Connect with us

Opini

Tsunami Sunyi yang Menggerus Jiwa Militer Israel

Published

on

Ilustrasi prajurit Israel berdiri di hadapan gelombang besar metaforis yang melambangkan tsunami kesehatan mental.

Di sebuah pagi yang tampak biasa, ketika matahari naik dengan lesu di atas garis horizon Timur Tengah, ada sesuatu yang tidak lagi bisa disembunyikan oleh cahaya. Suara-suara lirih itu—napas tersengal para prajurit, tawa palsu yang dipaksa muncul, langkah-langkah berat yang tak lagi ritmis—menjadi penanda bahwa di balik kekuatan yang selama ini diagungkan, ada retakan halus yang semakin melebar. Saya rasa tak banyak yang mau mengakuinya, tetapi laporan tentang tsunami kesehatan mental yang kini menggulung Israel sebenarnya membuka satu kenyataan pahit: institusi yang paling keras, paling disiplin, dan paling dipuja—militernya—sedang terkikis dari dalam. Perlahan, sunyi, tapi pasti.

Ironi terbesar dari semua ini adalah betapa negara yang membanggakan kekuatan militer justru tengah roboh pada titik yang paling rapuh: jiwa orang-orang yang menggerakkan mesin perang itu sendiri. Dua juta warga membutuhkan bantuan psikologis. Itu setara seperempat populasi. Dan di dalamnya, para tentara, cadangan, keluarga tentara, mantan prajurit, dan mereka yang terlibat langsung dalam operasi militer adalah kelompok yang paling terpukul. Jika masyarakat umum sudah terhuyung oleh gelombang depresi, kecemasan, insomnia, dan kecanduan, bayangkan apa yang dialami mereka yang terjebak dalam ritme pertempuran dan ketakutan tanpa henti. Seperti seseorang yang dipaksa berlari tanpa jeda, mereka kehabisan napas, namun tetap diminta sprint.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Transisi dari kenyataan lapangan ke data memperlihatkan sesuatu yang lebih kelam daripada sekadar angka-angka kering. Diagnosa depresi dan kecemasan dua kali lipat dari satu dekade lalu. PTSD melonjak 70 persen setiap bulan sejak Oktober 2023. Ini bukan sekadar lonjakan; ini ledakan sunyi yang meledakkan struktur batin masyarakat dan militer sekaligus. Laporan itu bahkan menyebut panggilan ke hotline krisis meningkat enam kali lipat—lebih dari 600 persen. Dan saya bertanya-tanya: berapa dari panggilan itu datang dari para prajurit yang tidak diperbolehkan menunjukkan kelemahan di siang hari tetapi tercekik ketakutan di malam hari?

Di Indonesia, kita semua tahu bahwa trauma bisa tinggal lama di tubuh dan pikiran seseorang. Kita melihatnya pada korban bencana, korban konflik, bahkan pada keluarga yang hidup dalam tekanan ekonomi yang berkepanjangan. Tetapi apa yang terjadi di Israel hari ini adalah versi skala nasional dari luka yang tidak pernah mengering. Tak ada ruang pemulihan. Tak ada waktu rehat. Mereka yang mengangkat senjata dipaksa menjadi baja, namun manusia tak pernah bisa benar-benar menjadi baja. Dan di situlah absurditas itu muncul: semakin keras sebuah institusi menuntut ketangguhan total, semakin rapuh ia ketika dihantam tsunami kesehatan mental.

Yang membuat situasi ini terasa lebih getir adalah runtuhnya sistem kesehatan mental yang seharusnya menjadi jaring pengaman. Terapi meningkat 25 persen, tetapi terapisnya tak bertambah. Kasus psikoterapi jangka pendek melonjak 471 persen, namun yang menangani sering kali hanya tenaga “asisten kesehatan mental” yang baru dilatih tiga bulan. Seorang psikolog senior bahkan menyindir bahwa ini seperti memasang perban murahan pada luka tusuk yang belum dijahit. Dan saya kira, itu bukan sekadar kritik teknis. Itu metafora dari sebuah negara yang mencoba menambal kebocoran kapal besar menggunakan tempelan kertas basah.

Di dalam tubuh militer, situasinya lebih rumit. Para tentara mengalami beban ganda: trauma bertempur dan trauma sosial. Bahkan bagi mereka yang tak berada langsung di garis depan, tekanan kolektif menciptakan atmosfer tegang yang meresap sampai ke tulang. Tidak heran jika kecanduan kini mengancam satu dari empat warga—dan kemungkinan persentasenya lebih besar di unit-unit militer yang beroperasi di bawah stres kronis. Tahun 2018, angka itu hanya satu dari sepuluh. Kenaikannya terlalu cepat, terlalu drastis, terlalu jelas mencerminkan sebuah masyarakat yang mencoba mematikan rasa sakit dengan pelarian cepat. Kita semua tahu polanya: ketika jiwa tidak diberi ruang memulihkan diri, ia mencari jalan pintas. Alkohol. Obat penenang. Tidur palsu yang dibeli dari pil.

Saya membaca peringatan para ahli dalam laporan itu dengan perasaan campur aduk. Mereka menyebut kondisi ini sebagai “wabah penyakit mental yang tak pernah terjadi sebelumnya”. “Trauma kolektif panjang.” “Runtuhnya rasa aman publik.” Semua itu menggambarkan sebuah bangsa yang hidup dalam status siaga batin. Dan kita tahu, tubuh manusia tidak diciptakan untuk terus berada dalam mode darurat. Jika sistem saraf terlalu lama hidup dalam ketegangan, ia mulai rusak, lalu memakan dirinya sendiri. Pada skala nasional, kerusakan ini bukan hanya melumpuhkan warga sipil, tetapi juga merapuhkan institusi militer yang selama ini dijadikan pilar politik dan keamanan negara.

Dalam konteks kita di Indonesia, kita bisa melihat cermin kecilnya dalam peristiwa-peristiwa yang menekan mental banyak orang sekaligus. Namun krisis kali ini lebih sunyi—lebih mencekik—karena ia terjadi di tengah masyarakat yang terbiasa menampilkan ketangguhan sebagai identitas nasional. Kerapuhan jadi tabu. Kesedihan jadi privasi. Ketakutan dianggap kelemahan. Padahal, justru di titik itulah tsunami kesehatan mental menemukan celah masuk yang paling dalam.

Saya rasa yang paling tragis dari semua ini adalah bagaimana krisis ini dibiarkan membesar sebelum ada intervensi berarti. Pemerintah memang meluncurkan rencana penyelamatan senilai 1.7 miliar shekel, tetapi para profesional sendiri meragukan efektivitasnya. Mereka mengkritik pendekatan tambal-sulam, menuntut reformasi struktural besar-besaran, bahkan memperingatkan bahwa negara akan membayar “harga jauh lebih tinggi dalam dua atau tiga tahun” jika pemulihan tidak dilakukan serius sejak sekarang. Dan ketika mereka berkata demikian, saya membaca sesuatu yang lebih dalam dari sekadar analisis: itu jeritan putus asa.

Mungkin di sinilah ironi paling getir itu berada. Militer Israel—institusi yang selama puluhan tahun dibanggakan, diasosiasikan dengan ketangguhan dan efisiensi—kini sedang terkikis bukan oleh musuh eksternal, tetapi oleh reruntuhan psikologis internal. Mereka yang seharusnya menjaga negara justru membutuhkan penjagaan. Mereka yang diposisikan sebagai benteng kini membutuhkan perlindungan. Dan tsunami kesehatan mental ini, yang terus disebut dalam laporan, adalah gelombang yang tak bisa ditembak jatuh, tak bisa diblokade, tak bisa dinegosiasikan.

Menurut saya, inilah saatnya melihat krisis ini bukan sebagai isu Israel semata, tetapi sebagai pelajaran global: perang—apa pun bentuknya—selalu memakan jiwa lebih banyak daripada tubuh. Apalagi perang yang tak kunjung berhenti. Trauma tidak mengenal seragam. Ia tidak memilih pangkat. Ia merayap ke dalam rumah, kasur, mimpi, bahkan menjadi bayangan yang mengikuti seseorang sepanjang hidupnya. Dan ketika jutaan orang mengalaminya bersamaan, itu bukan lagi urusan pribadi; itu keruntuhan sosial.

Pada akhirnya, tsunami kesehatan mental yang sedang menerjang Israel, terutama militernya, adalah pengingat bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada tank, senjata, atau strategi, tetapi pada ketahanan jiwa manusia. Dan ketika jiwa itu retak, semua hal lain ikut retak. Bahkan negara.

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Krisis Personel Militer Israel: Bunuh Diri & Politik

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer