Connect with us

Opini

Teluk Arab Retak Dalam Bayang Bayang Iran

Published

on

Peta negara-negara Teluk dan Iran di tengah ketegangan geopolitik regional

Ada sesuatu yang ganjil dalam perang modern Timur Tengah. Rudal beterbangan, drone melintas seperti nyamuk besi di langit malam, kilang minyak terbakar, tetapi telepon diplomatik tetap berdering dengan sopan. Dunia seperti sedang menyaksikan dua pertunjukan sekaligus: satu penuh api, satu lagi penuh senyum diplomatik dan bahasa protokoler yang dingin. Laporan The Wall Street Journal tentang dugaan keterlibatan rahasia Uni Emirat Arab dalam serangan terhadap Iran membuka tabir yang selama ini disembunyikan dengan rapi: negara-negara Teluk ternyata tidak pernah benar-benar satu suara menghadapi Tehran. Mereka hanya kebetulan duduk di meja yang sama sambil menyembunyikan ketakutan, ambisi, dan kalkulasi yang berbeda-beda.

Selama bertahun-tahun publik global dibiasakan dengan narasi sederhana. Ada “blok Arab Sunni” di satu sisi dan Iran di sisi lain. Ada “sekutu Amerika” versus “musuh Amerika.” Ringkas. Mudah dijual. Cocok untuk debat televisi berdurasi tiga menit. Tetapi realitas Timur Tengah tidak pernah sesederhana poster propaganda. Bahkan di dalam Gulf Cooperation Council sendiri, retakan itu semakin terlihat jelas. Oman cair. Qatar lentur. Saudi mulai berhitung ulang. Sementara UEA dan Bahrain tampak jauh lebih keras terhadap Iran. Jadi ketika laporan WSJ menyebut Abu Dhabi diduga diam-diam ikut menyerang target Iran, saya rasa itu bukan sekadar cerita operasi militer rahasia. Itu adalah gejala pecahnya ilusi tentang persatuan Teluk.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Ironinya luar biasa. Negara-negara yang sama-sama memiliki hubungan dekat dengan Washington ternyata bergerak dalam arah berbeda. Ada yang membuka hotline dengan Tehran hampir setiap hari. Ada yang memilih diam. Ada yang bahkan diduga ikut menyalakan api perang sambil tetap mempertahankan citra sebagai pusat bisnis global yang modern dan stabil. Dunia memang lucu. Kota yang menjual kemewahan futuristik dan festival investasi ternyata juga bisa menjadi pemain dalam perang bayangan paling berbahaya di kawasan.

Data komunikasi diplomatik beberapa hari terakhir memperlihatkan kontras yang mencolok. Saudi Arabia tetap aktif berbicara dengan Iran. Oman melakukan panggilan dan pertemuan berkali-kali. Qatar menjaga komunikasi intens. Sebaliknya, UEA hampir tidak terlihat membangun kontak serius dengan Tehran, sementara Bahrain praktis nihil. Ini bukan detail kecil. Dalam geopolitik, siapa yang masih mau mengangkat telepon sering kali lebih penting daripada siapa yang paling keras bicara di depan kamera.

Kita semua tahu, negara yang masih membuka jalur komunikasi biasanya belum siap memutus hubungan total. Saudi tampaknya memahami sesuatu yang tidak ingin diakui sebagian elite Teluk lain: perang besar dengan Iran bukan film aksi Hollywood yang selesai dalam dua jam. Itu mimpi buruk ekonomi. Serangan terhadap fasilitas Aramco pada 2019 seharusnya sudah menjadi pelajaran brutal. Satu serangan saja mampu mengguncang pasar energi global dan memperlihatkan betapa rapuhnya infrastruktur paling mahal sekalipun. Dari situlah Riyadh mulai berubah. Mereka masih membeli senjata Amerika, masih menjadi mitra Washington, tetapi kini lebih berhati-hati menari di atas bara konflik regional.

Sebaliknya, UEA terlihat bergerak ke arah berbeda. Abu Dhabi tampaknya ingin menjadi kekuatan regional yang lebih ofensif. Saya rasa ini bukan sekadar soal Iran. Ini tentang ambisi geopolitik. UEA tidak lagi puas menjadi pusat transit, surga properti, dan etalase kapitalisme Teluk. Mereka ingin diakui sebagai pemain keamanan yang mampu memengaruhi arah kawasan. Masalahnya, ambisi semacam itu selalu datang bersama risiko. Dan di Timur Tengah, risiko biasanya dibayar dengan rudal.

Yang menarik, keberadaan pangkalan militer Amerika ternyata tidak otomatis membuat kebijakan luar negeri negara-negara Teluk identik satu sama lain. Ini poin penting yang sering gagal dipahami banyak orang, termasuk sebagian komentator di Indonesia yang masih membaca Timur Tengah dengan logika Perang Dingin. Oman punya hubungan dekat dengan AS, tetapi tetap menjadi mediator Iran-Barat. Qatar menampung pangkalan militer AS terbesar di kawasan, tetapi juga menjaga hubungan strategis dengan Iran karena berbagi ladang gas raksasa. Saudi masih menjadi pembeli utama senjata Barat, tetapi kini aktif membangun komunikasi dengan Tehran dan Beijing. Dunia tidak lagi hitam putih. Semua orang bermain di banyak papan catur sekaligus.

Dan mungkin di situlah letak absurditas geopolitik modern. Negara-negara Teluk membeli keamanan dari Amerika, berdagang dengan China, bekerja sama energi dengan Rusia, lalu membuka kanal diplomatik dengan Iran. Semua dilakukan bersamaan. Tidak ada loyalitas abadi. Yang ada hanyalah kepentingan nasional yang terus berubah seperti harga cabai di pasar. Hari ini kawan, besok pesaing, lusa mitra dagang lagi.

Dalam konteks itu, laporan WSJ sebenarnya memperlihatkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar dugaan serangan rahasia. Ia menunjukkan bahwa GCC kini lebih mirip arena negosiasi kepentingan daripada blok ideologis yang solid. Negara-negara Teluk sedang mencari posisi masing-masing dalam dunia multipolar yang kacau. Ada yang memilih menenangkan Iran. Ada yang mencoba menekan Iran. Ada pula yang ingin memainkan keduanya sekaligus. Politik luar negeri mereka menjadi sangat transaksional, fleksibel, bahkan kadang oportunistik.

Saya rasa Saudi memahami bahwa stabilitas kini lebih penting daripada romantisme permusuhan lama. Mohammed bin Salman sedang membangun proyek transformasi ekonomi raksasa. NEOM, investasi global, pariwisata, hiburan, semuanya membutuhkan satu hal: kawasan yang tidak meledak setiap bulan. Sulit menjual mimpi kota futuristik sambil suara sirene rudal terdengar di kejauhan. Karena itu Riyadh tampaknya memilih pendekatan “contain Iran without total war.” Menahan, tetapi tidak membakar semuanya.

Oman bahkan lebih menarik lagi. Negara kecil itu seperti tetangga kampung yang selalu dipanggil ketika dua keluarga besar hampir baku hantam. Diam, tidak banyak gaya, tetapi justru dipercaya semua pihak. Dalam banyak negosiasi sensitif Iran-Barat selama dua dekade terakhir, Muscat sering menjadi ruang belakang tempat kompromi diam-diam dibangun. Mereka sadar satu hal sederhana: jika Teluk terbakar, negara kecil akan ikut hangus duluan.

Sementara Bahrain berada di kutub berbeda. Hubungannya dengan Iran sudah lama penuh kecurigaan. Faktor politik domestik membuat Manama melihat Tehran bukan hanya ancaman regional, tetapi juga ancaman internal. Maka sikap keras Bahrain bukan sekadar soal geopolitik luar negeri, melainkan juga rasa takut mempertahankan stabilitas domestik.

Lalu bagaimana dengan publik dunia? Seperti biasa, kebanyakan hanya melihat potongan-potongan drama yang dilempar media sosial. Ada yang buru-buru menyimpulkan semua negara Teluk adalah boneka Washington. Ada pula yang menganggap mereka sepenuhnya anti-Iran. Padahal realitasnya jauh lebih rumit dan lebih sinis. Negara-negara itu tidak bergerak berdasarkan ideologi besar. Mereka bergerak berdasarkan rasa takut, ambisi ekonomi, dan insting bertahan hidup.

Dan di sinilah saya melihat pelajaran penting bagi kita di Indonesia. Politik internasional hari ini semakin cair. Aliansi bukan lagi soal kesetiaan permanen, melainkan kemampuan menjaga opsi tetap terbuka. Negara yang terlalu bergantung pada satu poros akan mudah terseret ketika konflik membesar. Teluk sedang memperlihatkan bagaimana negara kecil dan menengah mencoba bertahan di tengah pertarungan raksasa global. Kadang mereka berhasil. Kadang mereka justru ikut menyalakan api sambil berharap rumah sendiri tidak terbakar.

Yang paling mengkhawatirkan adalah fakta bahwa semua pihak tampaknya percaya mereka masih bisa mengendalikan eskalasi. Ini selalu menjadi kalimat terakhir sebelum situasi benar-benar lepas kendali. Sejarah Timur Tengah penuh dengan perang yang awalnya dianggap terbatas, lalu berubah menjadi kekacauan panjang lintas generasi. Rudal yang diluncurkan diam-diam hari ini bisa menjadi alasan pembalasan besar besok. Dan setiap negara merasa dirinya masih bermain catur, padahal papan permainannya perlahan terbakar.

Pada akhirnya, laporan tentang dugaan operasi rahasia UEA terhadap Iran bukan sekadar kisah spionase regional. Ia adalah simbol bahwa Timur Tengah sedang memasuki fase baru: fase ketika negara-negara Teluk tidak lagi bergerak sebagai satu blok, melainkan sebagai aktor-aktor individual dengan ketakutan dan ambisi masing-masing. Ada yang memilih diplomasi. Ada yang memilih tekanan. Ada yang mencoba keduanya sekaligus. Tetapi semuanya sama-sama tahu satu hal: jika perang besar benar-benar pecah, tidak akan ada menara kaca Dubai, proyek futuristik Saudi, atau pangkalan militer Amerika yang benar-benar aman.

Dan mungkin itu ironi paling pahit dari semuanya. Kawasan yang paling kaya energi di dunia justru hidup dalam kecemasan permanen, seperti rumah mewah yang fondasinya dibangun di atas tangki bensin terbuka.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer