Connect with us

Opini

YouTube dan Kejahatan yang Disembunyikan di Balik Layar

Published

on

Ilustrasi editorial YouTube membungkam kebenaran tentang Gaza.

Ada sesuatu yang menyesakkan ketika sebuah platform yang kita kenal sebagai ruang kebebasan justru menjadi mesin penyensoran yang halus—dingin, dan berwajah algoritmik. YouTube, tempat miliaran manusia menonton, belajar, dan bersuara, kini berubah menjadi tangan tak terlihat yang menghapus jejak kebenaran. Ironinya, semua dilakukan atas nama “kepatuhan kebijakan.” Kata yang terdengar administratif, tapi berfungsi seperti palu sensor yang memukul sunyi suara-suara dari Gaza.

Awalnya saya kira ini hanya kesalahan sistem. Mungkin ada bug, mungkin ada laporan massal. Tapi ternyata tidak sesederhana itu. Tiga lembaga hak asasi manusia Palestina—Al-Haq, Al Mezan, dan PCHR—menjadi korban penghapusan massal. Ratusan video dokumentasi tentang pembunuhan warga sipil, penghancuran rumah, hingga rekaman investigasi atas pembunuhan jurnalis Palestina-Amerika dihapus begitu saja. Tak ada peringatan. Tak ada ruang banding. Semua hilang seperti tak pernah ada. Begitu efisien, begitu sunyi, seperti cara kejahatan modern bekerja: steril dari darah, tapi tetap mematikan.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

YouTube berdalih: mereka hanya mematuhi sanksi pemerintah AS. Alasannya terdengar seperti seorang penjaga toko yang menolak menjual air kepada orang kehausan, karena ada peraturan dari atas. Padahal yang mereka tolak bukan sekadar video, tapi bukti kejahatan perang Israel di Gaza dan Tepi Barat. Bukti yang bisa berbicara lebih keras dari propaganda, yang bisa menelanjangi wajah kekuasaan.

Dan di titik itulah, kita melihat dengan jelas: YouTube bukan lagi netral. Ia telah memilih sisi.

Kita tahu, sejak lama media sosial punya kecenderungan berpihak. Tapi kali ini berbeda. Ini bukan sekadar penghapusan konten yang “tidak pantas,” melainkan penghapusan sejarah. Bayangkan, lebih dari 700 video dokumentasi—setiap detiknya menyimpan cerita, kesaksian, dan rasa sakit—dihapus dalam satu klik, karena mereka berani menyorot wajah penjajahan yang sesungguhnya. Di saat yang sama, video-video yang menampilkan Netanyahu berpidato dengan nada heroik, atau prajurit Israel yang disebut “membela diri” saat menembak anak-anak, tetap dibiarkan beredar.

Lucunya, yang mengunggah kekejaman dianggap ekstremis, tapi yang membenarkan kekejaman dianggap patriot.

Inilah logika dunia digital hari ini: kebenaran bisa dihapus kalau tidak cocok dengan kepentingan politik. Kita hidup di masa di mana teknologi yang seharusnya membebaskan, malah menjadi alat represi paling rapi yang pernah diciptakan manusia. Tak perlu senjata, cukup algoritma. Tak perlu tentara, cukup perintah di balik layar.

Saya rasa, ini bukan lagi tentang “YouTube patuh pada sanksi,” tapi YouTube menjadi bagian dari kejahatan itu sendiri. Karena ketika sebuah perusahaan raksasa tahu bahwa tindakannya akan melindungi pelaku pelanggaran HAM dan menghapus bukti penderitaan korban, lalu tetap melakukannya—itu bukan netralitas, itu kolaborasi.

Yang lebih menakutkan adalah dampaknya terhadap memori kolektif. Setiap video yang dihapus bukan hanya kehilangan visual, tapi juga kehilangan makna. Kita tak lagi bisa menyaksikan wajah-wajah anak di pantai Gaza yang terbunuh oleh rudal, atau mendengar suara ibu yang menangisi keluarganya di antara reruntuhan. Semua itu hilang dari arsip publik, seolah tak pernah terjadi. Inilah cara baru menulis ulang sejarah: bukan dengan pena, tapi dengan algoritma yang patuh pada kekuasaan.

Bagi mereka yang hidup di Palestina, keheningan digital ini lebih menyakitkan daripada bom. Karena selain kehilangan keluarga dan rumah, kini mereka juga kehilangan suara. Sementara itu, di sisi lain dunia, orang-orang menonton video motivasi dari tentara Israel, bertepuk tangan pada narasi keberanian palsu yang disokong mesin propaganda.

Saya tidak tahu apakah YouTube sadar betapa dalam luka yang mereka buat. Tapi saya tahu satu hal: ketika kejahatan disembunyikan dan saksi bisu dibungkam, platform itu telah berpihak pada pelaku. Tidak ada alasan hukum atau politik yang bisa menghapus fakta itu.

Di Indonesia, kita pun sering melihat cermin kecil dari fenomena ini. Ketika opini tentang Palestina diblokir dengan alasan “kekerasan,” tapi konten perang dari pihak yang kuat tetap dibiarkan. Atau ketika kata “perlawanan” dianggap sama dengan “teror.” Seakan-akan membela kemanusiaan adalah kejahatan. Dunia maya kini bukan lagi tempat mencari kebenaran, tapi ladang sensor yang diatur dari balik meja-meja diplomasi.

Sementara itu, para pembuat film dan jurnalis independen seperti Robert Inlakesh—yang berani menyiarkan penembakan warga sipil secara langsung—juga menjadi korban. Akunnya dihapus, emailnya diblokir, bandingnya diabaikan. YouTube bahkan menolak menjelaskan alasan yang konsisten. Tiga alasan berbeda, tiga kebohongan yang sama: menutupi ketakutan mereka terhadap kebenaran.

Dan kita tahu, ketakutan terhadap kebenaran adalah ciri semua kekuasaan yang busuk.

Mungkin inilah bentuk kolonialisme abad ke-21: bukan lagi penguasaan tanah, tapi penguasaan narasi. Bukan lagi penjajahan tubuh, tapi penjajahan makna. Israel menguasai wilayah dengan bom dan tembok, sementara sekutunya di Silicon Valley menguasai dunia dengan server dan kebijakan “kepatuhan.” Dua wajah dari sistem yang sama.

Namun ada hal yang tak bisa mereka hapus: ingatan. Selalu ada salinan, arsip, dan hati yang menolak lupa. Internet Archive, platform alternatif, dan para pengguna yang masih percaya pada keadilan digital menjadi saksi bisu perlawanan baru. Sebuah perlawanan yang tidak membawa senjata, tapi membawa kesadaran bahwa kebebasan informasi adalah bentuk kemanusiaan itu sendiri.

Kita sering diajari untuk percaya bahwa teknologi adalah netral. Bahwa perusahaan seperti Google atau YouTube hanya “penyedia platform.” Tapi ketika mereka menutup suara korban, itu bukan lagi soal bisnis. Itu moral. Dan moral tidak bisa dinegosiasikan dengan kontrak dagang atau sanksi politik.

Saya percaya, di masa depan, dunia akan mengingat hal ini sebagai bagian dari kejahatan yang lebih besar: kejahatan membungkam bukti. Dan saat itu, YouTube tidak akan bisa bersembunyi di balik peraturan. Karena sejarah selalu menemukan caranya sendiri untuk menuntut pertanggungjawaban.

Sampai hari itu tiba, setiap kali saya membuka YouTube dan melihat iklan atau video hiburan lewat begitu saja, saya teringat: di sisi lain server mereka, ada ratusan video tentang Gaza yang telah mereka hapus. Suara-suara yang mereka kubur dalam sunyi.

Dan di situlah absurditas terbesar dari dunia kita hari ini—di tengah seruan “connect the world,” YouTube justru memutuskan yang paling penting dari semua koneksi: koneksi kita dengan kebenaran.

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer