Opini
Israel dan Ilusi Monarki di Tanah Persia
“Israel sedang melancarkan kampanye propaganda digital berskala besar untuk mempromosikan pemulihan monarki Persia di Iran, Haaretz melaporkan pada 3 Oktober”
Berita itu menampar kesadaran kita bahwa di tengah perang yang semakin brutal di Gaza, di saat ribuan manusia jadi korban ambisi kolonial, Israel masih sempat melancarkan operasi maya untuk memoles wajah seorang pangeran buangan. Seorang pangeran yang bahkan di tanah kelahirannya tak lebih dari bayang-bayang masa lalu. Bukankah ini ironis? Bukankah ini menyingkap absurditas sebuah rezim yang merasa dirinya modern tapi justru bertumpu pada nostalgia usang?
Saya rasa, kita semua tahu bahwa musuh utama Israel bukanlah bangsa Iran. Bukan rakyat dengan segala keragaman aspirasi dan keresahannya. Yang dibidik adalah Republik Islam Iran, sistem politik yang lahir dari Revolusi 1979 dan sejak itu menjadi duri dalam daging bagi proyek kolonial zionis. Dan karena serangan militer penuh ke Iran nyaris mustahil dilakukan tanpa risiko kiamat regional, maka propaganda digital jadi pilihan. Lebih murah, lebih sunyi, tapi tak kalah licik.
Mari kita lihat apa yang dimainkan. Fake akun di X dan Instagram. Video buatan AI yang menggambarkan Netanyahu, Gamliel, dan Reza Pahlavi berjalan gagah di jalanan Teheran. Tagar #KingRezaPahlavi disebarkan seolah-olah ada kerinduan massal terhadap monarki. Bahkan konten sudah disiapkan untuk mendahului serangan ke Penjara Evin pada Juni lalu. Betapa detail, betapa sistematis. Dan betapa sinis, karena yang dijual bukan sekadar wacana, melainkan ilusi bahwa Iran bisa kembali seperti 50 tahun lalu.
Tapi siapa sebenarnya Reza Pahlavi ini? Seorang pangeran yang sejak muda hidup di pengasingan, yang sesekali tampil di konferensi diaspora, namun di tanah airnya jarang sekali disebut kecuali dalam nada sinis. Ia tidak punya massa riil. Ia tidak punya legitimasi politik. Monarki yang pernah membesarkannya dikenang justru karena represi, korupsi, dan ketergantungan pada Barat. Jadi ketika Israel memolesnya sebagai simbol “Iran baru”, yang mereka tawarkan bukanlah harapan, melainkan nostalgia cacat. Nostalgia yang menolak mati karena berguna bagi propaganda.
Ada ironi lain. Upaya ini bukannya melemahkan, justru sering menguatkan. Serangan Israel ke Iran Juni lalu malah memantik gelombang nasionalisme. Mereka yang tadinya mengkritik pemerintah pun, dalam kondisi diserang asing, cenderung bersatu. Inilah logika pertahanan diri bangsa mana pun. Sama seperti kita di Indonesia: sebanyak apa pun masalah dalam negeri, bila ada agresi luar, maka solidaritas akan menebal. Israel tampaknya lupa bahwa serangan eksternal kerap memperkuat internal musuh.
Saya teringat ungkapan lama: “musuh dari luar adalah hadiah bagi penguasa dari dalam.” Begitulah kira-kira dampak propaganda ini. Alih-alih melemahkan Republik Islam, justru memberi mereka bahan bakar untuk menguatkan narasi bahwa Barat memang berniat menjadikan Iran kembali menjadi bonekanya. Bukankah ini konfirmasi yang sempurna terhadap ucapan Ayatollah Ali Khamenei selama ini? Dan ketika narasi itu menyatu dengan realitas serangan dan propaganda, maka rakyat lebih mudah percaya, lebih mudah memaafkan kelemahan pemerintah, lebih mudah bersatu melawan musuh eksternal.
Israel ingin membawa Iran kembali ke masa Shah karena di masa itu Iran adalah sekutu, pemasok minyak, bahkan mitra intelijen. Shah Pahlavi adalah simbol stabilitas semu yang pro-Israel dan pro-Barat. Tetapi stabilitas itu runtuh oleh gelombang revolusi rakyatnya sendiri. Kini, upaya menghidupkan monarki tak ubahnya menghidupkan fosil. Boleh jadi Israel berharap bisa menipu publik global, mencitrakan bahwa ada alternatif yang modern dan demokratis. Padahal, yang mereka jual hanyalah ilusi masa lalu yang penuh luka.
Bila dianalogikan, ini seperti seseorang yang gagal menghadapi kenyataan lalu sibuk meromantisasi foto lama. Foto lama itu terus dipajang, diwarnai ulang dengan teknologi terbaru, diberi filter agar tampak segar. Tapi rakyat Iran, yang merasakan pahitnya masa monarki, tentu tahu mana foto dan mana kenyataan. Mereka tidak mudah terperdaya hanya oleh gambar buatan AI atau akun anonim di media sosial. Mereka mungkin muak dengan kondisi ekonomi atau represi politik, tapi tidak berarti ingin kembali ke monarki. Bagi banyak orang Iran, itu pilihan paling absurd.
Kita pun bisa merasakan absurditas itu. Bayangkan jika ada kekuatan asing yang tiba-tiba melancarkan propaganda agar Indonesia kembali ke era kolonial Belanda, lengkap dengan visual-visual nostalgia tentang “kemajuan” Batavia. Apakah kita akan percaya? Atau justru marah, karena sejarah luka dibelokkan demi kepentingan asing? Saya rasa jawabannya jelas. Dan itu pula yang dirasakan rakyat Iran.
Maka, pertanyaannya: apakah strategi Israel ini berhasil? Sejauh ini, tanda-tandanya tidak. Kampanye digital bisa menghasilkan gaduh sesaat, tapi tidak bisa menanam akar dalam kesadaran rakyat. Yang lebih mungkin terjadi adalah efek bumerang. Karena setiap kali propaganda itu terbongkar, setiap kali rakyat melihat jelas campur tangan asing, mereka akan semakin yakin bahwa Republik Islam—betapapun cacatnya—tetap lebih pantas dipertahankan daripada monarki buatan luar negeri.
Saya rasa, inilah absurditas yang harus kita tangkap. Bahwa di abad 21, perang tidak hanya terjadi dengan rudal dan drone, tapi juga dengan avatar, meme, dan video buatan AI. Namun, tidak semua ilusi bisa menipu selamanya. Ada ingatan kolektif, ada luka sejarah, ada nasionalisme yang justru bisa tumbuh subur ketika diserang. Israel boleh saja terus menghidupkan bayangan Shah, tapi rakyat Iran sudah terlalu jauh berjalan untuk kembali ke masa lalu. Dan di situlah letak kegagalan propaganda ini: berusaha menjual masa silam sebagai masa depan.

Pingback: Propaganda Israel Rp51 Miliar di Gereja Amerika