Opini
Perdamaian Mahal, Perang Jauh Lebih Gila
Ada sesuatu yang ganjil dalam cara dunia berbicara tentang Iran. Negara itu diperlakukan seperti tersangka abadi di ruang interogasi global: apa pun yang dilakukan dianggap ancaman, apa pun yang dipertahankan disebut provokasi, dan apa pun yang dibela dicurigai sebagai ambisi tersembunyi. Ironisnya, mereka yang paling sering menjatuhkan sanksi, mengirim kapal induk, dan menumpuk pangkalan militer di Timur Tengah justru tetap berdiri di podium moral sambil berbicara tentang stabilitas kawasan. Aneh memang. Rumah tetangga dibakar, lalu pemilik korek api datang membawa ceramah tentang bahaya asap.
Laporan di Foreign Affairs sebenarnya menarik bukan karena keberaniannya mengkritik pendekatan Amerika Serikat terhadap Iran, melainkan karena ia memperlihatkan kegelisahan yang mulai tumbuh di jantung pemikiran strategis Barat sendiri. Mereka mulai sadar bahwa kebijakan “maximum pressure” terhadap Iran bukan jalan menuju perdamaian, melainkan lorong panjang menuju kekacauan yang lebih mahal. Dan ya, kata “mahal” di sini bukan cuma soal uang. Dunia sedang bicara tentang harga minyak, jalur perdagangan, perang regional, bahkan kemungkinan benturan global yang lebih luas.
Namun saya rasa ada ironi yang lebih dalam daripada sekadar kegagalan diplomasi. Barat selama ini memotret Iran seolah negara itu punya obsesi menjadi penguasa Timur Tengah, padahal yang berulang kali dituntut Teheran sebenarnya jauh lebih sederhana: akui hak-hak kami sebagai negara berdaulat. Selesai. Tidak perlu dinobatkan sebagai kekuatan regional. Tidak perlu mahkota geopolitik. Mereka hanya menolak diperlakukan seperti murid bandel yang harus terus diawasi oleh kepala sekolah internasional bernama Washington.
Tetapi dunia modern memang punya kebiasaan buruk: negara yang patuh disebut moderat, sementara negara yang keras kepala mempertahankan kedaulatan disebut ancaman. Kita semua tahu pola ini. Kalau sebuah negara membuka pintu untuk kepentingan Barat, ia dianggap rasional. Kalau menolak, ia mendadak berubah menjadi rezim bermasalah. Seolah-olah kedaulatan hanya sah jika mendapat stempel persetujuan dari Gedung Putih.
Dalam konteks itu, laporan Foreign Affairs terasa seperti pengakuan yang terlambat. Mereka mulai menyadari bahwa Iran tidak runtuh meski dicekik bertahun-tahun. Sanksi ekonomi dijatuhkan. Perdagangan diblokade. Aset dibekukan. Ancaman militer dipamerkan seperti otot di ring tinju. Tetapi Iran tetap berdiri. Tertatih, iya. Tertekan, tentu. Namun tidak tumbang. Dan justru di situlah absurditas strategi Barat terlihat telanjang.
Semakin ditekan, Iran semakin defensif. Semakin diancam, semakin keras sikap politiknya. Itu bukan fenomena aneh. Bahkan tukang bakso di gang sempit Bekasi pun tahu: kalau seseorang terus didorong ke tembok, ia akan melawan. Persoalannya, dalam geopolitik global, perlawanan itu diterjemahkan sebagai agresi, sementara tekanan yang memicunya dianggap kebijakan keamanan.
Lalu muncullah narasi tentang “proxy Iran” yang begitu populer di media Barat. Hizbullah di Lebanon, kelompok-kelompok perlawanan di Irak, hingga dinamika di Yaman selalu dibingkai sebagai ekspansi pengaruh Teheran. Padahal sejarahnya tidak sesederhana papan catur yang digambar analis think tank di Washington. Hizbullah, misalnya, lahir dari invasi Israel ke Lebanon tahun 1982. Ada pendudukan. Ada pemboman. Ada rasa marah yang tumbuh menjadi resistensi. Tetapi anehnya, yang sering dibicarakan dunia justru reaksi perlawanannya, bukan sebab yang melahirkannya.
Ini seperti seseorang masuk ke rumah orang lain sambil membawa pentungan, lalu ketika pemilik rumah melawan, media ramai-ramai bertanya mengapa suasana menjadi tegang. Kadang saya heran, apakah dunia benar-benar lupa urutan sebab-akibat, atau pura-pura lupa demi menjaga kenyamanan narasi politik tertentu?
Israel dalam banyak kasus ditempatkan sebagai pihak yang selalu bereaksi, bukan aktor yang juga menciptakan eskalasi. Padahal operasi militer, pendudukan wilayah, dan kebijakan agresifnya selama puluhan tahun menjadi bahan bakar utama kemarahan regional. Jika agresi tidak terjadi, banyak kelompok perlawanan mungkin tidak pernah muncul dalam bentuk seperti sekarang. Tetapi tentu saja pengakuan semacam itu terlalu tidak nyaman bagi arsitektur politik Barat.
Karena itu, ketika Iran mendukung kelompok-kelompok tersebut, dunia Barat langsung menyebutnya destabilisasi. Namun jarang ada pertanyaan jujur: destabilisasi terhadap siapa? Terhadap rakyat kawasan? Atau terhadap kepentingan geopolitik Amerika dan Israel?
Pertanyaan ini penting. Sebab sering kali stabilitas yang dibicarakan Barat sebenarnya hanyalah nama lain dari keteraturan yang menguntungkan mereka sendiri. Selama minyak mengalir aman, jalur dagang terkendali, dan sekutu strategis tetap dominan, situasi disebut stabil. Meski di bawahnya ada pendudukan, blokade, atau ribuan warga sipil terbunuh. Dunia modern memang ahli mengganti istilah. Penindasan bisa disebut keamanan. Intervensi bisa disebut perdamaian. Sanksi ekonomi yang membuat rakyat menderita disebut instrumen diplomasi.
Dan lucunya, semua itu dibungkus dengan bahasa moralitas.
Laporan Foreign Affairs sebenarnya memperlihatkan kegelisahan baru di kalangan elite Barat: mereka mulai takut biaya perang terhadap Iran terlalu besar. Selat Hormuz bisa terguncang. Harga energi melonjak. Ekonomi global limbung. Bahkan sekutu-sekutu Amerika di Timur Tengah mulai tidak nyaman dengan kemungkinan perang terbuka. Ini bukan lagi soal siapa benar atau salah. Ini soal siapa sanggup membayar tagihan kekacauan.
Saya rasa inilah titik ketika pragmatisme mulai mengalahkan idealisme palsu. Barat perlahan sadar bahwa Iran bukan Irak 2003. Iran punya kapasitas militer, jaringan regional, dan daya tahan politik yang jauh lebih kompleks. Serangan terhadap Iran tidak akan menjadi perang singkat bergaya video game yang selesai dalam beberapa minggu. Ia bisa berubah menjadi api panjang yang membakar seluruh kawasan.
Tetapi menariknya, ketakutan terbesar Barat tampaknya bukan sekadar perang. Mereka takut kehilangan kendali atas Timur Tengah. Dunia sedang berubah. Rusia dan China semakin aktif. Negara-negara Teluk mulai bermain lebih independen. Bahkan sekutu tradisional Washington kini lebih pragmatis dan oportunistik. Dalam situasi seperti ini, Iran menjadi simbol kegagalan dominasi tunggal Amerika di kawasan.
Dan mungkin itu yang paling menyakitkan.
Karena selama puluhan tahun, narasi global dibangun dengan asumsi bahwa Amerika selalu mampu menentukan arah sejarah Timur Tengah. Kini asumsi itu retak. Perlahan, tetapi nyata. Iran tetap bertahan. Perlawanan regional tetap hidup. Dan dunia multipolar mulai tumbuh di depan mata.
Di Indonesia, kita sebenarnya tidak asing dengan pola seperti ini. Kita pernah dijajah. Kita pernah diajari bahwa melawan kekuatan besar dianggap tindakan berbahaya. Karena itu saya kadang merasa aneh melihat sebagian orang begitu mudah menerima narasi bahwa semua bentuk resistensi otomatis identik dengan teror atau destabilisasi. Seolah rakyat yang ditekan tidak punya hak marah. Seolah hanya negara kuat yang boleh merasa terancam.
Padahal sejarah selalu menunjukkan hal yang sama: ketika ketidakadilan dipelihara terlalu lama, perlawanan akan menemukan jalannya sendiri.
Tentu, ini bukan berarti Iran tanpa cela. Tidak ada negara suci dalam geopolitik. Semua bermain kepentingan. Semua menjaga pengaruh. Tetapi menyederhanakan Iran sebagai sumber utama kekacauan Timur Tengah jelas bentuk kemalasan intelektual. Itu seperti menyalahkan asap sambil pura-pura tidak melihat api.
Karena akar persoalannya jauh lebih tua dan lebih dalam: pendudukan Palestina, agresi regional, standar ganda internasional, dan obsesi Barat mempertahankan dominasi geopolitik. Selama semua itu tetap dipelihara, maka ketegangan akan terus lahir, meski nama kelompok atau aktornya berubah.
Dan di situlah saya melihat makna paling penting dari laporan ini. Bukan soal diplomasi teknis. Bukan soal uranium atau sanksi semata. Tetapi pengakuan diam-diam bahwa dunia tidak lagi bisa dipaksa tunduk hanya dengan ancaman.
Perdamaian dengan Iran memang punya harga. Barat harus berhenti memperlakukan kedaulatan negara lain seperti barang sewaan. Israel harus berhenti merasa semua kritik adalah ancaman eksistensial. Dan dunia internasional harus mulai jujur melihat akar konflik, bukan sekadar gejalanya.
Karena jika tidak, kita akan terus hidup dalam teater geopolitik yang absurd: mereka yang paling banyak menjatuhkan bom akan terus berbicara tentang perdamaian, sementara mereka yang bertahan dari tekanan dipaksa duduk sebagai terdakwa sejarah.
Dan terus terang saja, dunia sudah terlalu lelah untuk terus mempercayai sandiwara itu.
