Connect with us

Opini

Perang Iran-Trump, Kini Digugat Publik Sendiri

Published

on

Demonstrasi publik Amerika menolak perang Iran

Ada sesuatu yang terasa ganjil, hampir absurd, ketika sebuah negara yang selama ini begitu percaya diri mengekspor perang justru mulai dipaksa bercermin oleh rakyatnya sendiri. Di layar-layar media, narasi tentang ancaman Iran terus diputar, diulang, diperkeras. Tetapi di ruang-ruang keluarga Amerika, di dapur, di meja makan, percakapan yang muncul justru sederhana: mengapa kita melakukan ini? Pertanyaan itu tidak terdengar heroik. Bahkan cenderung banal. Tapi justru di situlah letak kegelisahannya. Perang Iran bukan lagi sekadar operasi militer—ia berubah menjadi perdebatan eksistensial tentang akal sehat.

Laporan yang menyebut lebih dari 60 persen warga Amerika menilai perang Iran lebih banyak mudarat daripada manfaat seharusnya menjadi alarm keras. Bukan alarm biasa. Ini bukan sekadar penurunan approval rating yang bisa diperbaiki dengan pidato berapi-api atau konferensi pers yang penuh retorika. Ini adalah sinyal bahwa fondasi legitimasi mulai retak. Saya rasa kita semua tahu, begitu publik mulai mempertanyakan alasan dasar sebuah perang, maka masalahnya bukan lagi soal strategi, melainkan soal kepercayaan.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi đź’›

Perang Iran, dalam banyak hal, tampak seperti proyek yang kehilangan narasi. Di atas kertas, mungkin ada tujuan. Stabilitas kawasan, keamanan global, atau ancaman nuklir. Tetapi di mata publik, semua itu terdengar semakin jauh, semakin abstrak, bahkan terasa seperti jargon yang sudah aus. Sementara itu, yang nyata justru harga energi naik, inflasi terasa, dan ketidakpastian ekonomi menghantui. Di sinilah ironi bekerja: perang yang diklaim demi keamanan justru menghadirkan rasa tidak aman dalam kehidupan sehari-hari.

Dan kemudian muncul tuduhan yang lebih tajam—bahwa perang Iran bukan benar-benar untuk Amerika, melainkan untuk kepentingan pihak lain, terutama Israel. Tuduhan ini mungkin dulu hanya beredar di pinggiran. Sekarang? Ia sudah masuk arus utama. Ketika lebih dari separuh publik mulai percaya bahwa perang ini lebih menguntungkan negara lain dibanding negaranya sendiri, maka kita tidak lagi berbicara tentang opini minoritas. Ini adalah krisis persepsi yang serius.

Saya tidak sedang mengatakan tuduhan itu sepenuhnya benar. Tapi yang lebih penting: publik mempercayainya. Dalam politik, persepsi sering kali lebih kuat daripada fakta. Dan ketika persepsi itu menyebar, ia bekerja seperti retakan kecil di bendungan—tidak langsung menghancurkan, tapi perlahan, pasti, melemahkan struktur dari dalam.

Di titik ini, Donald Trump menghadapi sesuatu yang lebih kompleks dari sekadar tekanan politik biasa. Ia menghadapi dilema klasik yang pernah menjebak para pendahulunya. Vietnam. Irak. Afghanistan. Kita sudah melihat pola ini berulang. Awalnya ada keyakinan. Lalu keraguan. Kemudian kelelahan. Dan akhirnya penolakan. Sejarah tidak selalu berulang persis, tapi ia sering berima. Dan rima itu kini terdengar semakin jelas.

Perang Vietnam runtuh bukan karena Amerika kalah secara militer, melainkan karena publiknya tidak lagi percaya. Perang Irak kehilangan legitimasi ketika alasan utamanya terbukti rapuh. Afghanistan berakhir dengan kelelahan kolektif yang nyaris tak terucapkan. Sekarang, perang Iran tampak sedang berjalan di jalur yang sama. Bukan jalur kemenangan. Jalur kelelahan.

Masalahnya, tekanan ini datang dari dua arah sekaligus. Di luar negeri, perang tidak menunjukkan tanda-tanda kemenangan cepat. Iran bukan lawan yang mudah ditundukkan. Setiap eskalasi membawa risiko yang lebih besar, bukan kepastian hasil. Di dalam negeri, publik semakin tidak sabar, semakin skeptis, semakin mempertanyakan. Dua tekanan ini saling mengunci, seperti dua sisi pintu yang ditahan dari arah berlawanan.

Jika Trump memilih eskalasi, publik akan semakin marah. Jika ia memilih de-eskalasi, ia berisiko terlihat lemah. Ini bukan sekadar pilihan kebijakan. Ini jebakan strategis. Dan jebakan ini bukan baru—hanya saja, kali ini terasa lebih cepat, lebih tajam, lebih terbuka.

Ada juga dimensi lain yang sering luput dari perhatian: retaknya narasi “America First”. Perang Iran justru memunculkan pertanyaan yang sangat tidak nyaman bagi slogan itu. Jika benar “America First”, mengapa publik merasa perang ini bukan untuk mereka? Mengapa mereka melihatnya sebagai konflik yang tidak relevan dengan kepentingan nasional? Di sini, retorika bertemu realitas—dan tidak semuanya selaras.

Kalau kita tarik ke konteks yang lebih dekat, bayangkan sebuah organisasi atau bahkan lingkungan kampus. Ketika pimpinan memaksakan proyek besar tanpa mampu menjelaskan manfaat langsungnya kepada anggota, apa yang terjadi? Awalnya mungkin ada dukungan. Tapi begitu hasil tidak terlihat, biaya terasa, dan tujuan tidak jelas, kepercayaan mulai hilang. Orang-orang mulai bertanya, berbisik, lalu bersuara. Perang Iran, dalam skala yang jauh lebih besar, tampak mengikuti logika yang sama.

Dan di era sekarang, tekanan publik tidak lagi bergerak lambat. Ia viral, cepat, dan sulit dikendalikan. Narasi bisa berubah dalam hitungan jam. Tuduhan bisa menyebar tanpa perlu validasi penuh. Dalam kondisi seperti ini, legitimasi menjadi aset paling rapuh. Sekali retak, sulit diperbaiki.

Saya rasa kita sedang menyaksikan sesuatu yang lebih dari sekadar konflik geopolitik. Ini adalah momen ketika publik Amerika mulai menegosiasikan ulang hubungannya dengan perang. Bukan hanya perang Iran, tapi perang sebagai instrumen kebijakan. Ada kelelahan yang menumpuk. Ada skeptisisme yang mengeras. Dan ada keinginan, mungkin, untuk berhenti sejenak dan bertanya: apakah ini benar-benar perlu?

Perang Iran, dalam kerangka ini, menjadi simbol. Simbol dari pertarungan antara kebijakan luar negeri lama dengan kesadaran publik baru. Simbol dari jurang antara elite politik dan pengalaman sehari-hari warga. Simbol dari bagaimana sebuah negara besar bisa tersandung bukan karena kekurangan kekuatan, tapi karena kehilangan arah.

Pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya hasil perang, tapi kepercayaan itu sendiri. Dan sejarah sudah memberi kita petunjuk yang cukup jelas: ketika perang kehilangan legitimasi di mata publik, ia tidak benar-benar dimenangkan. Ia dihentikan. Dipaksa berhenti.

Mungkin bukan hari ini. Mungkin bukan besok. Tapi arah anginnya sudah terasa.

Dan ketika angin publik mulai berbalik, bahkan kekuatan terbesar sekalipun harus belajar menunduk.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer