Opini
Yerida, Perang, dan Retaknya Janji Zionisme
Ada ironi yang tak bisa lagi ditutupi oleh jargon keamanan, sirene peringatan, atau pidato penuh dada di depan kamera. Ketika negara dibangun atas janji “kembali” dan “perlindungan”, justru yang terlihat hari ini adalah arus “pergi”. Pelan, senyap, tapi konsisten. Yerida—kata yang dulu diucapkan dengan nada malu—kini menjadi kenyataan yang menghantui Israel. Sejak Oktober 2023, sejak perang berubah dari peristiwa menjadi kondisi hidup, semakin banyak warga memilih mengemas masa depan mereka di luar negeri. Bukan karena tak cinta, melainkan karena cinta pun punya batas ketika hidup terasa seperti menunggu ledakan berikutnya.
Saya rasa kita semua tahu, emigrasi bukan hal baru. Tak ada negara yang steril dari keinginan warganya untuk mencari hidup lain. Namun Yerida di Israel bukan emigrasi biasa. Ia menyentuh inti ideologi. Ia menggerogoti fondasi narasi. Dan laporan Al Mayadeen—meski ditulis dari sudut pandang kritis—menyodorkan data dan ironi yang sulit dibantah: jumlah mereka yang pergi meningkat, dan pada periode tertentu lebih besar daripada mereka yang datang. Ini bukan sekadar statistik. Ini alarm yang berbunyi di ruang ideologi.
Perang sejak Oktober 2023 adalah pendorong terbesar Yerida. Bukan satu-satunya, tentu. Tapi ia adalah pemantik yang mengubah kegelisahan menjadi keputusan. Banyak warga Israel telah lama resah oleh polarisasi politik, mahalnya biaya hidup, dan pergeseran arah negara ke ekstrem ideologis. Namun perang membuat semua itu tak lagi abstrak. Perang menuntut waktu, tenaga, mental, dan darah. Perang menuntut kesetiaan total, sementara negara sendiri tampak goyah dalam memberikan kepastian masa depan. Dalam situasi seperti itu, bertahan bukan lagi soal keberanian, melainkan soal kalkulasi hidup.
Laporan Al Mayadeen menyoroti lonjakan Yerida pascaperang sebagai tantangan besar bagi proyek Zionis. Di sinilah letak kegelisahannya. Zionisme bukan sekadar negara, tetapi janji historis: bahwa Israel adalah rumah aman bagi orang Yahudi. Ketika rumah itu berubah menjadi barak militer permanen, janji tersebut retak. Saya tidak mengatakan Israel runtuh. Tapi retak itu nyata. Dan retakan, jika diabaikan, selalu melebar.
Kita bisa berdebat soal angka. Apakah puluhan ribu atau ratusan ribu. Apakah mereka benar-benar “pergi” atau hanya tinggal sementara. Debat itu sah. Tapi menghindari substansi hanya akan membuat negara sibuk mempercantik laporan sambil kehilangan manusia. Yerida bukan sekadar kuantitas, melainkan kualitas. Yang pergi bukan sembarang orang. Banyak dari mereka adalah tenaga terampil, profesional teknologi, akademisi, dokter, insinyur—kelompok yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi dan keamanan Israel modern. Negara mungkin tetap berdiri, tetapi mesin di dalamnya mulai pincang.
Perang berperan besar karena ia mengubah persepsi risiko. Ancaman roket, mobilisasi tanpa ujung, dan rasa aman yang rapuh bukan sekadar berita malam. Itu pengalaman harian. Bagi keluarga muda, bagi orang tua dengan anak kecil, pertanyaannya sederhana dan kejam: apakah ini tempat terbaik untuk membesarkan anak? Ketika jawabannya ragu, paspor kedua berubah dari simbol privilege menjadi pintu keluar. Yerida pun bergerak.
Ironinya, perang selalu dibingkai sebagai perekat nasional. “Kita diserang, maka kita bersatu.” Namun realitasnya lebih rumit. Perang juga memperjelas perbedaan. Siapa yang menanggung beban paling berat. Siapa yang bisa pergi dan siapa yang tak punya pilihan. Dalam ketimpangan itu, Yerida menemukan jalannya. Bukan sebagai pengkhianatan, melainkan sebagai bentuk kelelahan kolektif yang tak lagi bisa disangkal.
Al Mayadeen menempatkan fenomena ini dalam bingkai krisis ideologis, dan di situlah kritik mereka tajam. Negara yang berdiri di atas gagasan imigrasi kini menghadapi emigrasi. Negara yang memuja Aliyah kini harus menjelaskan Yerida. Kita boleh menuduh media itu berlebihan, tapi kita tak bisa menutup mata terhadap fakta bahwa narasi resmi Israel sendiri kini defensif. Ketika pemerintah harus terus-menerus menyangkal “eksodus”, itu tanda bahwa isu ini telah menembus lapisan propaganda.
Dampak jangka panjang Yerida, jika terus berlanjut, tidak bisa diremehkan. Pertama, ada risiko brain drain yang nyata. Inovasi dan keunggulan teknologi Israel tidak jatuh dari langit. Ia dibangun oleh manusia—oleh komunitas kreatif yang membutuhkan rasa aman dan ruang bernapas. Jika mereka memilih Berlin, Toronto, atau Melbourne, Israel kehilangan lebih dari sekadar angka pajak. Ia kehilangan daya saing.
Kedua, ada persoalan kohesi sosial. Ketika kelompok sekuler dan profesional cenderung pergi, sementara pertumbuhan demografis terbesar berasal dari komunitas yang kurang terintegrasi secara ekonomi, ketegangan struktural akan meningkat. Ini bukan soal identitas agama semata, tetapi soal keberlanjutan model negara modern. Negara yang terus berperang membutuhkan ekonomi kuat. Ekonomi kuat membutuhkan SDM produktif. Rantai ini rapuh jika Yerida dibiarkan.
Ketiga, dan ini yang paling sensitif, adalah dampak pada legitimasi narasi. Zionisme bertahan bukan hanya karena kekuatan militer, tetapi karena keyakinan bahwa Israel adalah pilihan rasional dan aman. Yerida menggerogoti keyakinan itu dari dalam. Lawan-lawan Israel akan memanfaatkannya sebagai senjata narasi, tentu saja. Tapi ancaman terbesar bukan propaganda eksternal, melainkan pertanyaan internal yang makin sering terdengar: sampai kapan?
Saya tidak menulis ini untuk meramalkan kiamat. Israel bukan negara rapuh yang akan runtuh oleh emigrasi. Namun mengabaikan Yerida—terutama yang dipercepat oleh perang—adalah bentuk keangkuhan strategis. Perang mungkin dianggap perlu oleh sebagian elite, tetapi dampak sosialnya tidak bisa disapu ke bawah karpet patriotisme. Setiap warga yang pergi membawa cerita, dan cerita-cerita itu membentuk persepsi global dan internal.
Di titik ini, kita harus jujur: mengaitkan peningkatan Yerida dengan perang bukanlah simplifikasi murahan. Itu analisis yang masuk akal. Perang adalah pendorong terbesar karena ia mengonsentrasikan semua masalah menjadi satu tekanan akut. Tanpa perang, mungkin banyak yang masih bertahan sambil mengeluh. Dengan perang, keluhan berubah menjadi tiket pesawat satu arah.
Pertanyaannya bukan apakah Yerida akan berhenti besok. Pertanyaannya adalah apakah Israel bersedia membaca pesan di baliknya. Negara bisa terus menang di medan tempur, tapi kalah dalam mempertahankan kepercayaan warganya. Dan kekalahan semacam itu tidak diumumkan lewat konferensi pers. Ia terjadi pelan-pelan, di bandara, di ruang tunggu, di pelukan perpisahan yang tak pernah masuk statistik resmi.
Jika perang terus menjadi kondisi permanen, jika keamanan didefinisikan semata lewat kekuatan, dan jika kegelisahan warga terus dianggap collateral damage, maka Yerida akan tetap menjadi bayangan panjang di belakang setiap klaim kemenangan. Retaknya janji tidak selalu terdengar keras. Kadang ia hanya berupa koper yang ditutup, dan sebuah keputusan sunyi: pergi.
