Connect with us

Opini

Uang, Darah, dan Diamnya Dunia: Tragedi Sudan yang Disponsori UEA

Published

on

Ilustrasi editorial simbolik keterlibatan UEA dalam tragedi Sudan, menggambarkan aliran uang dan darah di gurun yang sunyi.

Di sebuah jalan yang keluar dari gerbang barat El-Fasher, tubuh-tubuh manusia terbujur seperti tanda baca terakhir dari sebuah doa yang tak pernah dijawab. Angin gurun menyapu debu dan darah yang menempel di aspal, seolah ingin menghapus jejak kebiadaban. Tapi bau busuk dari kematian tidak bisa disembunyikan. Ia menempel di udara, di nurani dunia yang membisu. Sementara di ruang-ruang pendingin gedung-gedung tinggi Abu Dhabi, para pejabat dan pangeran sibuk berbicara tentang investasi hijau dan masa depan “dunia Arab modern”. Ironi itu begitu telanjang hingga membuat dada sesak.

Kita hidup di zaman yang absurd: di mana branding kemakmuran berjalan seiring dengan proyek pembantaian. Uni Emirat Arab (UEA)—yang kerap dielu-elukan sebagai simbol kemajuan Timur Tengah—ternyata sedang menulis bab kelam baru di Afrika. Dari balik gemerlap Burj Khalifa, dari pesta mewah Expo Dubai, dari stadion tempat Manchester City mengangkat trofi, mengalir senjata, uang, dan teknologi menuju Darfur. Menuju tangan para pembunuh yang menembak anak-anak, memperkosa perempuan, dan mengubur manusia dalam lubang massal.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Laporan-laporan kredibel dari Middle East Eye dan Yale Humanitarian Research Lab menyebut keterlibatan langsung UEA dalam mendukung Rapid Support Forces (RSF)—milisi paramiliter yang kini menebar teror di Sudan. RSF bukan sekadar pemberontak; mereka adalah warisan dari Janjaweed, kelompok pembantai etnis yang pada awal 2000-an membakar desa-desa dan memusnahkan suku-suku non-Arab di Darfur. Kini, dengan baju baru dan senjata modern, mereka mengulangi sejarah itu dengan sponsor yang lebih kaya dan lebih lihai.

UEA dikabarkan memiliki dua pangkalan di Sudan—di Nyala dan al-Malha—serta mengalirkan pasokan logistik melalui Libya, Somalia, dan Uganda. Di atas kertas, semua itu disebut “dukungan kemanusiaan.” Tapi kita tahu, istilah itu hanya kamuflase. Seperti seseorang yang memberi obat penenang setelah menebas kaki korbannya. Fakta di lapangan menunjukkan, pesawat-pesawat yang konon membawa bantuan justru mengirim senjata. Dan setiap peluru yang dilepaskan RSF di El-Fasher, sebagian berasal dari pundi-pundi uang Abu Dhabi.

Pertanyaannya, mengapa negara sekaya UEA mau membiayai perang di Sudan? Jawabannya tidak serumit yang dikira. Ini tentang kekuasaan, emas, dan kendali geopolitik Afrika. Sudan punya tambang emas yang luas, lahan pertanian yang subur, dan posisi strategis di pesisir Laut Merah—gerbang dagang menuju Asia dan Eropa. Dengan menguasai RSF, UEA tidak hanya membeli pengaruh; ia membeli masa depan. Ia memastikan bahwa Sudan, dengan segala kekayaannya, akan tunduk pada orbit politik Teluk.

Saya rasa, inilah bentuk kolonialisme baru: bukan dengan pasukan penjajah, tapi dengan kontrak dan kargo senjata. Bukan dengan bendera, tapi dengan investment deal. Dan sementara orang Sudan mati kelaparan, para pangeran mengumumkan proyek smart city di Afrika. Dunia menyebutnya “kerjasama pembangunan.” Saya menyebutnya: penjarahan dengan jas sutra.

Ironi terbesar adalah reaksi dunia Barat. Amerika Serikat dan Inggris, yang katanya menjunjung tinggi hak asasi manusia, hanya bisa berkata “kami prihatin.” Pejabat mereka mengeluarkan pernyataan diplomatik hambar: menyerukan RSF untuk “melindungi warga sipil.” Bayangkan, meminta pembantai untuk melindungi korban. Ini bukan diplomasi—ini komedi moral.

Padahal, mereka tahu. Mereka tahu bahwa UEA adalah tulang punggung logistik RSF. Mereka tahu, jet-jet kargo dari Abu Dhabi membawa lebih dari sekadar bantuan. Tapi mereka diam. Mengapa? Karena uang UEA juga bersemayam di London dan Washington. Di stadion sepak bola, di saham-saham properti, di kontrak pertahanan, di universitas yang menerima donasi mewah. Siapa yang berani menggigit tangan yang memberi makan?

Kita semua tahu pola ini. Dunia juga bungkam saat UEA menyalurkan dukungan militer ke Libya, atau ketika ikut bermain dalam perang Yaman yang menghancurkan jutaan nyawa. Kini mereka mengulangi pola yang sama di Sudan, dengan dalih “menjaga stabilitas regional.” Kata “stabilitas” rupanya bisa diartikan sebagai: membunuh cukup banyak orang hingga tak ada lagi yang bisa melawan.

Dan di sisi lain, media arus utama memilih diam atau sekadar memberitakan permukaan. Tak ada headline besar tentang genosida di El-Fasher. Tak ada “breaking news” yang memadai untuk 3.000 jiwa yang tewas dalam seminggu. Dunia lebih sibuk membahas harga minyak atau hasil pertandingan sepak bola klub yang dimiliki Sheikh Mansour—orang yang sama yang ditertawakan Donald Trump sebagai pemilik “unlimited cash.” Sungguh, betapa dangkal peradaban yang kita banggakan ini.

Saya teringat satu kalimat getir dari seorang pengungsi El-Fasher: “Kami berharap mati, karena kami terlalu lelah untuk hidup.” Kalimat itu menampar nurani, tetapi bagi dunia internasional, itu cuma data tambahan di laporan PBB. Padahal, di balik setiap angka, ada nama, ada wajah, ada keluarga. Tapi ketika genosida diukur dengan statistik, kita tahu dunia telah kehilangan empatinya.

Di Indonesia, kita sering menyaksikan politik uang, di mana suara bisa dibeli dengan selembar rupiah. Di panggung global, logikanya sama—hanya nominalnya yang berbeda. UEA membeli diamnya negara-negara besar dengan miliaran dolar investasi. Membeli citra baik lewat sponsor olahraga dan budaya. Membeli legitimasi moral lewat retorika “perdamaian” dan “modernisasi.” Ini bukan lagi soal Sudan semata, tapi tentang struktur dunia yang memberi kekuasaan pada mereka yang punya uang, bukan mereka yang punya moral.

Maka jangan heran bila genosida bisa berlangsung di depan mata tanpa intervensi berarti. Dunia sudah terlalu nyaman dengan absurditasnya sendiri. Ada darah di tanah Darfur, tapi yang disorot justru kemegahan Dubai skyline. Ada anak-anak yang terjebak di lubang parit, tapi yang viral justru pesta musik di Gurun Al-Ula. Semuanya seperti sandiwara besar di mana manusia hanya figuran—dan UEA adalah produser utamanya.

Namun sejarah punya cara sendiri untuk menulis keadilan, meski lambat. Dulu dunia diam saat Rwanda terbakar. Kini, El-Fasher menjadi cermin baru dari kegagalan kolektif kita. Kita mungkin tidak punya kekuatan untuk menghentikan perang itu langsung, tapi kita punya kekuatan untuk menolak lupa. Untuk menolak propaganda yang mengubah pembantai jadi “mitra dagang.”

Karena yang membunuh tidak hanya RSF di medan perang. Yang membunuh juga mereka yang menandatangani kontrak, menutup mata, dan menganggap tragedi sebagai biaya kecil dari bisnis global. UEA boleh saja membangun kota masa depan di gurun pasir, tapi dari bawah fondasi kaca dan baja itu, darah Sudan akan tetap mengalir.

Dan di ujung cerita, mungkin dunia akan kembali berjanji: “Never again.” Tapi kita tahu, itu hanya mantra kosong yang diulang setiap kali kita gagal menjadi manusia.

Sumber:

 

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Peran UEA dan Saudi di Balik Konflik Afrika

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer