Opini
STC di Yaman, Jalan Sunyi Membantu Israel
Ada sesuatu yang terasa janggal sejak awal, bahkan sebelum operasi militer itu diberi nama yang terdengar gagah. Di Yaman selatan, senjata kembali berbunyi atas nama stabilitas, sementara peta berubah pelan-pelan tanpa kegaduhan berarti. Kata-kata seperti “keamanan” dan “perang melawan terorisme” diulang dengan nada resmi, rapi, nyaris steril. Namun justru di sanalah kegelisahan itu bermula. Sebab sejarah kawasan ini mengajarkan satu hal sederhana: ketika kekerasan dikemas sebagai solusi, biasanya yang sedang disusun bukan ketertiban, melainkan kepentingan.
Aktor utama dalam babak ini adalah STC, Southern Transitional Council—Dewan Transisi Selatan—sebuah entitas politik dan militer yang dibentuk pada 2017 dengan klaim mewakili aspirasi pemisahan Yaman selatan. STC bukan negara, bukan pula pemerintah sah Yaman, tetapi ia memiliki sayap bersenjata sendiri yang dikenal sebagai Southern Armed Forces. Lebih penting lagi, STC secara terbuka dan konsisten didukung oleh Uni Emirat Arab, mulai dari pendanaan, pelatihan militer, persenjataan, hingga perlindungan politik. Di lapangan, pasukan STC lebih sering berhadapan dengan sesama orang Yaman—termasuk pasukan pemerintah yang diakui internasional—ketimbang ancaman terorisme yang mereka gembar-gemborkan.
Dukungan UEA terhadap STC tidak lahir dari romantisme sejarah Yaman selatan, melainkan dari kalkulasi strategis yang dingin. Wilayah yang kini dikuasai STC—Abyan, Hadhramaut, Al-Mahra, hingga pesisir Teluk Aden—bukan wilayah biasa. Di sanalah pelabuhan strategis, jalur minyak, dan simpul penting Laut Merah serta Bab al-Mandab berada. Dan sejak UEA menormalisasi hubungan dengan Israel, wilayah-wilayah ini tidak lagi netral secara geopolitik. Di titik inilah ironi mulai telanjang: ketika STC memperluas kontrolnya, yang dilemahkan bukan hanya kesatuan Yaman, tetapi juga satu-satunya kekuatan Yaman yang sedang berhadapan langsung dengan Israel.
Pada titik ini, sulit untuk terus berpura-pura bahwa yang terjadi hanyalah konflik lokal. Ketika STC bergerak cepat menguasai wilayah demi wilayah, ketika gencatan senjata runtuh tanpa konsekuensi berarti, dan ketika fasilitas minyak serta pelabuhan justru menjadi prioritas utama, kita semua tahu arah anginnya. Ini bukan sekadar perebutan kekuasaan di tingkat provinsi. Ini adalah pengalihan fokus. Yaman didorong untuk sibuk bertengkar dengan dirinya sendiri, sementara medan konfrontasi eksternal perlahan dikosongkan. Dalam politik kawasan, pengalihan semacam ini bukan efek samping—ia adalah tujuan.
Ironinya semakin pahit ketika kita melihat konteks waktunya. Saat Ansarallah di Sanaa secara terbuka menantang Israel—melalui serangan terhadap kapal-kapal terkait Israel di Laut Merah dan Bab al-Mandab—STC justru mempercepat operasi militernya ke dalam negeri. Bukan ke arah musuh eksternal, tetapi ke sesama Yaman. Di sinilah kesimpulan itu mulai tak terelakkan: STC membantu Israel, bukan dengan deklarasi, tetapi dengan hasil.
Saya rasa penting untuk menegaskan ini dengan jujur. Dalam geopolitik, bantuan tidak selalu hadir dalam bentuk aliansi resmi atau koordinasi militer terbuka. Sering kali, bantuan paling efektif justru datang dalam bentuk pelemahan tidak langsung. Dengan memecah Yaman, menguras energi militernya dalam konflik internal, dan menjauhkan fokus dari tekanan eksternal, STC membantu Israel secara fungsional. Tidak perlu satu pun tentara Israel menginjakkan kaki di Abyan atau Hadhramaut. Musuh Israel sibuk dilemahkan oleh konflik dari dalam.
Uni Emirat Arab memahami logika ini dengan sangat baik. Setelah normalisasi hubungan dengan Israel, kepentingan keamanan UEA dan Israel bertemu pada satu titik krusial: stabilitas jalur pelayaran. Laut Merah, Teluk Aden, dan Bab al-Mandab bukan sekadar perairan, melainkan urat nadi perdagangan global. Maka setiap aktor yang berupaya menyingkirkan kekuatan yang mengganggu jalur itu—termasuk Ansarallah—secara otomatis berada dalam satu poros kepentingan dengan Israel. Dalam kerangka ini, STC membantu Israel bukan sebagai sekutu ideologis, tetapi sebagai instrumen geopolitik.
Yang membuat situasi ini semakin getir adalah cara semua itu dibungkus. STC berbicara tentang martabat Yaman selatan, tentang aspirasi rakyat, tentang stabilitas. Namun di lapangan, laporan penjarahan, intimidasi, dan teror terhadap warga sipil terus bermunculan. Stabilitas yang dijanjikan terasa seperti atap yang hanya melindungi kapal-kapal di laut, sementara rumah-rumah di darat tetap bocor dan rapuh. Satirnya tajam: keamanan untuk perdagangan, ketidakpastian untuk rakyat.
Sebagian orang mungkin akan berkata, ini semua terlalu jauh ditarik ke Israel. Saya justru melihat sebaliknya. Terlalu sering kita memisahkan konflik seolah-olah ia berdiri sendiri, padahal kawasan ini bekerja seperti rangkaian bejana yang saling terhubung. Ketika satu tekanan dilemahkan, bejana lain ikut berubah. Dampaknya kini terlihat jelas: Yaman terfragmentasi, perlawanan terhadap Israel melemah, dan jalur laut menjadi lebih aman. Jika hasil akhirnya seperti itu, maka menyangkal bahwa STC membantu Israel hanya soal permainan kata, bukan soal membaca realitas.
Bahkan sikap Saudi Arabia yang ambigu memperkuat kesan ini. Pembiaran terhadap laju STC, meski secara formal Riyadh mendukung kesatuan Yaman, membuka ruang bagi fragmentasi yang menguntungkan banyak pihak—kecuali rakyat Yaman sendiri. Jika benar ada kesepakatan diam-diam antara kekuatan regional, maka Yaman sedang dijadikan zona penetral: cukup stabil untuk bisnis, cukup terpecah untuk tidak pernah menjadi ancaman. Kondisi yang, sekali lagi, ideal bagi Israel.
Menjelang akhir, saya rasa kita perlu berhenti bersikap naif. Perang hari ini jarang dimenangkan oleh yang paling lantang berteriak, tetapi oleh yang paling piawai mengatur gangguan. Dengan mempercepat konflik internal dan fragmentasi wilayah, STC—dengan dukungan UEA—telah menjadi bagian dari mekanisme itu. Mekanisme yang memungkinkan Israel menang tanpa hadir, tanpa bertempur, tanpa disalahkan secara langsung.
Dan mungkin di situlah tragedi Yaman mencapai bentuknya yang paling sunyi. Bukan pada dentuman bom, melainkan pada kesadaran bahwa negeri ini dilemahkan oleh tangan-tangan yang mengaku membawa stabilitas. Bahwa tanpa pernah menyebut satu kata pun tentang Tel Aviv, STC membantu Israel, dan Yaman kembali menjadi ladang tempat kepentingan orang lain tumbuh subur. Kita boleh menolak kesimpulan ini, tetapi realitas di lapangan terus membenarkannya.
