Connect with us

Opini

Bayang-Bayang CIA di Atas Langit Caracas

Published

on

Symbolic illustration of Venezuela’s struggle for sovereignty under CIA’s shadow.

Di sebuah pagi yang lembap di Caracas, suara sirene dan langkah sepatu bot berpadu dengan nyanyian burung yang tersisa di taman-taman kota. Udara seolah berat, seakan setiap partikel debu di sana membawa memori tentang kudeta, tentang konspirasi, tentang suara helikopter yang dulu—di tahun 1973—membawa maut ke istana La Moneda di Santiago. Empat puluh tahun lebih telah berlalu, tapi sejarah di Amerika Latin rupanya tidak berjalan lurus. Ia berputar, kembali, berulang, seperti luka yang menolak sembuh. Dan kali ini, giliran Venezuela yang menegakkan perisai, menyiapkan rakyatnya untuk perang yang entah datang dari mana, tapi selalu terasa dekat.

Presiden Nicolás Maduro berdiri di depan kamera VTV, dengan nada suara yang bergetar antara kebanggaan dan ancaman. Ia menandatangani undang-undang baru: Comprehensive Homeland Defense Command. Satu perintah untuk menyatukan militer, polisi, dan warga sipil di bawah satu komando. Ia menyebutnya “persatuan rakyat dan tentara.” Sebuah konsep yang bagi sebagian orang terdengar seperti patriotisme, tapi bagi sebagian lain, seperti gema dari masa lalu yang suram—masa ketika “persatuan” berarti diam, dan “pertahanan” berarti pengawasan. Namun, dalam bayang-bayang kapal perang Amerika di Karibia, siapa yang berani menyebutnya berlebihan?

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Maduro, tentu, tahu betul betapa panjang tangan CIA. Ia menyebutnya dengan nama dan sejarah. Dari Republik Dominika hingga Brasil, dari Nicaragua hingga Chile. Ia tahu bagaimana satu negara bisa diruntuhkan bukan hanya oleh peluru, tapi oleh narasi: “melawan komunisme,” “menyelamatkan demokrasi,” atau “menghentikan narkotika.” Kata-kata yang manis seperti madu, tapi di dalamnya selalu ada racun. Seperti yang ia katakan di Cagua: “Pertama mereka menodai Chávez, lalu menodai saya; dengan itu mereka membenarkan apapun terhadap negara kami.” Kalimat itu mungkin terdengar defensif, tapi juga jujur. Sebab di Amerika Latin, tidak ada yang sepenuhnya paranoia ketika bicara soal CIA.

Saya rasa, inilah yang membuat langkah Maduro begitu paradoksal. Ia adalah korban dan pewaris sekaligus. Korban dari sistem global yang menempatkan negerinya sebagai halaman belakang kekuasaan Amerika, tapi juga pewaris dari kebiasaan lama pemimpin Amerika Latin: menanggapi ancaman luar dengan membangun benteng dalam. Benteng yang kadang lebih menakutkan bagi rakyatnya sendiri daripada musuh di luar sana. Bukankah begitu cara sejarah bekerja di sini? Dengan ironi yang kejam—di mana pertahanan selalu datang bersama represi, dan kedaulatan sering harus dibayar dengan kebebasan.

Tapi mari jujur: Amerika Serikat memang tak pernah benar-benar meninggalkan kebiasaannya. Di akhir 2025, kapal-kapal perang mereka berlabuh di Karibia dengan alasan yang klasik: pemberantasan narkoba. Operasi demi operasi, sementara media di Washington menulis tentang “rezim Maduro” dengan nada moralistis yang hampir religius. Bahkan, NBC sempat melaporkan bahwa Pentagon tengah mempertimbangkan “serangan langsung ke target di Venezuela.” Ini bukan rumor pinggir jalan—ini suara resmi, ditulis dengan bahasa dingin birokrasi. Trump menambahkan bumbu dengan ancaman verbal: “hari-hari Maduro tinggal menghitung.” Dan seperti biasanya, ancaman Amerika datang bukan dengan peluru dulu, tapi dengan pasar keuangan. Yield obligasi Venezuela melonjak; ketakutan investor menjadi senjata yang lebih halus dari artileri.

Maduro membalas dengan simbolisme. Ia menempatkan tentara di stasiun bahan bakar, penjaga bersenjata di jaringan air, polisi di pusat distribusi pangan. Ia menciptakan teater pertahanan nasional, di mana seluruh rakyat menjadi pemain figuran dalam drama besar bernama “kedaulatan.” Apakah ini salah? Tidak sepenuhnya. Sebab ketika sejarah telah membuktikan bahwa negara-negara seperti Chile, Nicaragua, atau Bolivia bisa digulingkan bukan oleh rakyatnya, tapi oleh tangan-tangan asing yang tersembunyi, maka sedikit paranoia tampak masuk akal. Tapi masalahnya, paranoia yang dibiarkan tumbuh selalu mencari musuh baru—dan sering kali, musuh itu adalah rakyatnya sendiri.

Ironi itu nyata. CIA yang dulu beroperasi di hutan-hutan Amerika Tengah kini hidup sebagai bayangan di setiap kebijakan pertahanan. Ia tidak perlu hadir secara fisik; cukup dengan ancaman, dengan rumor, dengan satu laporan media yang menyebut “Maduro terancam.” Bayangan itu menjalar ke dalam nalar politik Venezuela, menjadi alasan untuk memusatkan kekuasaan, menyingkirkan kritik, menutup ruang dissent. Dan di sinilah absurditasnya: untuk melawan dominasi asing, Venezuela malah memperkuat dominasi internal. Sebuah lingkaran setan yang telah kita lihat terlalu sering di dunia selatan.

Namun, siapa yang bisa menyalahkan mereka sepenuhnya? Amerika Latin memang seperti laboratorium bagi eksperimen geopolitik Barat. Dari Operation Condor hingga Iran-Contra, dari perang ideologi hingga ekonomi sanksi. Dan setiap kali seorang pemimpin kiri bangkit dengan janji kemandirian, Washington merasa terganggu. Mereka memanggilnya “populisme,” menuduhnya “otoritarian,” lalu mengirimkan embargo atau pasukan. Ketika ekonomi hancur, mereka berkata, “lihat, sosialisme gagal.” Begitu terus. Seperti siklus langit dan hujan.

Maduro, dalam caranya yang kasar tapi jujur, mencoba keluar dari siklus itu. Ia membentuk sistem pertahanan nasional sebagai tameng. Tapi saya curiga, yang ia lawan bukan hanya Amerika, melainkan rasa tidak berdaya yang diwariskan sejarah. Ia ingin menunjukkan bahwa Venezuela tidak akan menjadi Chile kedua, bahwa tidak akan ada lagi Allende yang jatuh ditembak di istana sendiri. Namun di balik tekad itu, tersembunyi ketakutan yang sama: ketakutan kehilangan kendali, kehilangan narasi, kehilangan legitimasi. Maka ia memegang semuanya erat—militer, media, bahkan masyarakat sipil—karena di dunia yang penuh ancaman, siapa yang berani percaya pada kebebasan?

Kita semua tahu rasa itu, meski dalam bentuk yang berbeda. Setiap bangsa yang pernah merasa dijajah membawa semacam trauma diam. Kita belajar curiga sebelum percaya. Kita menutup pintu lebih cepat dari yang perlu. Venezuela, dengan sejarahnya yang panjang, hanya memperlihatkan versi ekstrem dari kecemasan yang sebenarnya universal: ketakutan menjadi lemah di hadapan yang kuat. Bedanya, mereka memiliki kapal perang Amerika di depan pintu rumah.

Pada akhirnya, mungkin yang paling tragis bukanlah ancaman serangan, melainkan bagaimana sebuah bangsa belajar mencintai ketakutannya sendiri. Ketika ancaman luar menjadi alasan untuk bersatu, untuk mempersenjatai rakyat, untuk menghapus perbedaan. Padahal persatuan yang lahir dari rasa takut jarang menghasilkan kebebasan. Ia hanya menunda kehancuran, bukan mencegahnya.

Venezuela kini menjadi cermin yang suram bagi dunia modern. Di satu sisi, ia memperlihatkan keberanian melawan kekuatan besar yang ingin menundukkannya; di sisi lain, ia memperlihatkan bagaimana trauma bisa mengubah pertahanan menjadi penjara. Dan di tengah semua itu, bayangan CIA terus melayang di atas langit Caracas—tak lagi dalam bentuk agen rahasia, tapi dalam ingatan kolektif yang tak mau hilang.

Sejarah, rupanya, tak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berganti seragam.

Sumber:

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer