Connect with us

Opini

Revolusi Tanpa Jiwa: Ketika Suriah Ganti Baju, Bukan Nasib

Published

on

A torn Syrian flag (green, white, black with three red stars) over a ruined city, symbolizing the failed revolution.

Di jalan-jalan Homs yang porak-poranda, di reruntuhan rumah yang pernah menyimpan tawa dan harapan, kini hanya ada gema ketakutan yang berpindah wujud. Rezim Bashar al-Assad memang telah jatuh pada 8 Desember 2024, tapi luka Suriah tak ikut tumbang bersamanya. Luka itu justru bertambah dalam, berdarah lagi, seperti tubuh yang dipaksa berlari padahal belum sembuh dari amputasi. Revolusi yang digadang-gadang sebagai awal kebebasan kini lebih mirip pergantian kostum dalam sandiwara panjang yang tak kunjung usai—aktor baru, naskah lama, penderitaan yang tetap abadi.

Kita semua tahu, setiap revolusi menjanjikan sesuatu: perubahan, keadilan, kehidupan yang lebih baik. Namun apa jadinya jika revolusi hanya mengganti bendera tanpa mengganti watak kekuasaan? Data dari Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) berbicara tanpa retorika: 1.237 orang terbunuh hanya dalam kurun waktu antara kejatuhan Assad hingga Oktober 2025. Dari jumlah itu, 1.182 di antaranya laki-laki, 34 perempuan, 21 anak-anak. Mereka mati bukan di medan perang, tapi di jalan, di rumah, di desa mereka sendiri—karena salah marga, salah sekte, atau salah ingatan tentang masa lalu.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Ironi ini memukul keras: rezim yang konon tumbang karena dianggap menindas rakyat, digantikan oleh kekacauan yang menindas dengan cara lebih sunyi dan brutal. Ahmad al-Sharaa, pemimpin baru yang disebut-sebut sebagai simbol revolusi, tampak seperti bayangan yang berjalan di atas reruntuhan legitimasi. Pemilu perdana Suriah yang digelar 5 Oktober 2025 seharusnya menjadi tonggak sejarah. Namun alih-alih menjadi pesta demokrasi, ia justru menyerupai upacara peringatan atas harapan yang telah mati muda.

Di Homs dan Hama—dua kota yang dulu menjadi simbol perlawanan rakyat—angka pembunuhan sektarian mencapai ratusan. SOHR mencatat, hanya di Hama, 193 dari 284 korban tewas terkait kekerasan sektarian. Di Homs, 257 dari 390 korban. Angka-angka itu bukan sekadar statistik; ia adalah epitaf bagi revolusi yang kehilangan arah. Rakyat yang dulu berjuang untuk kebebasan kini saling mencurigai, saling menghabisi.

Saya rasa inilah paradoks paling pahit dalam sejarah modern Timur Tengah: setelah menggulingkan tirani, rakyat Suriah justru terjebak dalam tirani yang tak bernama. Kekuasaan baru tampaknya lebih sibuk membuktikan eksistensinya daripada memulihkan bangsa. Ahmad al-Sharaa mungkin berbicara tentang rekonsiliasi, tapi darah yang mengalir di jalan-jalan Tartus dan Latakia membantahnya tanpa kata.

Dan ketika dunia menatap Suriah dengan rasa lelah, Zionis justru menembus batas negara itu tanpa perlawanan berarti. Dalam beberapa bulan terakhir, pasukan Israel berkali-kali menyusup ke wilayah Quneitra dan Daraa, menembak warga sipil, bahkan menahan penduduk lokal, seolah-olah negeri itu bukan lagi punya penjaga. Apa yang dilakukan pemerintah baru Suriah? Hampir tak terdengar apa pun. Sebuah negara yang baru merdeka dari penindasan kini membiarkan dirinya diinjak lagi oleh kekuatan asing. Ini bukan sekadar kelemahan politik—ini kehilangan jiwa kebangsaan.

Revolusi, seperti halnya cinta, membutuhkan arah moral. Tanpanya, ia hanya menjadi letupan amarah tanpa makna. Apa gunanya menggulingkan Assad jika kekerasan tetap berdaulat, hanya berganti jubah dan wajah? Apa gunanya pemilu jika hasilnya adalah pemerintahan yang membiarkan dendam mengatur nasib rakyatnya? Ahmad al-Sharaa mungkin dianggap simbol transisi, tapi transisi macam apa yang diukur dengan jumlah mayat, bukan kesejahteraan?

Jika dibandingkan dengan era Assad, ini mungkin terasa getir untuk diakui: stabilitas yang menindas tampak lebih “teratur” daripada kebebasan yang berlumur darah. Di bawah Assad, rakyat hidup dalam ketakutan yang terstruktur. Kini, mereka hidup dalam ketakutan yang acak, yang bisa datang dari siapa saja, kapan saja. Dulu mereka tahu siapa musuhnya; kini mereka tak tahu siapa yang akan menikam dari belakang.

Mungkin inilah tragedi terdalam Suriah hari ini: rakyatnya dipaksa belajar bahwa kejatuhan rezim bukanlah akhir dari penderitaan, melainkan awal dari kekacauan yang lebih sunyi. Di kota-kota seperti Latakia dan Tartus, banyak keluarga hidup tanpa alamat pasti karena harus berpindah setiap kali muncul rumor pembalasan. Di Aleppo, anak-anak bermain di antara reruntuhan tanpa sekolah dan tanpa masa depan. Ketika rasa takut menjadi bahasa sehari-hari, revolusi kehilangan maknanya. Apa artinya kebebasan jika tak ada rasa aman untuk tidur di malam hari? Apa gunanya demokrasi jika suara rakyat hanya bergema di ruang kosong tanpa telinga yang mau mendengar?

Ada semacam pelajaran universal dari tragedi Suriah hari ini. Bahwa revolusi tanpa etika hanya menghasilkan kehancuran baru. Bahwa mengganti pemimpin tanpa mengganti cara berpikir hanyalah menyapu debu dari meja yang masih retak. Bahwa kebebasan yang tidak disertai tanggung jawab bisa menjadi senjata paling mematikan.

Kita di Indonesia mungkin tak mengalami perang saudara, tapi kita bisa belajar dari absurditas Suriah. Ketika politik kehilangan nurani, kekuasaan menjadi lingkaran setan: menindas atau ditindas, menguasai atau dikuasai. Kita sering bicara soal demokrasi, tapi demokrasi tanpa kesadaran sosial hanyalah formalitas kosong, seperti pemilu Suriah yang disambut dengan darah, bukan pesta.

Saya tidak tahu apakah Ahmad al-Sharaa sadar bahwa rakyatnya kini hidup dalam ketakutan yang lebih sunyi. Mungkin ia tahu, tapi memilih diam. Mungkin ia tak berdaya di tengah kepungan milisi, kelompok sektarian, dan sisa-sisa jaringan lama yang belum benar-benar mati. Tapi diam, dalam konteks ini, sama artinya dengan bersekongkol.

Di akhir hari, Suriah kini tampak seperti cermin retak dari cita-cita revolusi Arab yang lain. Ia mencerminkan apa yang terjadi ketika kemarahan menggantikan visi, ketika politik balas dendam menenggelamkan politik kemanusiaan. Revolusi tanpa jiwa bukanlah kemenangan rakyat, tapi reruntuhan baru bagi generasi berikutnya.

Dan entah mengapa, di balik semua tragedi itu, dunia tampak tenang-tenang saja.

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Amerika Bersekutu dengan Mantan Komandan ISIS di Suriah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer