Opini
Ketika Suriah Tunduk di Kaki Netanyahu
Ada sesuatu yang runtuh sebelum pertemuan itu benar-benar terjadi. Bukan hanya sebuah rezim, bukan sekadar kelanjutan konflik Timur Tengah yang tak pernah usai, tetapi harga diri politik sebuah negara. Ketika laporan menyebut Suriah dan Israel membuat “kemajuan signifikan” menuju kesepakatan keamanan, saya rasa kita semua tahu bahwa frasa itu terlalu bersih untuk kenyataan yang kotor. Sebab di balik bahasa diplomatik yang rapi, terselip satu fakta telanjang: Suriah kini duduk di meja yang kakinya dikendalikan oleh Benjamin Netanyahu.
Keganjilan itu terasa bahkan sebelum detail laporan dibaca tuntas. Ahmed al-Sharaa, sosok yang selama bertahun-tahun membangun citra perlawanan terhadap Israel, kini disebut berpeluang duduk langsung berhadapan dengan Netanyahu. Bukan melalui perantara, bukan lewat negosiator anonim, melainkan tatap muka di tingkat tertinggi. Ini bukan perubahan sikap biasa. Ini adalah pembalikan makna. Dulu, Israel adalah simbol musuh yang harus dilawan. Kini, ia menjadi alamat kompromi yang tak terelakkan.
Laporan yang Anda kirim menyebut bahwa sumber Suriah memuji peran Amerika Serikat—bahkan Donald Trump—dalam mendorong kesepakatan ini. Dari sini, arah angin menjadi jelas. Kita tidak sedang menyaksikan diplomasi dua negara setara, melainkan pengaturan ulang wilayah yang kalah agar tidak mengganggu pemenang. Dan pemenang itu, dalam narasi ini, tidak abstrak. Ia bernama Netanyahu. Ia hadir sebagai figur yang pasukannya masih menduduki tanah Suriah, sementara pihak yang diduduki diminta menandatangani kertas “keamanan”.
Ironinya semakin pahit ketika laporan itu mengingatkan bahwa Israel sejak 2011 secara diam-diam mendukung Ahmed al-Sharaa dan kelompoknya demi menjatuhkan Bashar al-Assad. Fakta ini bukan sekadar latar belakang sejarah; ini adalah kunci memahami mengapa ketundukan Suriah hari ini tampak begitu mulus. Ketika kekuasaan lahir dari sokongan musuh lama, sulit berharap ia akan berdiri tegak di hadapannya. Yang terjadi justru sebaliknya: Suriah pasca-Assad tumbuh dalam bayang Israel.
Netanyahu, menurut laporan tersebut, bahkan tidak menunggu lama untuk mengklaim kredit setelah Assad tumbang pada Desember 2024. Klaim itu segera diikuti tindakan militer: pendudukan wilayah Suriah yang lebih luas, termasuk Gunung Hermon yang strategis, ratusan serangan udara yang menghancurkan basis militer dan senjata canggih, serta operasi darat rutin di Quneitra dan Daraa. Ini bukan gestur defensif. Ini bahasa dominasi. Dan yang membuatnya terasa seperti ketundukan total adalah satu hal sederhana: tidak ada perlawanan berarti dari pihak Suriah.
Sebaliknya, aparat keamanan Suriah yang baru justru sibuk mengalihkan kekerasan ke dalam. Laporan mencatat pembantaian terhadap warga Alawite, serangan terhadap komunitas Druze, dan operasi brutal di kawasan mayoritas Kurdi di Aleppo. Kita pernah melihat pola ini berkali-kali dalam sejarah negara lemah: ketika tunduk ke luar, rezim mengeras ke dalam. Seolah kekerasan terhadap rakyat sendiri menjadi kompensasi atas ketidakberdayaan menghadapi pendudukan asing.
Di titik ini, perbandingan dengan Bashar al-Assad menjadi tak terhindarkan. Assad adalah figur yang banyak dibenci, dan kebencian itu sering kali sah. Namun dalam satu hal, ia konsisten: tidak ada normalisasi terbuka dengan Israel. Tidak ada pertemuan, tidak ada penandatanganan, tidak ada foto jabat tangan dengan Netanyahu. Konflik dibiarkan membeku—bukan diselesaikan, tetapi juga tidak diserahkan. Ironisnya, penerus yang datang dengan retorika perlawanan jauh lebih keras justru menjadi orang yang melangkah paling jauh ke arah normalisasi di bawah pendudukan.
Laporan menyebut bahwa kesepakatan keamanan ini mungkin merujuk pada armistice 1974. Ini terdengar seperti upaya memberi legitimasi historis. Namun realitasnya jauh berbeda. Armistice itu lahir ketika Suriah masih memiliki negara yang relatif utuh dan posisi tawar. Hari ini, kerangka lama dipakai untuk membungkus realitas baru: Israel mendikte, Suriah menyesuaikan. Netanyahu bahkan disebut hanya mau menarik pasukan dari sebagian titik pendudukan jika Suriah menandatangani perjanjian damai penuh—yang berarti melepaskan klaim atas Dataran Tinggi Golan.
Di sinilah istilah Suriah tunduk Israel menemukan makna paling konkret. Bukan sebagai slogan, tetapi sebagai kondisi. Sebuah negara yang wilayahnya diduduki diminta mengorbankan klaim sahnya demi “keamanan”. Analogi sehari-harinya sederhana: seperti korban perampokan yang diminta menandatangani surat damai agar sebagian barangnya dikembalikan. Kita bisa menyebutnya realisme politik. Tapi kita juga bisa menyebutnya apa adanya: subordinasi.
Saya rasa, yang paling merusak bukanlah kelemahan Suriah itu sendiri. Negara ini telah lama rapuh. Yang merusak adalah cara kelemahan itu kini dipresentasikan sebagai prestasi diplomatik. “Kemajuan signifikan,” kata laporan itu. Kata-kata yang rapi, dingin, dan teknis. Padahal di baliknya, Suriah sedang diposisikan sebagai entitas yang harus jinak, tidak mengganggu, dan patuh pada arsitektur keamanan yang dirancang Netanyahu dan sekutunya.
Netanyahu, dalam keseluruhan narasi ini, tampil konsisten. Ia tidak membutuhkan perdamaian yang setara. Ia membutuhkan stabilitas yang menguntungkan Israel. Wacana “Greater Israel” mungkin diperdebatkan secara ideologis, tetapi praktik lapangannya jelas: pendudukan dipertahankan, wilayah baru diamankan, dan lawan yang lemah diajak berunding dari posisi rendah. Dalam konfigurasi seperti ini, pertemuan dengan Ahmed al-Sharaa bukan dialog dua visi, melainkan pengesahan relasi tuan dan pihak yang ditundukkan.
Kita mungkin bertanya, apa arti semua sumpah perlawanan di masa lalu itu. Apakah ia benar-benar kalah oleh tekanan realitas, atau sejak awal hanya alat mobilisasi? Pertanyaan ini penting bukan untuk menghakimi masa lalu, tetapi untuk membaca masa depan Suriah. Sebab negara yang lahir dari janji perlawanan, lalu hidup dari kompromi sepihak, akan selalu dibayangi krisis legitimasi.
Pada akhirnya, laporan ini bukan hanya tentang rencana kesepakatan keamanan. Ia adalah potret Suriah hari ini: negara yang tidak lagi menantang Israel, tetapi menyesuaikan diri dengannya di bawah bayang Netanyahu. Suriah tunduk Israel bukan kalimat emosional; ia adalah ringkasan dari fakta-fakta yang disusun rapi oleh laporan itu sendiri.
Dan mungkin, tragedi terbesar Suriah bukan terjadi di medan perang, melainkan di ruang perundingan yang sunyi. Tidak ada ledakan, tidak ada deklarasi kekalahan. Hanya momen ketika sebuah negara memilih berlutut, menyebutnya kemajuan, dan berharap sejarah tidak terlalu keras menilainya. Padahal kita semua tahu, sejarah jarang memberi ampun pada ketundukan yang dibungkus kata-kata indah.

Pingback: Hubungan Suriah dan Israel: Dari Ancaman ke Diplomasi