Connect with us

Opini

Ketika Gaza Jadi Arena Perang AS–Rusia

Published

on

Ilustrasi editorial yang menampilkan Gaza sebagai papan catur global. Di satu sisi berdiri blok AS–Israel dan sekutunya, di sisi lain blok Rusia–Cina, sementara Poros Perlawanan muncul sebagai kekuatan ketiga yang menyalakan kobaran api perlawanan. Langit gelap dipenuhi drone dan jet tempur, sementara warga sipil terlihat sebagai bayangan di tengah reruntuhan, menunjukkan bahwa mereka menjadi korban utama permainan kekuatan dunia.

Asap yang menggulung dari reruntuhan Gaza sebenarnya lebih pekat daripada yang terekam kamera. Ia membawa aroma lain—aroma yang tak hanya lahir dari bom dan peluru, tetapi dari perebutan pengaruh global yang bergema dari Washington hingga Moskow. Dan saya rasa, jika kita punya keberanian untuk menyebut realitas apa adanya, maka inilah saatnya berkata: Gaza bukan lagi hanya medan kolonial Israel, bukan lagi hanya panggung perjuangan bangsa yang diusir dari tanahnya sendiri. Gaza, mau tak mau, telah diseret menjadi gelanggang benturan dua blok besar dunia. Inilah Perang AS Rusia di Gaza, sebuah “Perang Dunia III” dalam makna geopolitik: perang kepentingan global yang berlangsung di atas tubuh bangsa kecil yang sejak lama ditinggalkan oleh dunia.

Di tengah hiruk pikuk diplomatik dan ledakan bom, absurditasnya justru terletak pada hal yang paling sunyi: dunia sibuk menata masa depan Gaza tanpa menempatkan Gaza sebagai subjek. Amerika datang dengan rencana besar, lengkap dengan International Stabilization Force—pasukan multinasional yang katanya untuk “mengamankan Gaza,” tetapi di bawah kendali strategis Washington. Mereka menyusun struktur kolonial baru bernama Board of Peace, dipimpin Donald Trump dan tokoh-tokoh Barat, yang akan menentukan kapan Palestina dianggap “layak” memerintah negerinya sendiri. Ironi, bukan? Penjajah menentukan kapan yang terjajah siap memimpin.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Di sisi lain, Rusia mendadak tampil sebagai penantang gagah, seolah ingin mengembalikan keadilan dunia. Padahal, jika dibongkar lapisan satu per satu, posisi Rusia tak sepenuhnya tentang solidaritas. Draft resolusi yang mereka ajukan memang menolak Board of Peace dan ingin membawa isu Gaza kembali ke pangkuan PBB. Mereka juga menolak desain politik AS yang terlalu menguasai. Tetapi Rusia bukan tanpa agenda. Mereka ingin memastikan bahwa Perang AS Rusia di Gaza menjadi ajang mereka menegosiasikan ulang posisi global, terutama setelah bertahun-tahun ditekan Barat. Mereka ingin menunjukkan bahwa Washington bukan satu-satunya yang berhak mengatur Timur Tengah.

Di tengah perseteruan dua raksasa ini, ada pemain ketiga yang sering disalahpahami dunia luar: Poros Perlawanan. Mereka hadir bukan sebagai pion kedua blok tersebut, melainkan sebagai kekuatan otonom yang memiliki agenda sendiri—agenda yang kembali ke akar konfliknya: mengakhiri kolonialisme Israel. Dan meski narasi global ingin menghapus mereka dari peta politik Gaza, realitas bersikeras berbicara lain. Hamas masih memiliki kekuatan signifikan di lapangan. Jihad Islami Palestina tetap beroperasi. Hizbullah tak pernah hilang dari persamaan. Iran memainkan peran sebagai pemasok logistik dan strategi. Mereka bukan sekadar “aktor lokal,” melainkan jaringan regional yang telah menahan laju ambisi Israel selama dua dekade terakhir.

Itulah sebabnya Perang AS Rusia di Gaza menjadi begitu rumit. Ada tiga kekuatan besar: AS dan sekutunya, Rusia dan sekutunya, serta Poros Perlawanan. Masing-masing punya logika, dan tidak satu pun masuk dalam definisi “baik” versus “jahat.” Dan ketika semua kekuatan itu berkumpul di satu titik kecil bernama Gaza, dunia menjadi semakin absurd.

Saya teringat satu percakapan yang viral beberapa tahun lalu antara seorang jurnalis Palestina dan diplomat Barat. Ketika sang diplomat berkata bahwa Gaza butuh “stabilisasi,” sang jurnalis menjawab tenang: “Anda ingin menstabilkan apa yang Anda hancurkan?” Itulah kritik terdalam terhadap proyek-proyek keamanan ala Washington. International Stabilization Force bukan tentang stabilitas, melainkan tentang mengatur ulang Gaza agar sesuai dengan kebutuhan geopolitik AS dan Israel. Agar Gaza tidak kembali menjadi basis perlawanan. Agar Gaza terkendali secara demografis, militer, dan politik. Agar Gaza menjadi “pasar tenang” bagi stabilitas kawasan yang menguntungkan sekutu-sekutu AS.

Sementara itu, Rusia memainkan peran seperti orang yang berdiri di tengah kebakaran lalu berkata, “Matikan apinya dengan cara saya.” Mereka menolak Board of Peace bukan karena kolonial, tetapi karena itu berarti kemenangan absolut AS. Mereka mem-PBB-kan isu Gaza bukan karena percaya pada hukum internasional, tetapi karena PBB adalah arena yang memberi mereka hak veto. Dengan memindahkan permainan ke Dewan Keamanan, Rusia mendapatkan kembali panggung. Dan China pun berdiri di belakangnya, melihat ini sebagai peluang emas untuk menahan ekspansi AS di kawasan yang selama ini menjadi jalur vital Belt and Road.

Gaza pun berubah menjadi medan yang diperebutkan seperti bidak catur. Bukan lagi karena nilai moralnya, bukan karena hak dasar rakyatnya, tetapi karena posisinya sebagai simpul geopolitik. Inilah alasan saya menyebutnya sebagai Perang Dunia III dalam makna geopolitik. Bukan tentang tank melintasi benua, tetapi tentang hegemoni global yang bertarung melalui perang proksi, tekanan diplomatik, resolusi tandingan, sanksi ekonomi, dan pasukan multinasional. Gaza menjadi lokasi benturan, bukan karena memilihnya, tetapi karena dibiarkan sendirian terlalu lama.

Namun, mari tidak terkecoh. Di antara perang narasi Amerika dan Rusia, Poros Perlawanan tetap menjadi satu-satunya aktor yang beroperasi berdasarkan tujuan yang berakar pada tanah itu sendiri. Mereka tidak menuntut panggung global. Mereka tidak meminta legitimasi Dewan Keamanan. Mereka tidak menunggu restu Washington atau Moskow. Mereka berperang untuk tanah, bukan untuk pengaruh. Dan meskipun dunia Barat mencoba menulis ulang sejarah mereka sebagai aktor yang mengganggu stabilitas, faktanya: tanpa mereka, Gaza sudah lama hilang dari peta politik. Para pengamat yang jujur tahu itu.

Saya yakin, kita semua bisa merasakan sesuatu yang mengganjal di sini. Ketika AS menawarkan ISF, yang mereka tawarkan bukan bantuan. Itu manajemen konflik. Ketika Rusia menawarkan draft tandingan, yang mereka tawarkan bukan keadilan. Itu strategi kontra-hegemoni. Dan ketika Poros Perlawanan memasuki palagan, mereka membawa suara yang sebenarnya paling dekat dengan inti persoalan: hak rakyat Palestina atas tanahnya.

Masyarakat perlu tercerahkan bahwa Perang AS Rusia di Gaza bukanlah perang yang tiba-tiba meledak begitu saja. Ini adalah produk panjang dari dunia yang membiarkan Israel beroperasi tanpa batas. Produk dari dunia yang menunda keadilan hingga terlambat. Dan kini ketika Gaza hancur, semua pihak berlomba-lomba “mengatur ulang” seolah-olah mereka datang membawa kebenaran.

Pada akhirnya, saya tidak ingin pembaca keluar dari tulisan ini dengan putus asa. Saya ingin pembaca keluar dengan kesadaran baru: bahwa dunia sedang berubah, bahwa Gaza bukan lagi “konflik lokal,” bahwa benturan global ini akan menentukan wajah politik internasional selama puluhan tahun ke depan. Dan yang paling penting: bahwa kita tidak boleh melupakan aktor yang selama ini paling dilupakan—rakyat Gaza sendiri, yang tubuhnya menjadi catatan kaki bagi ambisi global.

Perang Dunia III mungkin tidak diumumkan di koran. Ia juga tidak dimulai dengan serangan besar. Ia bermula dari satu tempat yang dianggap kecil namun bernilai strategis: Gaza. Di sanalah AS dan Rusia mengadu visi dunia mereka. Di sanalah Poros Perlawanan menolak tunduk. Dan di sanalah sejarah dunia menulis bab pertamanya dalam senyap.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer