Opini
Keberanian Pedro Menantang Amerika Demi Palestina
Hujan gerimis di New York malam itu bukan sekadar cuaca. Ia seperti tirai tipis yang menutupi panggung ironi: dunia berkumpul di gedung PBB, mengulang mantera diplomasi, sementara di luar, darah masih mengalir di Gaza. Di tengah hiruk pikuk itu, seorang presiden dari Amerika Latin berdiri di jalan, bukan di podium emas, melainkan di antara massa pro-Palestina yang menggigil. Presiden Kolombia, Gustavo Petro—yang oleh banyak orang kini disebut Pedro—memegang megafon dan, dengan suara yang mengiris dingin, meminta sesuatu yang hampir tak terbayangkan: agar tentara Amerika Serikat menolak perintah presidennya sendiri, Donald Trump, dan memilih “perintah kemanusiaan.” Saya rasa kita semua tahu, ini bukan sekadar pidato. Ini api yang dilempar ke tengah ladang kering.
Washington bereaksi secepat kilat. Visa Petro dicabut, diumumkan di media sosial dengan nada dingin: “reckless and incendiary.” Sungguh ironis. Amerika, yang selama puluhan tahun mengirim pasukan dan membentuk koalisi internasional—coalition of the willing—atas nama demokrasi dan kemanusiaan, kini terperanjat ketika seorang presiden dari belahan dunia selatan menyerukan “World Salvation Army” untuk membebaskan Palestina. Tidakkah absurditas ini begitu gamblang? Ketika pasukan gabungan dikomando Washington, itu “menjaga perdamaian.” Tapi ketika seorang pemimpin Latin meminta hal serupa untuk menghentikan genosida, itu disebut ancaman.
Petro tak peduli. “I arrived in Bogotá. I no longer have a visa to travel to the USA. I don’t care,” ujarnya setiba di tanah air. Nada datar, tapi maknanya tajam. Seperti anak panah yang menembus lapisan kemunafikan global. Di sini keberanian Pedro terasa nyata: bukan sekadar retorika di podium, tetapi keputusan sadar untuk menantang negara yang selama puluhan tahun menjadi mitra dagang terbesar Kolombia dan pemasok utama bantuan militernya. Kita bicara tentang keberanian seorang pemimpin yang tahu konsekuensinya—sanksi ekonomi, tekanan diplomatik, bahkan ancaman domestik—namun tetap melangkah.
Mari kita lihat data yang ia suarakan. Lebih dari 65.000 warga Palestina tewas di Gaza, seluruh penduduknya terusir, dan puluhan pakar hukum internasional menyebutnya genosida. Petro tak menutupinya dengan kata “konflik” atau “operasi militer.” Ia menamai apa yang dilihatnya: genosida. Ia juga mengecam serangan rudal AS terhadap kapal-kapal kecil di Karibia yang menewaskan belasan orang miskin, beberapa diduga warga Kolombia sendiri. Bukankah ini cermin yang seharusnya membuat kita, bahkan yang jauh di Indonesia, berkaca? Kita sering bicara tentang kemanusiaan, tapi ketika kebijakan negara adidaya menyasar orang biasa, dunia memilih diam.
Saya teringat percakapan di warung kopi dekat rumah, ketika teman saya bergumam, “Kalau bukan orang besar yang bicara, siapa yang dengar?” Petro membuktikan sebaliknya: bahkan seorang presiden yang negaranya kerap dipandang “mitra junior” bisa mengguncang panggung global jika punya keberanian moral. Kita tahu banyak pemimpin lain mengutuk kekejaman Israel: Afrika Selatan, Bolivia, Brasil. Tetapi mereka berhenti di level diplomasi konvensional. Petro melangkah melampaui garis aman. Di jantung kota New York, ia menantang langsung hegemoni Washington, mengajak tentara Amerika sendiri untuk memilih hati nurani.
Ironi kian kental ketika kita ingat sejarah. Bukankah AS sering memimpin “tentara dunia”—dari Perang Teluk hingga invasi Irak—atas nama keadilan global? Mengapa dunia tidak boleh membentuk kekuatan serupa demi menyelamatkan Palestina? Pertanyaan ini, yang Petro biarkan menggantung di udara, bagaikan tamparan bagi tatanan internasional yang rapuh. Bagi saya, ini bukan sekadar wacana utopis. Ini semacam tes lakmus: apakah kemanusiaan hanya berlaku bila dirumuskan oleh negara-negara besar?
Di Kolombia sendiri, langkah ini bagai petir di siang bolong. Sebagian pengusaha gemetar memikirkan tarif dan embargo, sementara warga biasa melihat kebanggaan baru. Bayangkan di Indonesia, jika seorang presiden kita berdiri di Times Square dan menyerukan hal serupa. Riuhnya pasti lebih besar dari geger bumbu politik lokal. Petro tahu resikonya, tetapi tetap menulis babak baru hubungan Kolombia–AS dengan tinta keberanian.
Tentu, kita boleh sinis: apakah gagasan “World Salvation Army” bisa terwujud? Kemungkinan kecil. Banyak negara Global South akan berhitung. Namun yang penting bukan semata pasukan fisik. Yang penting adalah goyangan narasi. Petro memaksa dunia menatap kemunafikan: Amerika boleh memimpin koalisi senjata, tapi menuding orang lain sebagai penghasut ketika perlawanan muncul dari Selatan. Di sini letak daya ledak keberaniannya.
Bagi kita di Indonesia, keberanian Pedro seharusnya jadi cermin. Kita sering bicara soal politik bebas aktif, soal keberpihakan pada kemanusiaan. Tapi berapa sering kita benar-benar berani menyebut “genosida” ketika kepentingan dagang terancam? Saya rasa pertanyaan itu menyengat, karena jawaban jujurnya jarang menggembirakan. Petro menunjukkan bahwa kebebasan sejati kadang datang dari mulut yang siap menanggung risiko, bukan dari pidato aman yang disetujui semua pihak.
Ketika saya menutup berita malam itu, ada rasa getir sekaligus lega. Getir, karena tragedi Gaza masih berlangsung. Lega, karena di dunia yang sering terasa lumpuh, masih ada pemimpin yang tak gentar menantang kekuasaan terbesar dan berkata: “Obey the orders of humanity.” Barangkali inilah arti keberanian sejati. Bukan kemenangan di medan perang, melainkan keberanian untuk berdiri sendiri, menolak tunduk pada kebisuan yang menindas.
Keberanian Pedro bukan hanya catatan sejarah Amerika Latin. Ia adalah pesan bagi seluruh dunia, termasuk kita: kemanusiaan menuntut suara lantang, bahkan ketika suara itu membuat visa dicabut, pintu ditutup, dan jalan semakin terjal.
Sumber:

Pingback: Kolombia dan Satu Langkah Menuju Poros Perlawanan