Opini
Siapa di Balik Isu Prabowo Akan ke Israel?
Ada sesuatu yang terasa janggal dari cara berita itu muncul—begitu tiba-tiba, begitu spesifik, dan begitu menarik untuk diklik. “Presiden Indonesia akan tiba di Israel besok,” tulis Times of Israel. Sebuah klaim besar, namun tanpa nama sumber, tanpa pernyataan resmi, tanpa verifikasi. Lalu hanya berselang jam, muncul versi kedua: Prabowo sempat menyetujui rencana kunjungan, tapi membatalkan karena takut reaksi publik. Narasinya seperti skenario yang sudah ditulis rapi untuk satu tujuan: mengguncang persepsi publik Indonesia.
Kita tahu, tidak ada kunjungan itu. Menteri Luar Negeri Sugiono membantah tegas. Pejabat Istana pun memastikan: agenda presiden hanya menghadiri KTT perdamaian Gaza di Mesir. Namun, seperti biasa dalam dunia digital yang penuh perang informasi, bantahan sering kalah cepat dari kebohongan. Yang beredar luas justru rumor, dan tweet misterius dari akun-akun pro-Israel yang menulis, “See you tomorrow, Mr. President 🇮🇱🇺🇸🇮🇩🕊️.”
Pertanyaannya: siapa yang diuntungkan dari semua ini?
Isu ini muncul di saat yang sangat strategis. Hanya beberapa minggu setelah Prabowo menyampaikan pidato di Sidang Umum PBB yang berakhir dengan ucapan “Shalom” dan pernyataannya bahwa Indonesia akan mengakui Israel jika Palestina merdeka. Sebuah kalimat diplomatis, bisa dibaca dalam dua arah—sebagai syarat yang keras bagi Israel, tapi juga bisa dipelintir sebagai sinyal pelunakan dari Jakarta. Dan Israel, yang sedang kehausan pengakuan, tampaknya memilih tafsir kedua.
Maka tak heran jika beberapa hari kemudian billboard bergambar wajah Prabowo muncul di Tel Aviv, disandingkan dengan tokoh-tokoh yang sudah menjalin hubungan dengan Israel. Lalu disusul berita “kunjungan bersejarah”. Polanya terlalu berulang untuk dianggap kebetulan. Israel sedang memainkan kartu lamanya: propaganda normalisasi simbolik.
Strategi itu bekerja dengan logika sederhana—jika tak bisa membuka hubungan diplomatik, buatlah seolah-olah hubungan itu sudah mulai terbuka. Jika tak bisa memaksa negara Muslim mengakui Israel, gunakan tokoh-tokoh yang populer untuk menciptakan ilusi bahwa pengakuan itu tinggal menunggu waktu. Tujuannya bukan sekadar mencari legitimasi, tapi menanam benih keraguan di benak publik: “Mungkin Indonesia juga akan segera berubah.”
Dalam konteks ini, Prabowo hanyalah figur yang “dipinjam citranya”. Israel tahu bahwa di dunia Muslim, terutama Asia Tenggara, nama Indonesia adalah simbol penting. Ia bukan sekadar negara besar, tapi negara yang sejak berdiri menolak kolonialisme dalam bentuk apa pun—termasuk kolonialisme yang kini dijalankan Israel di tanah Palestina. Maka jika simbol itu bisa diguncang, jika opini publik bisa diarahkan bahwa Indonesia sedang melunak, itu sudah merupakan kemenangan psikologis.
Mari lihat pola waktunya. Kabar bohong soal kunjungan itu keluar ketika KTT di Sharm el-Sheikh—forum internasional yang justru menekan Israel agar menghentikan agresinya di Gaza. Prabowo hadir di sana bersama para pemimpin dunia, berbicara tentang perdamaian dan hak rakyat Palestina. Tapi di hari yang sama, media Israel mengalihkan narasi: dari “KTT untuk Gaza” menjadi “kunjungan ke Tel Aviv”. Sebuah pengalihan isu yang cerdik, karena menggeser posisi moral dari membela Palestina menjadi “berdialog dengan penjajahnya.”
Dan dampaknya terasa. Di media sosial Indonesia, diskusi tentang solidaritas terhadap Palestina langsung terbelah. Sebagian mulai curiga, sebagian marah, sebagian lagi merasa dikhianati. Padahal, tak ada yang benar-benar terjadi. Inilah kekuatan propaganda modern: menciptakan realitas semu, memanipulasi persepsi publik tanpa perlu tindakan nyata. Hanya butuh satu headline yang tampak kredibel, satu sumber anonim, dan dunia pun percaya.
Kita tahu, politik informasi Israel tidak berdiri sendiri. Ia bekerja dengan jaringan media dan opini global yang sudah lama berpengalaman membentuk narasi pro-Israel, terutama ketika citra mereka jatuh akibat perang di Gaza. Dalam situasi di mana dunia mulai berbalik simpati ke Palestina, menciptakan kesan bahwa negara Muslim terbesar mulai melunak adalah manuver cerdas—dan berbahaya.
Tapi tentu saja, publik Indonesia bukan penonton pasif. Kita tumbuh dengan kesadaran historis tentang penjajahan, dengan memori panjang tentang bagaimana bangsa ini menolak segala bentuk penindasan. Dukungan terhadap Palestina bukan sekadar politik luar negeri, tapi bagian dari identitas moral kita. Itulah yang membuat propaganda semacam ini sulit menembus tembok kesadaran publik. Namun bukan berarti kita boleh lengah.
Isu ini mengajarkan bahwa perang modern tak selalu berlangsung di medan tempur. Ia bisa muncul dalam bentuk perang makna, perang persepsi, perang narasi. Dan sayangnya, media internasional sering menjadi senjatanya. Maka tugas kita bukan sekadar membantah, tapi membongkar—menganalisis bagaimana opini dibentuk, oleh siapa, dan untuk tujuan apa.
Saya rasa, rakyat Indonesia perlu memandang isu ini bukan sebagai urusan Prabowo semata, tetapi sebagai ujian kecerdasan kolektif kita dalam membaca arah permainan geopolitik. Apakah kita mudah terpancing emosi ketika narasi semacam ini dilemparkan? Ataukah kita cukup tenang untuk melihat bahwa semua ini bagian dari strategi distraction, agar dunia tak lagi fokus pada Gaza, Rafah, dan ribuan korban yang terus berjatuhan?
Propaganda, pada akhirnya, hanya bekerja jika kita mempercayainya. Dan kepercayaan publik adalah wilayah yang paling rentan—terutama di era ketika kebohongan bisa terlihat lebih meyakinkan daripada kebenaran. Maka penting untuk mengembalikan prinsip sederhana: verifikasi sebelum percaya, pikir sebelum menyebar. Karena setiap kali kita bereaksi tanpa berpikir, kita justru menjadi bagian dari permainan yang ingin menjatuhkan martabat bangsa kita sendiri.
Israel sedang kehilangan simpati global, dan Indonesia adalah simbol terakhir dari dunia Muslim yang masih berdiri teguh menolak kolonialisme modern. Maka jangan heran jika berbagai upaya dilakukan untuk menodai konsistensi itu. Tapi sejauh rakyat Indonesia tetap jernih, tetap berpihak pada kemanusiaan dan keadilan, propaganda apa pun tak akan bisa menembus fondasi moral yang sudah kita tanam sejak 1945: bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa—termasuk Palestina.
Sumber:
- https://www.timesofisrael.com/liveblog_entry/indonesias-president-will-arrive-in-israel-tomorrow-source/
- https://www.timesofisrael.com/liveblog_entry/indonesia-president-gave-tepid-okay-for-israel-visit-but-got-cold-feet-once-plan-was-leaked-source/
- https://www.timesofisrael.com/liveblog_entry/indonesian-officials-deny-reports-president-will-visit-israel-tomorrow/
- https://www.antaranews.com/berita/5171421/menlu-ri-bantah-kabar-presiden-prabowo-berencana-kunjungi-israel
