanya terdengar masuk akal. Sangat masuk akal bahkan. Tetapi semakin lama krisis ini berlangsung, semakin terlihat sesuatu yang sulit disembunyikan: Eropa mungkin tidak ingin terlihat ikut perang Amerika Serikat melawan Iran, tetapi mereka tetap membantu menjaga agenda strategis Washington dengan cara yang lebih halus, lebih rapi, dan lebih elegan.
Saya rasa di situlah letak ironi terbesar dari seluruh drama Hormuz hari ini.
Sebelumnya Amerika Serikat meminta negara-negara Eropa ikut bergabung dalam operasi membuka Selat Hormuz. Banyak yang menolak. Alasannya jelas. Mereka tidak ingin terseret lebih jauh ke konflik Timur Tengah yang tak pernah benar-benar selesai sejak generasi sebelumnya. Eropa tahu perang modern tidak lagi hanya menghancurkan medan tempur, tetapi juga menghancurkan ekonomi, politik domestik, bahkan legitimasi moral pemerintahnya sendiri. Irak menjadi luka yang belum sepenuhnya sembuh. Libya berubah menjadi pengingat bahwa intervensi Barat sering meninggalkan puing lebih banyak daripada solusi. Afghanistan? Dunia bahkan belum selesai menertawakan cara Barat pergi dari sana.
Namun kini situasinya terasa aneh. Inggris dan Prancis justru mengumpulkan puluhan negara untuk membahas pembukaan kembali Selat Hormuz lewat koordinasi keamanan maritim yang substansinya tidak terlalu berbeda dari keinginan Washington sebelumnya. Nama operasinya boleh berbeda. Bahasa diplomatiknya boleh lebih lembut. Tetapi arah strategisnya tetap sama: memastikan Iran tidak mampu menggunakan Hormuz sebagai alat tekanan geopolitik terhadap Barat.
Dan di situlah Eropa mulai tampak seperti seseorang yang berkata tidak pada perang Amerika, sambil diam-diam membantu menjaga pintu belakang rumahnya.
Yang paling mengganggu sebenarnya bukan sekadar operasi militernya, melainkan cara Barat membingkai krisis ini. Seluruh percakapan diarahkan pada satu pertanyaan: bagaimana membuka Hormuz? Padahal pertanyaan yang jauh lebih penting justru sengaja dipinggirkan: mengapa Iran sampai menutup atau mengancam Selat Hormuz sejak awal?
Kita semua tahu konflik ini tidak lahir dari ruang kosong. Ada serangan Amerika terhadap Iran. Ada tekanan ekonomi besar-besaran. Ada embargo minyak, pembatasan perdagangan, penyitaan kapal tanker, dan blokade maritim yang selama bertahun-tahun membuat ekonomi Iran hidup dalam keadaan dicekik perlahan. Tetapi ketika Iran merespons dengan ancaman terhadap Hormuz, Barat langsung berbicara seolah dunia hanya menghadapi persoalan keamanan pelayaran semata.
Ini seperti seseorang yang menyalakan api di dapur tetangganya lalu memanggil rapat warga untuk membahas cara mengatasi asapnya, tanpa pernah membahas siapa yang pertama kali bermain korek.
Saya kira banyak negara di Global South mulai melihat pola yang sama berulang kali. Barat selalu sangat cepat berbicara tentang hukum internasional ketika kepentingan ekonomi global mereka terganggu. Tetapi ketika sekutunya sendiri menjadi bagian dari pemicu eskalasi, nada suaranya mendadak berubah lebih hati-hati. Lebih diplomatis. Lebih lunak. Iran dituntut membuka laut demi “kebebasan navigasi”, tetapi siapa yang berbicara tentang kebebasan ekonomi Iran yang selama ini diblokade?
Di atas kertas, Barat mengatakan mereka sedang menjaga perdagangan global. Dalam praktiknya, mereka juga sedang memastikan tekanan terhadap Iran tetap berjalan tanpa mengganggu stabilitas pasar energi dunia. Jadi jangan heran jika banyak pihak melihat operasi Eropa di Hormuz bukan sebagai langkah netral, melainkan dukungan diam-diam terhadap agenda strategis Amerika Serikat.
Dan memang sulit menyangkal kesan itu.
Jika Eropa benar-benar ingin menjadi penengah independen, bukankah langkah paling logis adalah menekan semua pihak secara seimbang? Bukankah mereka seharusnya mendesak Washington menghentikan eskalasi militer terhadap Iran, bukan hanya meminta Tehran membuka selat? Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Tekanan terhadap Iran terdengar keras dan jelas. Tekanan terhadap Amerika terdengar seperti bisikan yang takut didengar sendiri.
Ini memperlihatkan sesuatu yang lebih besar: Eropa sampai hari ini masih belum benar-benar mampu keluar dari orbit geopolitik Amerika Serikat.
Mereka ingin terlihat mandiri, tetapi keamanan mereka masih bergantung pada NATO. Mereka ingin tampil sebagai kekuatan diplomatik yang rasional, tetapi tetap tidak berani menantang arsitektur kekuasaan Barat yang dipimpin Washington. Maka lahirlah posisi ambigu yang sangat khas Eropa modern: menolak ikut perang secara langsung, tetapi tetap membantu menjaga sistem strategis yang menopang perang itu.
Bagi publik Barat, operasi Hormuz mungkin dijual sebagai upaya menjaga stabilitas dunia. Namun bagi banyak negara lain, ini terlihat seperti upaya memastikan mesin ekonomi global tetap berjalan meski konflik terus dipelihara. Minyak harus tetap mengalir. Kapal tanker harus tetap bergerak. Pasar harus tetap tenang. Sementara akar konfliknya? Itu urusan nanti.
Kita di Indonesia sebenarnya cukup akrab dengan logika seperti ini. Dalam kehidupan sehari-hari, sering ada orang yang lebih sibuk menjaga warung tetap buka meski rumah tetangganya terbakar. Yang penting transaksi jalan dulu. Asapnya dipikir belakangan. Dan saya rasa pendekatan Barat terhadap Hormuz hari ini tidak terlalu berbeda.
Mereka tidak benar-benar sedang menyelesaikan konflik. Mereka sedang mengelola dampaknya agar tidak merusak sistem ekonomi global.
Padahal Iran sendiri berkali-kali memberi pesan yang sangat jelas: jika mereka terus ditekan secara militer dan ekonomi, maka Hormuz akan menjadi alat tawar mereka. Dari perspektif Tehran, ancaman terhadap selat itu bukan tindakan tanpa sebab, melainkan bentuk deterrence terhadap tekanan Barat. Logikanya sederhana, bahkan brutal dalam kesederhanaannya: jika minyak Iran diblokade, mengapa jalur minyak dunia harus sepenuhnya aman?
Dan dunia panik karena Iran menyentuh titik paling sensitif dari globalisasi modern. Kita hidup di era yang katanya sangat maju, sangat digital, sangat canggih, tetapi ternyata ekonomi dunia masih bisa gemetar hanya karena satu selat sempit di Timur Tengah terganggu beberapa hari saja.
Di sinilah Eropa menghadapi ketakutan sebenarnya. Mereka bukan sekadar takut pada Iran. Mereka takut pada keruntuhan stabilitas ekonomi mereka sendiri. Krisis energi dapat menghancurkan pemerintahan, menaikkan inflasi, memicu protes sosial, dan mengguncang industri Eropa yang sejak perang Ukraina sudah hidup dalam kecemasan energi berkepanjangan.
Karena itu mereka memilih langkah paling aman secara politik: membantu menjaga stabilitas strategis Amerika tanpa harus terlihat terlalu tunduk pada Amerika.
Tetapi dunia tidak bodoh. Semakin keras Eropa mencoba terlihat netral, semakin jelas pula keberpihakan yang tersembunyi di balik bahasa diplomatik mereka.
Dan mungkin itulah kenyataan paling pahit dari seluruh kisah Hormuz hari ini. Barat berbicara tentang perdamaian, tetapi yang paling mereka takutkan sebenarnya bukan perang itu sendiri. Yang paling mereka takutkan adalah gangguan terhadap arus perdagangan, energi, dan stabilitas pasar global yang menopang kenyamanan hidup mereka sendiri.
Maka kapal perang dikirim. Armada disusun. Koalisi dibangun. Semua atas nama keamanan laut.
Sementara penyebab konflik tetap dibiarkan bernapas.
Pada akhirnya, Hormuz bukan hanya tentang Iran atau Amerika Serikat. Ia telah berubah menjadi cermin yang memperlihatkan wajah asli geopolitik Barat modern: menolak perang di depan kamera, tetapi tetap menjaga kepentingan perang itu agar sistem global tidak berhenti bekerja.
-
Opini1 minggu agoIran Menawar Damai Dengan Bahasa Kekuatan
-
Analisis3 hari agoKeseimbangan Kekuatan Bergeser, Dominasi Lama Mulai Retak
-
Analisis4 minggu agoIzin Udara AS di Indonesia: Antara Bebas Aktif dan Risiko Terseret Konflik Global
-
Opini4 minggu agoPerang Hari ke-47: Ketika Hegemoni Mulai Diuji
