Opini
Zuqar: Panggung Baru Koalisi Arab-Israel Melawan Yaman
Langit Laut Merah tampak tenang, tapi tenang yang penuh tipu daya. Di sebuah pulau kecil bernama Zuqar, sekitar 90 kilometer dari pelabuhan Hodeidah, deru mesin konstruksi terdengar memecah kesunyian. Dari kejauhan, garis panjang aspal hitam terlihat jelas di citra satelit—dua kilometer lebih panjangnya, cukup untuk pesawat tempur lepas landas dan mendarat. Dunia mungkin mengira ini sekadar proyek pembangunan. Tapi bagi siapa pun yang membaca peta politik kawasan, Zuqar adalah tanda: perang belum usai, hanya berganti wajah.
Laporan dari AP menyebut, landasan udara baru itu dibangun oleh Uni Emirat Arab dengan dukungan Israel. Sebuah perusahaan berbasis di Dubai bahkan mengakui menerima pesanan pengiriman aspal ke pulau itu. Secara resmi, proyek ini disebut upaya melawan penyelundupan senjata Ansarallah. Namun di balik alasan klise itu, tersimpan misi yang jauh lebih gamblang—melindungi kepentingan Israel di Laut Merah dari gangguan militer Yaman.
Sejak agresi Israel ke Gaza pecah tahun lalu, Ansarallah tampil bukan sekadar sebagai kelompok lokal, tapi sebagai bagian dari poros perlawanan regional. Mereka meluncurkan rudal dan drone ke wilayah pendudukan, dan yang paling menyakitkan bagi Tel Aviv: blokade Bab al-Mandab. Jalur air sempit yang menghubungkan Laut Merah dan Samudra Hindia itu menjadi urat nadi perdagangan Israel ke Asia. Ketika Ansarallah menutupnya bagi kapal Israel dan kapal yang berhubungan dengan Israel, efeknya mengguncang ekonomi global dan mengancam rantai pasok energi.
Di sinilah absurditasnya: negara-negara Arab yang dulu mengaku menentang penjajahan kini justru berlomba membantu penjajah yang sama. UEA dan Saudi, yang satu dekade lalu membombardir Yaman dengan dalih melawan milisi Iran, kini mengulangi pola yang sama—tapi kali ini untuk melindungi Israel. Koalisi Arab yang dulunya melawan “Houthi” kini menjadi perpanjangan tangan zionis, membangun pangkalan udara bukan untuk rakyat Yaman, tapi untuk memastikan Israel bisa tidur nyenyak.
Kita semua tahu, politik di Teluk selalu dibungkus bahasa eufemistis. Kata “stabilitas” sering berarti pengamanan kepentingan asing. “Kontra-penyelundupan” berarti kontrol penuh atas jalur perdagangan. Dan kini “pembangunan landasan udara” berarti militerisasi demi kepentingan Israel. Di atas kertas, proyek Zuqar terlihat seperti bagian dari upaya regional menjaga keamanan laut. Tapi kenyataannya, ia adalah bagian dari rantai pangkalan militer yang dirancang untuk mengepung Yaman dan mengamankan jalur logistik Israel dari serangan Ansarallah.
UAE dan Israel sudah sejak lama membangun kerja sama militer-intelijen di kawasan. Socotra menjadi laboratorium pengawasan. Assab di Eritrea menjadi basis logistik. Dan kini, Zuqar menjadi batu loncatan. Semua ini membentuk semacam sabuk militer yang menutup ruang gerak Yaman di Laut Merah. Dalam diam, Laut Merah telah berubah menjadi laut penjajahan baru, di mana kepentingan zionis dijaga dengan bendera Arab.
Ironi yang lebih getir: Ansarallah, yang dulu dianggap sekadar kelompok bersenjata lokal, kini justru menjadi satu-satunya kekuatan di dunia Arab yang secara nyata mengancam Israel secara militer. Ketika sebagian negara Arab sibuk menormalisasi hubungan, Yaman justru meluncurkan drone. Ketika negara lain hanya mengirim doa ke Gaza, Yaman menutup jalur kapal Israel di Bab al-Mandab. Mereka bertindak ketika dunia Arab lainnya bungkam. Dan mungkin itulah dosa besar Ansarallah di mata para penguasa Teluk—bukan karena mereka melanggar hukum internasional, tapi karena mereka mengacaukan ketertiban geopolitik yang nyaman bagi para penguasa kaya.
Jika kita melihat peta, posisi Zuqar begitu strategis. Dari sana, pesawat bisa dengan mudah menjangkau pesisir barat Yaman, termasuk Hodeidah—pelabuhan yang menjadi urat nadi ekonomi pemerintahan Sanaa. Bagi Israel, pangkalan ini adalah asuransi. Jika sewaktu-waktu Ansarallah kembali menutup Bab al-Mandab atau meluncurkan rudal, jet tempur bisa terbang dalam hitungan menit. Jadi, meski gencatan senjata diumumkan di Gaza, perang tetap berlanjut di Laut Merah—just on a different front.
Ada hal yang sinis tapi nyata di sini: Yaman yang miskin justru menjadi ancaman paling nyata bagi negara yang mengaku sebagai kekuatan militer paling canggih di Timur Tengah. Rudal buatan tangan, drone rakitan di gudang, dan taktik blokade mereka mampu membuat Israel panik. Dan ketika kekuatan besar panik, mereka tak segan meminta tolong pada para sekutu kaya minyaknya. Maka jadilah Zuqar, bukan pangkalan Arab, tapi pangkalan Arab-Israel.
Sebagian pengamat mungkin akan berkilah bahwa pembangunan ini juga untuk mencegah “penyelundupan senjata Iran” ke Yaman. Tapi narasi ini sudah terlalu usang untuk menutupi motif sebenarnya. Tidak ada kapal Iran yang lewat tanpa terdeteksi radar Amerika. Tidak ada suplai senjata yang bisa menembus blokade tanpa izin koalisi. Yang sebenarnya ingin dicegah bukan senjata dari Iran, tapi semangat perlawanan dari Yaman. Karena perlawanan itu telah menular. Ia menginspirasi rakyat Arab bahwa solidaritas dengan Palestina tidak harus lewat pernyataan diplomatik, tapi lewat aksi nyata.
Kita semua tahu, dalam setiap perang, ada pihak yang menembak dan ada yang menulis pembenaran. Media barat menyebut langkah ini “pembangunan strategis untuk keamanan maritim.” Tapi keamanan bagi siapa? Laut Merah selama ini tenang, kecuali bagi kapal Israel. Tak ada kapal asing lain yang diganggu. Jadi siapa sebenarnya yang sedang dilindungi dari siapa? Ini bukan tentang keamanan laut, tapi tentang keamanan proyek kolonial yang kini sedang diserang dari selatan.
Dan di tengah semua ini, dunia kembali diam. Tidak ada kecaman internasional, tidak ada resolusi PBB, tidak ada peringatan soal kedaulatan Yaman. Negara yang selama sepuluh tahun digempur kini kembali diserang—bukan dengan bom, tapi dengan pembangunan pangkalan yang lebih licik, lebih permanen, dan lebih berbahaya. Karena perang udara bisa berhenti, tapi pangkalan udara adalah luka yang terus terbuka di tubuh Yaman.
Saya rasa, kita sedang menyaksikan bentuk kolonialisme baru yang beroperasi dengan senyum diplomatik. Mereka tidak datang dengan tank, tapi dengan kontraktor dan kapal kargo berisi aspal. Mereka tidak menyebut diri penjajah, tapi “mitra pembangunan.” Dan mereka tidak memakai bendera sendiri—mereka menumpang bendera negara Arab.
Yaman, dengan segala luka dan kehancurannya, justru berdiri paling tegak di tengah reruntuhan moral dunia Arab. Ia berani menentang Israel bukan karena kuat, tapi karena tidak lagi punya apa-apa untuk ditakuti. Di saat negara-negara kaya Teluk berkompetisi siapa paling cepat menormalisasi hubungan dengan zionis, rakyat Yaman justru menormalisasi penderitaan mereka demi Palestina.
Dan mungkin itulah paradoks terbesar zaman ini: yang miskin melawan, yang kaya melayani. Yang lapar berkorban, yang kenyang bersekutu. Di atas aspal Zuqar, sejarah sedang ditulis ulang—dengan bahasa yang sinis dan tinta yang terbuat dari minyak.
Entah sampai kapan dunia menutup mata pada kenyataan ini. Tapi satu hal pasti: setiap pangkalan yang dibangun untuk melindungi Israel adalah paku baru di peti mati kedaulatan Arab. Dan jika suatu hari nanti drone Ansarallah kembali melintas di langit Laut Merah, itu bukan sekadar serangan balasan, melainkan pesan yang tak bisa disensor: bahwa selama masih ada penjajahan, perlawanan tak akan pernah padam.

Pingback: Perang Sunyi: Yaman Mengalahkan Intelijen Dunia