Connect with us

Opini

Iran Menemukan Celah Rapuh Globalisasi Digital

Published

on

Kabel internet bawah laut di Selat Hormuz dan ancaman geopolitik Iran

Ada ironi yang nyaris lucu dalam dunia modern hari ini. Negara-negara kaya membangun kota pintar, pusat data raksasa, kecerdasan buatan, transaksi miliaran dolar per detik, lalu menggantungkan semua itu pada kabel-kabel tipis di dasar laut yang melintas di wilayah paling rawan konflik di planet ini. Dunia memamerkan internet sebagai simbol kemajuan tanpa batas, tetapi fondasinya ternyata serapuh kabel yang bisa diseret jangkar kapal, dipotong sabotase, atau dijadikan alat tawar oleh negara yang selama ini disebut “terisolasi”. Saya rasa di titik inilah absurditas globalisasi mencapai puncaknya.

Laporan tentang Iran yang bersiap mengambil kontrol penuh atas kabel bawah laut di Selat Hormuz seharusnya membuat banyak orang berhenti sejenak dari euforia digital. Tiba-tiba kita sadar, internet global bukan awan ajaib yang melayang bebas di langit. Ia punya tubuh. Punya jalur fisik. Punya tenggorokan sempit. Dan salah satu tenggorokan itu berada di bawah bayang-bayang Iran. Selama ini Barat sibuk berbicara tentang program nuklir Teheran, seolah ancaman terbesar hanya datang dari uranium. Padahal Iran diam-diam menemukan sesuatu yang jauh lebih mengganggu: titik lemah globalisasi.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Selama puluhan tahun, globalisasi dijual sebagai dongeng indah tentang dunia tanpa batas. Barang bergerak cepat. Data melintas instan. Uang berpindah dalam hitungan detik. Kita semua dibuat percaya bahwa sistem global terlalu besar untuk diguncang satu negara. Tetapi kenyataannya tidak begitu. Sistem ini ternyata seperti jalan tol yang sangat modern namun hanya punya beberapa pintu keluar. Dan Iran sedang berdiri di salah satu gerbang itu sambil tersenyum tipis.

Yang menarik, ancaman Iran bukan lagi sekadar soal minyak. Itu fase lama. Dulu dunia takut jika Hormuz ditutup karena harga minyak bisa melonjak. Sekarang ancamannya lebih rumit dan lebih modern. Kabel bawah laut yang melewati Hormuz membawa sekitar 15–20 persen lalu lintas internet dan data finansial global antara Eropa, Teluk, dan Asia. Artinya, yang dipertaruhkan bukan cuma bensin di SPBU atau harga solar nelayan. Ini soal bank, cloud, pasar saham, transaksi digital, bahkan sistem komunikasi militer.

Kita semua tahu dunia hari ini lebih takut internet mati daripada listrik padam sesaat. Orang mungkin masih bisa hidup tanpa bensin beberapa hari, tetapi coba matikan internet dan sistem pembayaran digital selama seminggu. Kota-kota modern akan panik. Mesin ATM lumpuh. Bandara kacau. Rumah sakit terganggu. Perdagangan berhenti. Bahkan orang-orang yang tiap hari berkhotbah tentang “kebebasan digital” mungkin baru sadar bahwa hidup mereka ternyata tergantung pada kabel di dasar laut yang tak pernah mereka lihat.

Iran membaca kerentanan itu dengan sangat baik. Dan di situlah kecerdikan geopolitiknya. Negara yang selama ini dipukul sanksi justru memahami bahwa globalisasi modern dibangun di atas ketergantungan yang sangat tidak seimbang. Negara-negara Teluk bergantung lebih dari 90 persen pada kabel bawah laut Hormuz untuk internet, perbankan, dan layanan cloud. Sementara Iran sendiri punya jalur alternatif lewat darat menuju Turki. Ini bukan detail teknis kecil. Ini adalah peta ketahanan perang modern.

Artinya sederhana: Iran mungkin bisa tetap online ketika tetangganya gelap.

Bayangkan ironi itu. Negara yang selama ini dicitrakan tertinggal justru menyiapkan skenario bertahan hidup digital lebih baik dibanding negara-negara superkaya yang dipenuhi gedung pencakar langit dan proyek futuristik. Rasanya seperti melihat kampung tua yang masih punya sumur sendiri saat kompleks elite kehabisan air karena pompa listrik mati. Teknologi tinggi ternyata sering melahirkan ketergantungan tinggi pula.

Di sinilah saya melihat perubahan besar dalam wajah konflik global. Perang modern tidak lagi hanya soal rudal dan tank. Kini perang bergerak ke arah yang lebih sunyi namun lebih mematikan: mengganggu sistem. Bukan menghancurkan kota, tetapi membuat kota tidak bisa berfungsi. Bukan mengebom gedung bank, tetapi membuat transaksi bank macet. Bukan menyerang warga secara langsung, tetapi membuat seluruh jaringan kehidupan digital tersendat.

Iran tampaknya memahami logika baru ini. Mereka sadar sulit mengalahkan Amerika Serikat secara konvensional. Tetapi mereka juga sadar bahwa Amerika dan sekutunya hidup dalam sistem global yang sangat rapuh terhadap gangguan konektivitas. Maka strategi Iran bukan menghancurkan lawan secara frontal, melainkan membuat biaya stabilitas global menjadi sangat mahal.

Dan anehnya, strategi itu cukup berhasil.

Lihat saja bagaimana dunia langsung gelisah setiap kali Hormuz memanas. Harga energi bergerak liar. Asuransi kapal naik. Investor panik. Jalur perdagangan terganggu. Bahkan ancaman terhadap kabel internet saja sudah cukup membuat analis keamanan sibuk menghitung skenario terburuk. Dunia yang katanya paling maju ternyata bisa cemas hanya karena beberapa kabel di dasar laut terancam.

Saya kadang merasa globalisasi modern mirip pusat perbelanjaan mewah dengan fondasi rapuh. Lampunya terang. Musiknya indah. Semua tampak canggih. Tetapi satu korsleting kecil saja bisa membuat seluruh gedung gelap dan orang-orang berlarian panik. Iran tampaknya sedang menunjuk korsleting itu kepada dunia.

Yang lebih menarik lagi adalah perubahan simbol kekuasaan. Dulu negara kuat diukur dari luas wilayah atau jumlah tank. Sekarang kekuatan juga ditentukan oleh kemampuan mengontrol arus: arus minyak, arus data, arus perdagangan, arus finansial. Dalam dunia seperti ini, Selat Hormuz bukan cuma jalur pelayaran. Ia berubah menjadi tombol kontrol global.

Dan Barat sebenarnya ikut menciptakan situasi ini sendiri. Selama bertahun-tahun mereka mendorong dunia masuk ke ketergantungan digital ekstrem. Semua dipusatkan di cloud. Semua dibuat real time. Semua terkoneksi. Efisiensi dijadikan agama baru. Tetapi efisiensi berlebihan sering membunuh ketahanan. Ketika seluruh sistem terlalu terhubung, satu gangguan kecil bisa menjalar seperti virus.

Kita melihatnya saat pandemi. Kita melihatnya saat rantai pasok global terganggu. Dan sekarang kita melihatnya lagi lewat ancaman kabel bawah laut. Globalisasi ternyata bukan jaringan tanpa batas. Ia adalah jaringan dengan banyak titik sempit yang sangat rentan diperas secara geopolitik.

Iran hanya kebetulan menjadi negara yang cukup berani mengatakannya terang-terangan.

Tentu saja langkah Iran berisiko besar. Dunia tidak akan diam. Negara-negara Barat dan Teluk pasti akan mencari jalur alternatif, memperkuat keamanan kabel, membangun koridor baru, atau mengurangi ketergantungan terhadap Hormuz. Tetapi kerusakan utamanya mungkin sudah terjadi: ilusi netralitas internet global mulai runtuh.

Dan ketika ilusi itu runtuh, dunia memasuki fase baru yang lebih gelap.

Internet tidak lagi dipandang sebagai ruang bebas universal, melainkan medan perebutan pengaruh negara. Kabel bawah laut menjadi aset strategis seperti ladang minyak. Cloud berubah menjadi infrastruktur geopolitik. Bahkan pusat data kini bisa dianggap target keamanan nasional. Kita sedang bergerak menuju era ketika konektivitas dipersenjatai.

Bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia, ini seharusnya jadi alarm keras. Sebab kita sering terlalu sibuk menjadi konsumen teknologi tanpa memikirkan ketahanan infrastrukturnya. Kita bangga memakai aplikasi global, menyimpan data di cloud asing, bertransaksi digital setiap hari, tetapi jarang bertanya: apa yang terjadi jika jalur global terganggu? Apa yang terjadi jika konflik di Timur Tengah membuat sistem digital regional tersendat? Dunia digital ternyata tidak seaman iklan provider internet.

Dan mungkin inilah pelajaran paling pahit dari semua ini: globalisasi modern tidak menghapus geopolitik. Ia hanya memindahkannya ke dasar laut, pusat data, dan kabel fiber optik.

Iran memahami itu lebih cepat dibanding banyak negara lain.

Karena itu ancaman Iran bukan sekadar ancaman militer. Ia adalah sindiran telanjang terhadap dunia modern. Dunia yang begitu percaya diri dengan teknologi, tetapi diam-diam menggantungkan hidupnya pada jalur-jalur sempit yang rawan konflik. Dunia yang bicara tentang masa depan AI sambil lupa bahwa seluruh kecerdasannya tetap bergantung pada kabel fisik yang bisa diputus kapan saja.

Dan mungkin di situlah ketakutan terbesar sebenarnya lahir. Bukan karena Iran paling kuat, tetapi karena Iran berhasil menunjukkan bahwa globalisasi ternyata jauh lebih rapuh daripada yang selama ini kita bayangkan.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer