Connect with us

Opini

Protes Iran Jadi Arena Perang Narasi Global

Published

on

Ilustrasi editorial tentang protes Iran yang berubah menjadi arena perang narasi geopolitik global

Ada sesuatu yang terasa ganjil setiap kali kita membaca berita tentang protes Iran. Bukan karena rakyat turun ke jalan—itu sudah lama menjadi bahasa universal dari kegelisahan—melainkan karena setiap teriakan di Teheran, Isfahan, atau Mashhad seolah langsung diseret ke panggung dunia. Spanduk tuntutan ekonomi belum sempat dilipat, tapi mikrofon geopolitik sudah menyala. Narasi berloncatan. Tuduhan berseliweran. Dan tiba-tiba, konflik dalam negeri berubah rupa menjadi arena perang wacana global. Absurd, tapi nyata. Di sinilah kita berdiri hari ini, menyaksikan bagaimana keresahan rakyat biasa diperebutkan oleh kepentingan yang jauh lebih besar dari sekadar harga roti dan nilai tukar rial.

Saya rasa kita semua tahu, protes Iran kali ini tidak lahir dari ruang hampa. Inflasi yang merangkak, mata uang yang terperosok, dan tekanan hidup yang makin terasa adalah sebab yang tak bisa dibantah. Pemerintah Iran pun, menariknya, mengakui itu. Ada pengakuan bahwa tuntutan ekonomi itu sah, ada ruang yang diberikan bagi demonstrasi damai. Ini penting, karena narasi populer sering menggambarkan negara hanya sebagai palu yang menghantam paku. Kenyataannya lebih rumit. Negara mencoba memilah: mana suara protes, mana suara yang berubah menjadi kerusuhan. Namun di tengah upaya memilah itu, dunia luar sudah sibuk menyimpulkan.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Di sinilah perang narasi dimulai. Laporan tentang penahanan puluhan orang di berbagai provinsi segera dibaca bukan sebagai respons keamanan, melainkan sebagai bukti represif. Padahal, dari sudut pandang Teheran, yang ditangkap bukan demonstran ekonomi, melainkan aktor yang dianggap merusak dan terorganisir. Apakah klaim ini harus diterima mentah-mentah? Tentu tidak. Tapi menolaknya mentah-mentah juga sama gegabahnya. Protes Iran tidak hidup di ruang steril; ia berlangsung di negara yang sudah puluhan tahun berada dalam tekanan, sanksi, dan konflik laten dengan kekuatan besar dunia.

Lalu datanglah dukungan terbuka dari Amerika Serikat dan Israel terhadap “rakyat Iran”. Di atas kertas, terdengar indah. Solidaritas, demokrasi, hak asasi manusia. Namun geopolitik bukan buku puisi. Dalam konteks negara yang secara de facto berada dalam konflik terbuka dengan Iran, dukungan semacam ini bukan sekadar pernyataan moral. Ia adalah sinyal politik. Saya berani mengatakan, di sinilah absurditas mencapai puncaknya: negara-negara yang selama ini menjadi musuh strategis Iran tiba-tiba tampil sebagai pembela rakyat Iran. Wajar jika Teheran membacanya bukan sebagai empati, melainkan sebagai intervensi naratif.

Kita perlu jujur. Jika situasinya dibalik—jika Iran secara terbuka mendukung protes sosial di Amerika atau Israel—reaksinya pasti keras. Akan ada kata “campur tangan”, “destabilisasi”, bahkan mungkin “ancaman keamanan nasional”. Jadi mengapa standar ganda ini seolah diterima begitu saja? Dalam protes Iran, dukungan asing bukan hanya soal kata-kata, tetapi soal sejarah panjang operasi intelijen, sabotase, dan perang bayangan. Di titik ini, kecurigaan bukan paranoia, melainkan refleks yang dibentuk oleh pengalaman.

Keterlibatan figur diaspora seperti Reza Pahlavi menambah lapisan ironi. Seruan untuk melawan penguasa, disampaikan dari luar negeri, dengan gaung yang diperbesar media internasional. Apakah ini representasi kehendak rakyat di dalam negeri? Atau sekadar gema dari lingkaran elit yang sudah lama kehilangan pijakan di tanah sendiri? Dalam konteks protes Iran, suara diaspora sering diperlakukan seolah suara rakyat itu sendiri. Padahal jarak geografis sering kali sejalan dengan jarak realitas. Mudah menyerukan perubahan radikal ketika tidak harus menghadapi konsekuensinya langsung.

Yang menarik, ketika kerusuhan mereda, narasi global tidak ikut tenang. Iran tetap siaga, aparat tetap waspada. Ini lalu dibaca sebagai bukti negara yang hidup dalam ketakutan. Saya melihatnya berbeda. Negara yang pernah mengalami gelombang protes berulang—2009, 2019, 2022—tentu belajar bahwa ketenangan bisa menipu. Dalam logika keamanan, fase pasca-protes justru krusial. Jaringan yang belum terpetakan, aktor yang belum terungkap, dan momentum yang bisa kembali menyala kapan saja. Dalam konteks ini, kesiagaan adalah rasional, meski tentu selalu berisiko disalahartikan.

Masalahnya, perang narasi global jarang memberi ruang bagi nuansa. Protes Iran disederhanakan menjadi drama hitam-putih: rezim versus rakyat. Narasi ini laku keras, mudah dicerna, dan cocok untuk konsumsi cepat di media sosial. Namun kesederhanaan itu mengorbankan kebenaran. Ia menyingkirkan fakta bahwa banyak rakyat Iran yang marah pada kondisi ekonomi, tetapi juga menolak intervensi asing. Dua hal itu bisa hidup berdampingan. Tidak kontradiktif. Sayangnya, narasi global jarang mau repot dengan kompleksitas semacam itu.

Saya sering membayangkan situasi ini seperti pasar tradisional yang tiba-tiba didatangi pedagang besar dari luar kota. Masalah harga beras di pasar itu nyata. Pedagang lokal protes, pembeli mengeluh. Lalu datang pihak luar yang katanya ingin membantu, tapi sambil membentangkan spanduk promosi sendiri. Masalahnya jadi kabur. Apakah mereka benar ingin membantu, atau sekadar ingin menguasai pasar? Analogi ini mungkin sederhana, tapi cukup menggambarkan bagaimana protes Iran diperlakukan di panggung internasional.

Di sinilah letak ironi paling pahit. Rakyat yang turun ke jalan untuk menuntut keadilan ekonomi justru terjebak dalam pertarungan wacana yang tidak mereka rancang. Suara mereka ditarik ke kiri dan kanan, dipelintir sesuai kepentingan. Pemerintah Iran dituduh menunggangi narasi keamanan. AS dan Israel dituduh menunggangi narasi kebebasan. Di tengah semua itu, tuntutan awal—harga hidup yang makin mencekik—perlahan tenggelam. Protes berubah dari jeritan perut menjadi amunisi geopolitik.

Saya tidak sedang membela satu pihak secara membabi buta. Tapi saya menolak kepura-puraan moral. Dalam protes Iran, tidak ada aktor yang benar-benar polos. Negara punya kepentingan menjaga stabilitas dan kedaulatan. Kekuatan luar punya kepentingan melemahkan lawan strategis. Dan rakyat? Rakyat ingin hidup lebih layak, tanpa harus menjadi pion dalam permainan besar. Jika kita terus memaksakan narasi sederhana, kita hanya akan memperpanjang siklus kemarahan dan kekecewaan.

Penutupnya begini. Protes Iran adalah cermin retak dari dunia yang semakin gemar mempolitisasi penderitaan. Setiap konflik domestik kini seperti panggung terbuka, siap disusupi narasi global. Kita boleh marah, boleh berpihak, tapi seharusnya juga belajar membaca lebih dalam. Jangan-jangan, di balik teriakan tentang kebebasan dan keamanan, ada kegagalan kolektif untuk benar-benar mendengar suara yang paling dasar: suara rakyat yang ingin hidup normal, tanpa harus menjadi headline geopolitik. Dan mungkin, di situlah ironi terbesar zaman ini—ketika penderitaan nyata kalah nyaring dibanding perang kata-kata.

Sumber:

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer