Connect with us

Opini

Wajah Arab di Cermin Gaza: Bersama Penjajah, Bukan Pembebas

Published

on

Ilustrasi simbolik menunjukkan cermin retak yang memantulkan wajah para pemimpin Arab sedang berjabat tangan dengan pejabat Israel dan AS, sementara di sisi lain Gaza hancur berasap.

Gaza baru saja berhenti berasap. Rumah-rumah yang luluh lantak belum sempat dibersihkan dari puing. Anak-anak masih mencari sisa mainan di reruntuhan. Namun sebelum debu benar-benar reda, datang ultimatum baru — bukan dari Tel Aviv, bukan dari Washington, melainkan dari Riyadh, Abu Dhabi, dan Manama. Negara-negara yang selama puluhan tahun berkoar soal solidaritas Arab kini menodong Gaza dengan satu syarat: disarm or die. Sebuah ancaman yang ironis datang dari saudara seiman.

Ada sesuatu yang getir sekaligus menggelikan dalam pernyataan ini. Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, dan Bahrain — tiga negara yang kaya minyak, berlimpah senjata, dan dekat dengan kiblat Islam — kini berdiri di sisi yang sama dengan Israel dan Amerika Serikat dalam mendikte nasib rakyat Palestina. Dalam laporan Israel Hayom, mereka menuntut agar Hamas menyerahkan senjata, mengancam menarik diri dari proses rekonstruksi Gaza, dan menuding kelompok itu sebagai penyebab kehancuran. Betapa mudahnya menyalahkan korban di tengah reruntuhan yang disebabkan oleh penjajah.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Saya rasa kita semua tahu, permainan ini sudah lama dimulai. Dulu, narasinya soal “pembebasan sandera.” Dunia digiring untuk melihat Hamas sebagai penghalang perdamaian. Kini, ketika isu tawanan meredup, fokus tiba-tiba bergeser ke pelucutan senjata. Ini bukan kebetulan. Ini strategi. Perubahan tema ini seperti panggung sandiwara yang berganti naskah tanpa mengubah sutradara. Dan sutradara itu, tentu saja, tetap Washington — dengan Tel Aviv sebagai pemeran utamanya dan Teluk Arab sebagai pemain figuran yang rela membacakan dialog sesuai naskah.

Laporan itu menyebut Riyadh bahkan mengancam berhenti berpartisipasi dalam rekonstruksi Gaza bila Hamas tak dilucuti. Dengan kata lain, bantuan hanya diberikan jika perlawanan dipadamkan. Bantuan bersyarat semacam ini bukanlah solidaritas, melainkan kolonialisme versi halus — menukar roti dengan kehormatan, semen dengan senjata, kehidupan dengan kepatuhan. Di dunia Arab modern, tampaknya kemanusiaan hanya berlaku bila tidak menyinggung kepentingan politik.

Yang lebih menyakitkan adalah tuduhan Saudi bahwa Hamas telah menimbulkan bencana yang “lebih buruk dari Nakba.” Pernyataan ini bukan sekadar salah secara historis, tapi juga menghina memori kolektif bangsa Arab. Nakba bukan sekadar tragedi pengusiran 1948, tetapi luka terbuka yang diwariskan dari generasi ke generasi. Mengatakan bahwa perlawanan terhadap penjajahan lebih buruk daripada penjajahan itu sendiri adalah bentuk amnesia moral yang parah. Itu seperti menyalahkan korban pemerkosaan karena berteriak terlalu keras.

Uni Emirat Arab mengambil posisi serupa. Mereka bersedia membangun Gaza — tapi hanya di wilayah yang dikuasai pasukan Israel. Ironi macam apa ini? Mereka akan membantu merekonstruksi reruntuhan yang ditinggalkan penjajah, tapi menolak menyentuh tanah yang masih mempertahankan martabatnya. Ini bukan rekonstruksi; ini upacara penyerahan simbolik, di mana bata dan semen dijadikan alat penjinakan.

Bahrain pun ikut dalam paduan suara itu, mengeluhkan “geng bersenjata” dan “ketidakstabilan” yang disebabkan oleh Hamas. Padahal Hamas kini justru menertibkan kelompok-kelompok bersenjata liar yang selama perang bekerja sama dengan Israel. Namun apa pun yang dilakukan Hamas — menertibkan chaos atau membiarkannya — tetap akan dianggap salah. Ini jebakan klasik: dunia menuntut Gaza damai, tapi mencabut semua alat yang memungkinkan mereka bertahan hidup.

Teluk, yang dulu menjadi benteng politik Arab bagi Palestina, kini berubah menjadi bagian dari arsitektur keamanan yang dirancang Washington dan Tel Aviv. Itulah wajah Arab hari ini: bersama penjajah, bukan bersama pembebas. Mereka berbicara tentang stabilitas kawasan, tapi stabilitas yang dimaksud adalah diamnya korban dan lancarnya aliran minyak. Mereka menuduh Hamas keras kepala, tapi merekalah yang paling takut pada suara perlawanan.

Ironisnya, semua tekanan kini diarahkan kepada Hamas—seolah kelompok perlawanan itulah sumber dari seluruh nestapa di kawasan. Para pemimpin Arab dengan lantang menuntut agar Hamas menyerahkan senjata, menghentikan perlawanan, dan tunduk pada “realitas politik” yang diciptakan penjajah. Namun tak satu pun dari mereka yang menuntut Israel untuk menghentikan genosida yang berlangsung di Gaza, tak ada satu suara pun yang menegaskan bahwa penjajahanlah akar dari seluruh kekacauan ini. Mereka membungkam fakta paling sederhana: bahwa tidak akan ada perdamaian selama sang penjajah tetap bercokol, dan selama dunia Arab memilih diam atau justru berdiri di sisi penindas.

Sebagian orang mungkin akan bilang: “Arab Saudi sedang realistis.” Tapi realisme macam apa yang menukar prinsip dengan kontrak pertahanan? Apa gunanya kekayaan dan Ka’bah jika suaranya justru membungkam Gaza? Mereka yang mengaku pemimpin dunia Islam kini memimpin parade kepasrahan, menandatangani gencatan senjata yang mengubur martabat bangsa Palestina.

Kita tahu, tidak semua orang Arab berpihak pada penguasa mereka. Rakyat di jalan-jalan Amman, Kairo, hingga Rabat masih menjerit ketika melihat Gaza dibombardir. Tapi suara mereka tak sampai ke istana. Di istana, yang terdengar hanyalah bisikan dari Tel Aviv dan tepuk tangan dari Gedung Putih. Trump bahkan dengan pongah berkata ia akan “mengembalikan Israel ke jalanan Gaza” bila Hamas tak menyerah. Dan negara-negara Teluk? Mereka diam. Bahkan lebih parah: mereka mengamini.

Ada ironi besar di sini. Di saat Hamas, dengan segala keterbatasannya, menolak pelucutan senjata sebelum terbentuk negara Palestina, negara-negara Arab justru memaksa mereka menyerah tanpa jaminan apa pun. Ini bukan tentang senjata semata, tapi tentang hak untuk eksis. Karena bagi Palestina, senjata bukan sekadar alat tempur — ia simbol satu-satunya kemerdekaan yang tersisa.

Jika perlawanan dilucuti, siapa yang menjamin Israel akan berhenti? Sejarah sudah menjawab berkali-kali: setiap kali Palestina memilih jalur damai tanpa kekuatan, wilayahnya justru menyusut. Dari Oslo hingga Abraham Accord, hasilnya sama: janji manis di atas meja, pengkhianatan di lapangan. Tapi tampaknya, negara-negara Teluk lebih percaya pada pena Washington ketimbang darah Gaza.

Saya rasa dunia Arab sedang kehilangan cermin. Mereka lupa siapa wajah yang dulu mereka perjuangkan. Mereka lupa bahwa Palestina bukan sekadar isu, tapi ukuran nurani. Kini, ketika Gaza menangis, sebagian dunia Arab justru sibuk menata dasi diplomatik. Mungkin mereka takut pada senjata Hamas, tapi yang seharusnya mereka takuti adalah sejarah — karena sejarah mencatat siapa yang berdiri di sisi penjajah.

Dan jika kelak Gaza bangkit lagi dari reruntuhan, dunia akan tahu siapa yang membantu membangun dan siapa yang ikut menekan. Nama-nama itu akan diingat bukan sebagai pembela, tapi sebagai bagian dari sistem yang mematikan semangat perlawanan. Karena pada akhirnya, peluru yang menembus tubuh Palestina mungkin ditembakkan dari senapan Israel, tapi pelatuk moralnya ditekan oleh tangan Arab sendiri.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer