Connect with us

Opini

Ketika Pemerintah Lebanon Menikam Hizbullah dari Belakang

Published

on

Ada absurditas yang terlalu telanjang untuk disembunyikan. Di negeri yang kecil dan penuh luka bernama Lebanon, sebuah kelompok yang sudah berkali-kali menahan gempuran Israel, menjaga harga diri bangsa, dan bahkan menopang rakyat di saat negara runtuh, kini dituding sebagai beban. Hizbullah, yang bagi sebagian rakyat adalah penyelamat sejati, dipaksa untuk melucuti senjatanya. Ironi macam apa ini? Bagaimana mungkin sebuah pemerintahan yang pernah diselamatkan oleh keberanian Hizbullah kini justru menikam mereka dari belakang?

Kita masih ingat, di masa lalu, Hizbullah menjadi benteng yang menjaga wilayah selatan Lebanon dari agresi Israel. Amerika Serikat yang selama ini digadang-gadang sebagai “penjaga demokrasi” lebih sering hanya menonton, bahkan terkadang menyokong pihak yang mengoyak Lebanon. Ketika dunia berpura-pura tuli, Hizbullah menancapkan kaki dan mengatakan: negeri ini masih punya harga diri. Apakah itu salah? Ataukah salah jika sebuah kelompok berani menebus kehinaan negara dengan darah dan nyawa mereka sendiri?

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi đź’›

Tetapi Hizbullah bukan hanya soal senjata. Tidak hanya pertempuran di perbatasan. Mereka pernah melakukan sesuatu yang jauh lebih konkret, lebih dekat dengan perut rakyat, lebih nyata daripada jargon pemerintah yang selalu tersendat di meja rapat. Tahun 2021 adalah buktinya. Di tengah krisis ekonomi paling parah dalam sejarah Lebanon, ketika negara benar-benar lumpuh, Hizbullah justru membawa harapan dalam bentuk truk-truk solar yang melintas perbatasan.

Coba bayangkan kembali situasi waktu itu. Negara yang dulu dikenal sebagai “Swiss-nya Timur Tengah” mendadak jatuh ke jurang: nilai pound Lebanon hancur 90 persen, tiga perempat rakyat hidup dalam kemiskinan, listrik hanya menyala beberapa jam sehari. Rumah sakit berada di ambang kematian karena mesin tak lagi bisa beroperasi tanpa bahan bakar. Bahkan roti, makanan paling dasar, menjadi barang langka. Dalam keputusasaan itu, siapa yang datang membawa solusi? Bukan pemerintah. Bukan Amerika Serikat. Bukan Bank Dunia. Jawabannya: Hizbullah.

Dengan segala risiko sanksi, Hizbullah mendatangkan konvoi bahan bakar dari Iran melalui Suriah. Puluhan truk melintasi perbatasan, disambut warga dengan air mata, tembakan kehormatan, taburan beras dan bunga. Bagi sebagian orang, itu bukan sekadar solar. Itu adalah simbol perlawanan terhadap “pengepungan” yang dilakukan oleh kepentingan asing. Itu adalah bukti bahwa di tengah kelumpuhan negara, ada kekuatan yang masih berpihak pada rakyat. Apakah itu sekadar pencitraan politik? Mungkin. Tetapi kita juga tahu, pencitraan pun tak bisa menyalakan generator rumah sakit kalau tidak ada bahan bakar di dalam tangki.

Sayyid Hassan Nasrallah, pemimpin Hizbullah saat itu, bahkan berjanji satu bulan pasokan akan diberikan gratis untuk rumah sakit, panti asuhan, Palang Merah Lebanon, dan lembaga sosial lainnya. Selebihnya dijual dengan harga terjangkau, tanpa laba. Rakyat tahu, itu bukan solusi jangka panjang. Tapi di tengah gelapnya malam yang hanya diterangi lilin, secercah cahaya dari mesin yang kembali menyala adalah penyelamat. Apakah pemerintah Lebanon bisa memberikan hal serupa pada waktu itu? Tidak. Bahkan perjanjian impor bahan bakar dari Irak pun tersendat, sementara rakyat sudah kehabisan nafas.

Saya rasa, banyak orang yang waktu itu berpikir sederhana: “politik itu urusan mereka di atas sana, tapi listrik yang menyala malam ini, itu urusan saya.” Begitu juga dengan roti yang kembali tersedia, atau obat yang bisa tetap disimpan di lemari pendingin rumah sakit. Realitas sehari-hari tidak bisa menunggu konferensi internasional atau kesepakatan IMF yang berliku. Rakyat butuh hidup hari ini, bukan janji besok.

Namun lihatlah sekarang. Setelah Hizbullah melakukan semua itu, setelah mereka menjaga perbatasan, memberi bahan bakar, menopang institusi ketika negara lumpuh, pemerintah Lebanon—atas dorongan Washington—justru mendesak agar senjata mereka diserahkan. Apakah ini bukan pengkhianatan? Bukankah ini sama saja dengan menikam Hizbullah dari belakang, setelah mereka berkali-kali menjadi perisai bangsa?

Lebih parah lagi, tuntutan itu datang bukan dari rakyat, melainkan dari luar negeri. Amerika Serikat, yang sama sekali tidak mengulurkan tangan ketika Lebanon sekarat, kini mendiktekan agenda politik: Hizbullah harus dilucuti. Padahal kita semua tahu, tanpa mereka, siapa yang menjamin desa-desa di selatan tidak kembali jadi abu karena serangan Israel? Siapa yang bisa memastikan rumah sakit tetap berfungsi ketika pemerintah gagal mengimpor bahan bakar? Tentara Lebanon? Pemerintah yang korup? Saya kira jawabannya sudah jelas.

Kondisi ini seperti memaksa pemadam kebakaran untuk menyerahkan selangnya ketika rumah masih terbakar. Atau menyuruh seorang dokter berhenti bekerja hanya karena dia tidak punya izin resmi dari birokrasi. Lebanon masih dikepung krisis, Israel masih melanggar perbatasan, dan sistem politik masih busuk. Dalam kondisi itu, bagaimana mungkin Hizbullah diminta menyerahkan peran yang selama ini justru menjaga negara tetap bernapas?

Tentu, ada yang mengkritik Hizbullah. Mereka menyebut impor bahan bakar Iran itu tidak transparan, sekadar tambal sulam, dan hanya alat politik. Benar, itu bukan solusi menyeluruh. Tapi siapa yang peduli soal teori ekonomi ketika mesin inkubator rumah sakit nyaris mati? Kritik memang penting, tapi jangan sampai kita buta pada fakta bahwa tanpa langkah itu, banyak nyawa akan melayang. Dalam dunia nyata, yang menyelamatkan satu nyawa saja dianggap menyelamatkan seluruh umat.

Sayangnya, logika sederhana ini sering ditelan politik kepentingan. Pemerintah Lebanon seolah lebih peduli pada restu Washington ketimbang pada kebutuhan rakyatnya sendiri. Mereka lupa bahwa sejarah akan mencatat siapa yang benar-benar hadir di masa gelap. Dan saya percaya, rakyat Lebanon tidak mudah lupa. Mereka tahu siapa yang membawa truk-truk bahan bakar di saat negara sendiri menyerah.

Apakah Hizbullah sempurna? Tidak. Apakah mereka tanpa kepentingan politik? Tentu tidak. Tetapi bukankah semua aktor politik punya kepentingan? Bedanya, Hizbullah sudah membuktikan bahwa kepentingan mereka setidaknya tidak bertentangan dengan kebutuhan mendesak rakyat, bahkan sering kali selaras. Dan itu, bagi saya, sudah lebih jujur daripada politisi yang hanya pandai berorasi tanpa tindakan nyata.

Maka, jika pemerintah Lebanon benar-benar nekat melucuti Hizbullah demi menyenangkan Washington, itu bukan sekadar kesalahan strategis. Itu sebuah pengkhianatan. Bukan hanya terhadap Hizbullah, tapi terhadap rakyatnya sendiri. Mereka akan kehilangan perisai di perbatasan, dan juga kehilangan satu-satunya tangan yang mau menyalakan listrik ketika negara tenggelam.

Pada akhirnya, absurditas ini bisa kita rangkum sederhana: Lebanon seperti orang yang membuang payung di tengah hujan, hanya karena ada tetangga kaya yang menyuruh. Padahal, ketika badai datang, tetangga itu hanya akan menonton dari balik jendela. Hizbullah adalah payung itu—lusuh, penuh tambalan, tidak sempurna. Tapi nyata. Dan kalau payung itu benar-benar dibuang, maka jangan salahkan siapa pun ketika Lebanon kembali basah kuyup oleh badai sejarah.

Sumber:

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Lebanon Putuskan Pelucutan Senjata Hizbullah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer