Opini
Trump Mengguncang H-1B, Amerika Menjerat Dirinya Sendiri
Angin dingin kebijakan datang tiba-tiba, seperti pintu pesawat yang dibuka di ketinggian. Jumat sore di Silicon Valley mendadak tegang: telepon berdering tanpa henti, manajer sumber daya manusia mengerutkan dahi, dan para insinyur India yang baru saja menyesap kopi mendapati mimpi mereka disiram air es. Presiden Donald Trump mengumumkan kenaikan biaya H-1B hingga 100 ribu dolar—lompatan 50 kali lipat. Bukan sekadar angka. Ini semacam pengumuman perang terhadap logika ekonomi dan kemanusiaan. Saya rasa siapa pun yang pernah mengurus visa tahu betapa satu keputusan mendadak bisa menyalakan kepanikan seperti kebakaran hutan.
Sebagai konteks, H-1B sendiri adalah jenis visa kerja sementara untuk tenaga profesional asing—terutama di bidang teknologi, medis, dan riset—yang memungkinkan perusahaan AS merekrut pekerja berkualifikasi tinggi selama beberapa tahun.
Kita bicara tentang H-1B, program yang selama tiga dekade menjadi jantung pertukaran talenta global. Lebih dari 70 persen penerimanya berasal dari India. Mereka bukan sekadar pekerja asing; mereka penyuplai oksigen bagi laboratorium, rumah sakit, dan raksasa teknologi Amerika. Tapi dengan satu perintah, Trump seperti menutup keran air di tengah musim kemarau. Ironi? Amerika Serikat selalu memuji diri sebagai tanah kesempatan, namun kini sang tuan rumah menuntut biaya masuk yang bahkan melebihi gaji tahunan median pemohon baru—94 ribu dolar pada 2023. Apakah itu kebijakan atau sindiran pahit terhadap mimpi yang dulu dijual?
Di Indonesia, kita paham perasaan dikejutkan peraturan yang lahir tiba-tiba. Ibarat aturan jalan tol yang berubah di malam hari, lalu pengendara diminta bayar sepuluh kali lipat saat matahari terbit. Orang boleh bilang, “Itu urusan mereka.” Tapi dunia kerja masa kini tidak mengenal batas tegas. Talenta global adalah arus yang, suka atau tidak, menentukan harga ponsel, kecepatan aplikasi, bahkan inovasi medis yang mungkin suatu hari menyelamatkan nyawa kita.
Trump tampaknya ingin menampilkan diri sebagai pelindung pekerja lokal. Argumennya klasik: imigran mencuri pekerjaan. Kita semua tahu narasi semacam itu—mudah dijual, sukar dibuktikan. Data justru menunjukkan kebalikannya. H-1B menyumbang sekitar 86 miliar dolar setahun ke ekonomi AS, termasuk 24 miliar pajak federal. Itu bukan sekadar angka di kertas, melainkan jalan raya yang diperbaiki, sekolah yang dibiayai, dan penelitian medis yang berjalan. Menutup pintu itu sama saja dengan menembak kaki sendiri sambil bersorak kemenangan.
Yang lebih getir adalah efek domino. Bayangkan ribuan dokter India yang mengisi kekosongan tenaga medis di rumah sakit pedesaan Amerika. Sekitar 6 persen dokter di AS adalah keturunan India, banyak di antaranya bergantung pada H-1B. Kebijakan ini seperti memutus infus di unit gawat darurat—satu tarikan selang yang mengancam seluruh sistem. Ketika pasien menunggu, Washington bermain drama politik.
Trump sempat melakukan “klarifikasi” sehari setelahnya: biaya besar itu hanya untuk pemohon baru dan hanya sekali bayar. Seolah-olah itu menenangkan. Padahal inti masalahnya tetap sama: ketidakpastian. Perusahaan raksasa seperti Google dan Amazon mungkin akan mencari celah pengecualian, tapi bagaimana dengan start-up yang baru menapaki tangga? Mereka tak punya pelobi mahal. Ketimpangan akan melebar, bukan menyempit.
Sebagai orang yang mengikuti geliat migrasi talenta, saya melihat kebijakan ini bukan sekadar soal visa. Ini cermin ketakutan lama yang diselimuti slogan nasionalisme. Dunia berubah lebih cepat dari politisi yang terjebak nostalgia. Talenta tak lagi menunggu perbatasan. Kanada, Jerman, Australia—mereka menyiapkan karpet merah untuk pekerja terampil yang ditolak Washington. Saat Trump sibuk membuat tembok tak kasat mata, pesaingnya menyiapkan undangan pesta.
Ada juga kisah personal yang luput dari angka. Mahasiswa India yang sudah membayar biaya kuliah hingga 100 ribu dolar merasa seperti dijebak. Jalur paling logis untuk menetap—bekerja melalui H-1B—seketika tertutup. Kita yang pernah menabung bertahun-tahun untuk pendidikan anak tentu mengerti luka semacam itu. Rasanya seperti menyiapkan perahu dengan biaya besar, hanya untuk mendapati jembatan pelabuhan diangkat saat fajar.
Sebagian orang mungkin bersorak: akhirnya pekerja lokal dapat prioritas. Tapi apakah benar? Upah median penerima H-1B bahkan lebih tinggi daripada banyak pekerjaan domestik. Mereka bukan pesaing upah murah, melainkan penggerak inovasi yang menambah nilai. Tanpa mereka, harga produk naik, penelitian melambat, dan keunggulan Amerika di bidang teknologi bisa luntur. Kita bicara tentang rantai pasok ide, bukan sekadar tenaga kerja kasar.
Saya rasa inilah absurditas paling telanjang: sebuah negara yang dibangun oleh imigran kini menutup pintu bagi generasi inovator berikutnya. Sambil tetap berharap memimpin dunia dalam sains dan teknologi. Ini seperti menyalakan lampu di stadion lalu mencabut aliran listrik sendiri. Tidak peduli seberapa besar sorakan penonton, pertandingan akan gelap.
Kita di Indonesia seharusnya belajar dari drama ini. Ketika kebijakan dikeluarkan hanya untuk memuaskan panggung politik jangka pendek, yang hancur adalah kepercayaan jangka panjang. Investor pergi, talenta pindah, reputasi rusak. Dunia global menilai bukan hanya dari kata-kata, tetapi dari konsistensi dan kepastian. Amerika yang dulu menjadi simbol keterbukaan kini memperlihatkan wajah muram proteksionisme.
Trump mungkin mengira ini sekadar manuver pemilu, sebuah gertakan untuk memikat pemilih yang lelah dengan kata “globalisasi”. Namun dampaknya jauh lebih dalam, seperti riak yang pelan tapi pasti menumbangkan tepi sungai. Ketika para insinyur India menoleh ke Berlin atau Toronto, ketika mahasiswa brilian memutuskan ke Melbourne atau Singapura, Amerika akan merasakan sepi. Sepi ide, sepi inovasi, sepi mimpi.
Pada akhirnya, kenaikan biaya H-1B bukan hanya kebijakan salah arah. Ia adalah simbol ketakutan yang menyamar sebagai keberanian, tembok yang dibangun di tengah jalan raya ide. Dunia terus bergerak. Mereka yang menutup pintu akan ditinggalkan. Amerika pernah jadi rumah bagi pikiran bebas. Jika Trump bersikeras menyalakan obor proteksionisme, obor itu mungkin hanya menerangi jalan keluar bagi talenta yang selama ini membuat negaranya bersinar.
