Opini
UEA dan Jejak Genosida di Gaza
Ada pagi-pagi yang terasa pengap, bukan karena cuaca, melainkan karena berita yang menggumpal di kepala. Angka-angka melayang seperti debu: miliaran dolar, kontrak senjata, perusahaan pertahanan. Lalu wajah-wajah dari Gaza muncul, tertimpa reruntuhan, mengantre air, menggendong jenazah. Di antara dua dunia itu, saya merasakan kegelisahan yang janggal—sebuah absurditas yang terlalu rapi. Kita tahu siapa yang menjatuhkan bom, tetapi jarang bertanya siapa yang menyuplai oksigen bagi mesin yang melakukannya.
Laporan yang menyebut Uni Emirat Arab berada di balik kesepakatan senilai sekitar 2,3 miliar dolar dengan industri militer Israel memaksa kita berhenti sejenak. Bukan karena detail teknisnya, melainkan karena maknanya. Di saat Gaza berdarah, ada transaksi yang menegaskan keberlanjutan. Di saat duka diperdagangkan dalam statistik korban, ada kontrak yang menambah napas perang. Keterlibatan UEA dalam genosida Gaza mungkin tidak kasatmata, tetapi jejaknya terasa—seperti bau asap yang menempel meski api dinyalakan orang lain.
Sebagian akan berkilah: bisnis adalah bisnis, diplomasi adalah diplomasi. Saya rasa kalimat itu terdengar seperti payung di tengah banjir—rapi, tetapi tidak menyelamatkan. Kerja sama pertahanan bernilai raksasa bukan peristiwa netral; ia adalah simpul dalam jaringan kekerasan. Uang mengalir, teknologi berpindah, legitimasi menguat. Mesin perang tidak bergerak dengan doa; ia bergerak dengan pasokan. Dan di sinilah keterlibatan UEA dalam genosida Gaza menemukan bentuknya yang paling sunyi.
Kita semua tahu, genosida bukan hanya tentang pelaku di garis depan. Ia juga tentang ekosistem yang memungkinkan. Tentang pemasok, pendana, dan penopang yang membuat operasi berkelanjutan menjadi mungkin. Ketika sebuah negara memilih menandatangani kontrak besar dengan industri militer yang sedang terlibat dalam pembantaian sipil, ia sedang mengambil posisi. Bukan posisi netral. Bukan pula posisi pasif. Ia memilih berada di sisi keberlanjutan kekerasan.
Ironinya kian menyesakkan karena identitas yang dipajang. Negara yang kerap menyebut dirinya bagian dari dunia Muslim, berbagi simbol, sejarah, dan retorika persaudaraan, justru berdiri di jalur yang memudahkan kematian saudara. Kita diminta percaya bahwa solidaritas masih hidup, sementara transaksi senjata menegaskan sebaliknya. Di titik ini, keterlibatan UEA dalam genosida Gaza terasa seperti ironi yang menampar—sunyi, tetapi keras.
Ada yang mengatakan, ini soal keamanan regional, keseimbangan kekuatan, ancaman yang lebih besar. Argumen klasik. Namun mari jujur: jika keamanan dibangun di atas puing-puing rumah orang lain, itu bukan keamanan, melainkan ilusi. Seperti membangun pagar tinggi sambil meruntuhkan tetangga. Tenang sementara, berisik selamanya. Gaza menjadi biaya eksternal dari stabilitas yang dipromosikan—dan biaya itu dibayar dengan nyawa.
Laporan tersebut bukan sekadar berita industri. Ia adalah cermin etika. Kita melihat bagaimana normalisasi politik meluncur menjadi normalisasi kekerasan. Dari meja perundingan ke lini produksi, dari tanda tangan ke ledakan. Prosesnya rapi, profesional, berbahasa teknis. Justru di sanalah bahaya mengendap: kekejaman yang dibungkus prosedur. Keterlibatan UEA dalam genosida Gaza tampil sebagai baris kontrak, bukan jeritan.
Sebagian pembaca mungkin bertanya, apakah adil menautkan sebuah kesepakatan dengan genosida? Saya rasa pertanyaan itu menghindari kenyataan. Ketika sebuah industri militer meraup kontrak terbesar di tengah operasi yang menewaskan puluhan ribu warga sipil, hubungan sebab-akibat tidak perlu teriak. Ia berbisik, tetapi konsisten. Tanpa pasokan, perang tersendat. Dengan pasokan, perang berlanjut. Sederhana, dan mengerikan.
Di sini, sindiran terasa pahit. Di satu sisi, pernyataan simpati dikeluarkan. Di sisi lain, sistem yang sama diperkuat. Seperti menyumbang plester sambil menjual pisau. Kita diajak tersenyum pada filantropi, lupa bertanya pada hulu masalah. Gaza tidak kekurangan belas kasihan simbolik; ia kekurangan penghentian nyata terhadap mesin pembunuh. Dan keterlibatan UEA dalam genosida Gaza berada tepat di hulu itu.
Bagi pembaca di Indonesia, ironi ini terasa dekat. Kita paham logika warung: jika kita tahu barang yang kita jual melukai orang, kita ikut bertanggung jawab. Tidak perlu memegang pisau untuk disebut terlibat. Cukup memastikan pisau selalu tersedia. Analogi ini membumi, dan karenanya sulit ditolak. Dunia internasional sering menyembunyikan tanggung jawab di balik jargon; pengalaman sehari-hari membongkarnya.
Ada pula argumen legalistik: tidak ada pengumuman resmi, detail dirahasiakan, semua sensitif. Namun kerahasiaan bukan pembelaan moral. Ia justru memperkuat kecurigaan. Mengapa rahasia jika bersih? Mengapa sunyi jika tak ada yang perlu disembunyikan? Keterlibatan UEA dalam genosida Gaza menjadi samar bukan karena lemah, melainkan karena sengaja diredam.
Saya rasa kita perlu berhenti menuntut pembuktian absolut sebelum berani bersikap. Dalam urusan nyawa, probabilitas yang masuk akal sudah cukup untuk menarik garis etis. Ketika indikator-indikator mengarah ke satu kesimpulan—waktu kontrak, skala nilai, pihak industri—menunda sikap adalah bentuk keterlibatan lain. Diam yang produktif bagi kekerasan.
Akhirnya, pertanyaan terpenting bukan apakah UEA menjatuhkan bom, melainkan apakah UEA memilih untuk menghentikan aliran yang membuat bom terus jatuh. Sampai hari ini, jawabannya tidak menggembirakan. Keterlibatan UEA dalam genosida Gaza adalah keterlibatan yang memilih efisiensi di atas empati, stabilitas semu di atas keadilan, dan keuntungan di atas nyawa.
Penutupnya pahit, tetapi perlu. Sejarah tidak hanya mencatat siapa yang menekan pelatuk, melainkan siapa yang memastikan pelatuk selalu siap ditekan. Di halaman-halaman kelam itu, nama-nama akan muncul bukan sebagai pelaku langsung, melainkan sebagai penyokong. Kita boleh berdebat hari ini, tetapi arsip esok hari jarang berbelas kasihan. Dan Gaza, seperti biasa, membayar lebih dulu.

Pingback: UEA di Eropa dan Ancaman terhadap Kelompok Islam