Opini
Tentara Lebanon yang Menolak Menjadi Pengkhianat
Di selatan Lebanon, malam jatuh pelan seperti luka yang tak kunjung sembuh. Di sebuah pos kecil dekat Hula, seorang prajurit berdiri di bawah langit yang penuh suara dengung drone. Ia bukan sedang menunggu musuh datang, tapi menunggu perintah yang tak pernah ingin ia dengar: perintah untuk menyerbu rumah rakyatnya sendiri. Dunia telah begitu terbalik hingga yang diserang diminta tunduk, yang disiksa diminta bersih-bersih sisa darahnya. Saya rasa, di titik inilah absurditas zaman menemukan bentuknya.
Israel, negara yang dalam satu bulan menewaskan lebih dari empat puluh warga Lebanon dan mengebom rumah-rumah di selatan, kini menuntut Tentara Lebanon (LAF) agar “lebih agresif” dalam memburu senjata milik Hizbullah. Permintaan itu—disampaikan secara halus lewat mekanisme gencatan senjata yang melibatkan Washington, Tel Aviv, dan Paris—sebenarnya bukan ajakan diplomatik. Itu ultimatum terselubung: lakukan seperti yang kami mau, atau hadapi perang baru. Dan di tengah reruntuhan rumah di Hmayri dan Bisariyeh, di mana suara anak-anak lenyap bersama debu, siapa yang masih berani menyebut itu “upaya menjaga stabilitas”?
Yang menakutkan bukan hanya isi permintaannya, tapi cara dunia menerimanya. Semua seolah wajar. Seolah normal bahwa negara penyerang berhak memberi instruksi kepada negara yang diserang. Seolah hukum internasional hanyalah daftar peraturan yang bisa disesuaikan tergantung siapa yang memegang drone. Israel mendesak agar LAF melakukan penggerebekan dari rumah ke rumah, dan sebagian diplomat barat menyebut itu “langkah menuju keamanan regional.” Saya tak tahu keamanan macam apa yang menuntut tentara menodong senjata ke arah warganya sendiri.
Tentara Lebanon menolak. Dengan kalimat sederhana, tanpa pidato besar, tanpa upacara: “Kami tidak akan melakukannya.” Kalimat itu, bagi sebagian orang, mungkin tampak kecil. Tapi bagi sebuah bangsa yang terus diancam, itu adalah bentuk perlawanan yang paling jernih. Karena mematuhi perintah Israel berarti menjadi pengkhianat—bukan hanya pada rakyat, tapi pada makna kedaulatan itu sendiri. Dan mereka tahu, tak ada penghinaan yang lebih besar bagi sebuah negara selain memerangi dirinya sendiri atas instruksi dari luar.
Israel marah, tentu saja. Mereka menuduh Beirut “lamban”, menuding Hizbullah semakin kuat, dan menekan agar AS mengancam perang baru. Washington, seperti biasa, memainkan peran pengabar neraka dengan wajah diplomatik: memberi tahu bahwa jika Lebanon tak bertindak cepat, Israel akan bertindak lebih keras. Sungguh ironis. Negara yang sedang menyerang diberi hak moral untuk memperingatkan, sementara korban diancam akan dihukum jika tak mau membantu penyerangnya. Inilah wajah baru kolonialisme—tak lagi datang dengan tank, tapi dengan surat perintah dan jargon keamanan.
Saya teringat pada pepatah lama yang sering diucapkan dengan getir: “Orang lapar tak butuh pelajaran tentang etika, mereka hanya ingin bertahan.” Lebanon hari ini adalah negara yang lapar—bukan hanya perutnya, tapi juga wibawanya. Krisis ekonomi, ketegangan politik, dan fragmentasi sosial membuatnya rapuh. Di saat seperti itu, tekanan eksternal menjadi alat yang paling efektif. Israel tahu itu. Washington pun tahu. Mereka menekan bukan hanya untuk melucuti Hizbullah, tapi untuk melumpuhkan keberanian politik Lebanon agar negeri itu belajar tunduk.
Namun, ada sesuatu yang masih bertahan: kehormatan prajurit biasa di pos perbatasan. Mereka yang mungkin tak punya seragam baru, tak punya makanan cukup, tapi masih tahu bahwa menuruti perintah Israel adalah garis yang tak boleh dilangkahi. Saya membayangkan mereka berdiri di bawah cahaya lampu redup, menyadari bahwa menolak bisa berarti kehilangan dukungan luar negeri, bahkan mungkin nyawa. Tapi tetap menolak. Karena di dunia yang dikuasai oleh perintah dan ancaman, menolak adalah bentuk tertinggi dari keberanian.
Kita semua tahu, tekanan agar Lebanon menindas rakyatnya sendiri bukan hal baru. Polanya selalu sama: Israel menyerang, lalu meminta dunia mendesak korban agar menertibkan dirinya. Dan ketika korban menolak, mereka dicap keras kepala, ekstrem, atau bahkan pengacau perdamaian. Narasi semacam ini mengingatkan saya pada hubungan antara tuan dan pembantu yang sedang dibalikkan logikanya: si tuan mengacak-acak rumah, lalu menyalahkan pembantu karena lantai kotor. Dunia menonton, mengangguk, dan berkata, “Ya, pembantunya memang kurang inisiatif.”
Di sini, absurditas berubah menjadi rutinitas. Media internasional menulisnya dengan bahasa yang steril: “Israel urges Lebanese army to disarm militants.” Urges. Sebuah kata yang tampak sopan, seperti saran dalam rapat bisnis, padahal di baliknya ada ancaman rudal dan drone. Kata-kata memang punya kekuatan ajaib untuk menyembunyikan kekejaman. Dunia modern tahu cara membuat penjajahan terdengar profesional.
Tetapi, yang membuat tulisan ini penting bukan sekadar karena Israel menekan Lebanon. Yang lebih penting adalah keberanian LAF untuk berkata tidak, di saat sebagian besar dunia Arab sudah terbiasa berkata ya. Di era ketika normalisasi dengan Israel dianggap tiket menuju “kemajuan,” keputusan kecil untuk menolak perintah bisa jadi tindakan paling subversif. LAF mungkin tak punya kekuatan untuk menghentikan drone, tapi mereka punya kuasa untuk tak menjadi alatnya.
Dalam konteks yang lebih luas, kisah ini sebenarnya adalah potret mini dari dunia saat ini: tatanan global di mana pelaku kekerasan diberi hak untuk mengatur korban. Kita melihatnya di Gaza, di mana Israel mengklaim “hak membela diri” setelah membunuh ribuan warga sipil. Kita melihatnya di Ukraina, di mana negara-negara besar berdebat siapa yang pantas bersenjata dan siapa yang tidak. Dan kini di Lebanon, di mana Israel berperan seperti direktur keamanan yang marah karena bawahannya tak cukup patuh. Dunia terbalik, dan kita semua tampaknya sudah terbiasa berjalan di atas kepalanya sendiri.
Bagi saya, yang paling menyedihkan bukan hanya kematian yang terus bertambah, tetapi juga cara kita kehilangan kemampuan untuk merasa heran. Kita sudah terlalu sering melihat darah hingga lupa bahwa setiap rumah yang diledakkan di Hula adalah dunia kecil yang lenyap. Setiap perintah yang ditolak oleh tentara Lebanon adalah sisa kecil dari kemanusiaan yang masih berdenyut di tengah reruntuhan.
Mungkin di masa depan, mereka yang menolak itu akan dilupakan. Tidak akan masuk buku sejarah, tak akan disebut dalam pidato kenegaraan. Tapi saya yakin, mereka menjaga sesuatu yang lebih besar dari nama mereka sendiri: martabat sebuah bangsa. Karena di antara gemuruh drone dan kebisingan politik global, masih ada suara kecil yang berbisik: Kami tidak akan menjadi pengkhianat.
Dan mungkin, dalam bisikan itulah, Lebanon yang sesungguhnya masih hidup.
