Opini
Hormuz Membara, Dunia Menjual Ilusi Perdamaian
Langit Teluk Persia kembali dipenuhi dengung mesin perang, dan dunia, seperti biasa, pura-pura terkejut. Beberapa kapal diarahkan menjauh dari Selat Hormuz, tembakan peringatan disebut melintas di udara, harga minyak melonjak hanya dalam hitungan jam, lalu para juru bicara internasional sibuk menyusun kalimat diplomatik yang terdengar steril seperti ruang tunggu rumah sakit. Semua tampak absurd. Di layar televisi, konflik dipresentasikan seperti grafik ekonomi. Di pasar tradisional, orang cuma tahu harga kebutuhan bisa kembali naik. Kita semua tahu, perang modern selalu dimulai jauh sebelum misil pertama diluncurkan: ia dimulai dari narasi, dari ketakutan, dari kepentingan yang dibungkus jargon kebebasan.
Laporan terbaru tentang memanasnya Selat Hormuz dan bentrokan yang disebut terjadi antara Iran dan armada Amerika sebenarnya bukan sekadar kabar perang biasa. Ia adalah potret tentang bagaimana dunia hari ini dijalankan oleh kekuatan yang gemar bermain api sambil menjual slogan kemanusiaan. Amerika menamai operasi mereka dengan istilah mulia seperti “Project Human Freedom”, seolah kapal perang yang melintas di kawasan paling sensitif energi dunia adalah rombongan relawan kemanusiaan yang sedang membagikan obat-obatan. Ironi semacam ini terlalu sering diulang sampai manusia modern mulai kebal terhadap kemunafikan.
Saya rasa justru di situlah letak masalah terbesar dunia hari ini: perang tidak lagi dijelaskan sebagai perang. Ia dipasarkan sebagai misi penyelamatan. Invasi disebut stabilisasi. Blokade disebut keamanan. Tekanan ekonomi disebut perlindungan demokrasi. Bahkan pengerahan pesawat pengintai dan armada penghancur bisa dibungkus dalam kalimat manis tentang “kebebasan navigasi”. Padahal semua orang mengerti, ketika kapal perang memasuki Selat Hormuz, yang sedang dipertaruhkan bukan kebebasan manusia, melainkan jalur minyak, harga energi, dan dominasi geopolitik.
Dan Iran memahami permainan itu dengan sangat baik.
Karena itu, ketika laporan tersebut menyebut Teheran menggunakan “kartu Hormuz” sebagai senjata tekanan global, saya justru melihat sesuatu yang lebih besar dari sekadar strategi militer. Iran sedang menunjukkan bahwa dunia multipolar tidak lagi takut sepenuhnya pada ancaman Washington. Dulu, satu ancaman dari Gedung Putih cukup membuat negara-negara kecil gemetar dan pasar langsung tunduk. Sekarang situasinya berbeda. Iran, dengan segala keterbatasannya, justru berani bermain di titik paling sensitif ekonomi global. Ini bukan soal siapa paling kuat secara militer. Ini soal siapa paling siap membuat dunia merasa tidak nyaman.
Selat Hormuz memang seperti keran air utama di rumah kontrakan global. Begitu kerannya diguncang sedikit saja, semua penghuni panik. Harga minyak naik. Pasar bereaksi. Negara-negara industri sibuk menghitung kerugian. Anehnya, mereka tetap bersikap seolah konflik ini hanya urusan regional Timur Tengah, padahal setiap liter bensin yang mahal di Jakarta, Surabaya, atau Bekasi pada akhirnya punya jejak yang terhubung ke perairan sempit itu.
Lalu muncullah narasi heroik dari berbagai pihak. Iran merasa berhasil menunjukkan daya gentar. Amerika berusaha menjaga citra bahwa mereka masih mengendalikan keadaan. Israel mencoba meyakinkan publik bahwa operasi militernya tetap berjalan sesuai rencana. Dan media internasional? Sebagian besar sibuk memilih diksi yang aman agar tidak mengganggu kepentingan politik dan ekonomi pihak tertentu. Perang informasi berlangsung jauh lebih cepat dibanding pergerakan kapal tempur.
Di titik ini, saya justru tertarik pada satu hal yang sering diabaikan: betapa rapuhnya sistem global yang selama ini dipromosikan sebagai tatanan paling stabil dalam sejarah modern. Bayangkan, hanya dengan laporan tentang tembakan peringatan dan gangguan jalur pelayaran, harga minyak langsung melonjak. Artinya dunia yang katanya modern dan canggih ini ternyata tetap bergantung pada selat sempit yang setiap saat bisa berubah menjadi arena baku hantam geopolitik. Teknologi berkembang pesat, kecerdasan buatan dipuja-puja, manusia bicara kolonisasi Mars, tetapi ekonomi global masih bisa limbung gara-gara kapal tanker dipaksa berputar arah.
Lucu, ya. Tragis juga.
Sementara itu, di Lebanon selatan, laporan tentang “Wadi Raj” memperlihatkan sisi lain dari konflik modern: perang gesekan tanpa ujung yang perlahan menguras psikologi lawan. Israel, yang selama bertahun-tahun membangun citra sebagai mesin militer paling superior di kawasan, kini menghadapi kenyataan bahwa perang tidak selalu dimenangkan dengan teknologi tercanggih. Kadang lawan hanya perlu bertahan cukup lama sampai publik mulai lelah, ekonomi mulai goyah, dan kepercayaan mulai retak sedikit demi sedikit.
Hezbollah memahami logika itu. Mereka tidak perlu menghancurkan Israel secara total untuk menciptakan tekanan strategis. Mereka hanya perlu memastikan bahwa setiap langkah militer Israel selalu memiliki harga politik dan psikologis. Dalam bahasa sederhana: bikin lawan capek. Dan perang modern memang sering berubah menjadi soal siapa yang lebih tahan lelah.
Saya rasa banyak orang Indonesia sebenarnya bisa memahami pola ini lewat pengalaman sehari-hari. Kadang dalam hidup, yang membuat seseorang kalah bukan pukulan besar, tetapi tekanan kecil yang terus-menerus datang tanpa jeda. Tagihan naik. Harga kebutuhan melonjak. Kerja makin berat. Masa depan terasa kabur. Lama-lama mental runtuh sendiri. Dalam geopolitik, strategi seperti itu bekerja dengan cara yang mirip.
Karena itu, laporan yang menyebut Israel “terjebak” dalam perang berkepanjangan sebenarnya menyimpan pesan lebih dalam: perang hari ini bukan lagi soal merebut wilayah semata, tetapi soal menghancurkan rasa aman. Dan ketika rasa aman mulai runtuh, negara sekuat apa pun akan mulai terlihat gugup.
Namun yang paling mengganggu dari semua ini adalah bagaimana dunia internasional tampak semakin nyaman hidup di ambang perang permanen. Konflik demi konflik dipelihara seperti api kecil di dapur politik global: jangan sampai padam, tapi juga jangan terlalu besar sampai membakar semuanya. Industri senjata tetap hidup. Harga energi bisa dimainkan. Aliansi politik dipertahankan. Dan rakyat biasa? Lagi-lagi hanya menjadi penonton yang membayar tiket paling mahal.
Di Indonesia, kita sering mendengar kalimat klise bahwa konflik Timur Tengah “jauh dari kita”. Padahal efeknya terasa sampai ke dapur rumah tangga. Ketika harga minyak naik, ongkos transportasi ikut terdorong. Harga pangan bergerak. Inflasi merambat diam-diam seperti bocor halus di atap rumah saat musim hujan. Tidak langsung terasa di hari pertama, tetapi perlahan membuat semuanya lembap dan menyebalkan.
Masalahnya, elite global tampaknya tidak benar-benar ingin menyelesaikan konflik. Mereka hanya ingin mengelolanya. Ada perbedaan besar di situ. Menyelesaikan berarti mengakhiri siklus kekerasan. Mengelola berarti menjaga ketegangan tetap hidup dalam kadar yang menguntungkan. Dan saya melihat laporan tentang Selat Hormuz ini sebagai bagian dari permainan besar itu: saling mengancam, saling menunjukkan otot, saling membangun citra kemenangan untuk konsumsi publik masing-masing.
Amerika ingin terlihat tetap dominan. Iran ingin terlihat tak bisa ditundukkan. Israel ingin terlihat tetap memegang kontrol. Semua sibuk menjaga gengsi strategis. Kadang saya bertanya-tanya, berapa banyak manusia harus hidup dalam ketidakpastian hanya demi mempertahankan ego geopolitik para penguasa?
Yang lebih menarik lagi, laporan tersebut menunjukkan bagaimana perang narasi kini hampir sama pentingnya dengan perang militer. Istilah-istilah seperti “naval nuclear bomb”, “semi-closed strait”, atau “kill zones” bukan sekadar deskripsi teknis. Itu adalah senjata psikologis. Kata-kata dipilih untuk membentuk rasa takut, rasa bangga, sekaligus rasa marah. Dalam era media sosial, satu kalimat hiperbolik bisa memiliki efek lebih besar daripada satu ledakan di lapangan.
Dan publik modern sangat mudah terseret. Kita hidup di zaman ketika orang lebih cepat bereaksi pada headline dibanding membaca konteks. Akibatnya, perang berubah menjadi tontonan emosional. Orang memilih kubu seperti memilih klub sepak bola. Sedikit yang benar-benar mencoba memahami bahwa di balik semua slogan heroik, selalu ada rakyat sipil yang kehilangan rumah, kehilangan keluarga, dan kehilangan masa depan.
Pada akhirnya, memanasnya Selat Hormuz bukan cuma soal Iran atau Amerika. Ia adalah simbol dari dunia yang sedang kehilangan kemampuan untuk hidup tanpa ancaman. Dunia hari ini seperti gedung tua dengan instalasi listrik rusak: lampunya masih menyala, musik masih diputar, orang-orang masih berpesta, tetapi bau kabel terbakar mulai terasa di mana-mana.
Dan mungkin itulah bagian paling menakutkan dari semua ini. Bukan karena perang besar pasti terjadi, melainkan karena umat manusia tampaknya mulai terbiasa hidup di tepi jurang. Kita menganggap krisis sebagai rutinitas. Kita menormalisasi eskalasi. Kita membiarkan pasar menentukan nilai nyawa manusia. Sampai suatu hari nanti, ketika tembakan peringatan berubah menjadi ledakan besar, dunia mungkin kembali pura-pura kaget, lalu mengulang siklus kemunafikan yang sama.
