Opini
Trump dan Perut Kosong Anak Gaza: Satire Kepemimpinan yang Menghalalkan Segala Cara
“Israel harus menyelesaikan pekerjaannya,” kata Donald Trump dalam sebuah wawancara, dengan nada datar, seperti sedang memerintah pelayan untuk menutup tirai. Bagi mantan—atau lebih tepatnya calon penguasa Gedung Putih yang kini kembali naik panggung—kata “menyelesaikan” bukan berarti mendamaikan, melainkan memusnahkan. Pernyataan itu keluar tanpa getar, tanpa jeda iba, seolah-olah menghancurkan kehidupan sebuah bangsa adalah soal efisiensi semata. Kalimat itu terdengar seperti suara palu hakim yang memvonis Gaza dengan hukuman mati kolektif, tanpa pembela, tanpa banding, tanpa belas kasih.
Sementara Trump melontarkan kalimat itu dengan penuh percaya diri, di Gaza, satu kata tak cukup untuk menggambarkan kenyataan. Anak-anak di sana tak sedang menyelesaikan pekerjaan rumah; mereka sibuk mencari air, mengais tepung, dan menatap langit yang tak pernah benar-benar biru. Laporan terbaru dari lapangan menyebutkan bahwa warga Gaza kini hanya mengandalkan pakan ternak untuk bertahan hidup. Bukan metafora. Benar-benar pakan ternak: campuran dedak, sisa gandum, dan apapun yang bisa dihancurkan menjadi bubur. “Ini sangat asin dan pahit, tapi tak ada pilihan lain,” ujar salah seorang warga. Di dunia Trump, mungkin ini disebut sebagai kemajuan: manusia bisa hidup seperti hewan, asal tidak protes.
Apa sebenarnya yang sedang “diselesaikan” oleh zionis Israel? Jika ukurannya adalah pengosongan, penghancuran, dan kelaparan, maka benar: mereka nyaris rampung. Setidaknya 34 ribu lebih warga Palestina tewas, sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak. 2 juta jiwa terkepung tanpa akses pangan, air bersih, obat-obatan, dan listrik. Setiap roket yang diluncurkan bukan hanya merobohkan bangunan, tapi juga meluluhlantakkan harapan—satu-satunya harta yang masih tersisa di dada orang-orang Gaza. Tapi bagi Trump, ini hanyalah detail teknis dari strategi yang harus diselesaikan.
Trump bukan hanya politisi, ia adalah wujud dari mentalitas predator global yang berkamuflase dalam setelan jas dan dasi merah. Ia tak menunggu data, tak peduli resolusi, dan tentu tak mengenal empati. Pernyataannya mencerminkan gaya kepemimpinan yang menghalalkan segala cara. Ia tidak sekadar berpihak pada Israel, ia menyemangatinya untuk terus menekan pedal gas ke dasar kebiadaban. Seolah-olah membunuh dalam jumlah besar itu bukan tragedi, tapi statistik yang membanggakan. Bahkan ketika anak-anak Gaza mengunyah dedak seperti kambing, Trump hanya sibuk mengunyah mikrofon kampanyenya.
Ada ironi besar di sini. Trump menyebutkan bahwa “Israel harus menyelesaikan pekerjaan” dalam konteks membela “peradaban Barat” dari “terorisme.” Tapi siapa yang sedang meneror siapa? Yang satu adalah bangsa tanpa tentara, tanpa peluru, tanpa pasokan makanan. Yang lain memiliki jet tempur F-35, sistem rudal Iron Dome, dan pendanaan miliaran dolar dari Washington. Menyebut Palestina sebagai ancaman bagi Israel sama lucunya seperti menyebut semut sebagai ancaman bagi buldoser. Tapi tentu, dalam politik Trump, narasi kebenaran bisa dibalik seperti kaus kaki, selama ada suara pemilih yang bisa dikumpulkan di negara bagian kunci.
Kita hidup di era ketika pemimpin besar dunia mendefinisikan moralitas berdasarkan kalkulasi elektoral. Gaza dijadikan umpan untuk membakar semangat pendukung sayap kanan, dan anak-anak yang mati kelaparan dianggap collateral damage bagi proyek geopolitik yang lebih besar. Trump menyimbolkan pola pikir kolonial yang tak pernah benar-benar mati: bumi ini milik yang kuat, dan yang lemah hanyalah angka statistik. Dunia Arab boleh protes, Perserikatan Bangsa-Bangsa bisa mengeluh, tapi selama satu tokoh di Washington mengangguk, bom akan terus dijatuhkan.
Dalam konteks lokal, kita pun harus jujur bertanya: apakah dunia Muslim, termasuk Indonesia, hanya akan diam dan menyaksikan? Pernyataan Trump tak hanya soal kebijakan luar negeri Amerika, tapi juga cermin dari bagaimana dunia ini dipaksa menerima logika kebengisan sebagai sesuatu yang normal. Media pun ikut larut: narasi tentang “membela diri” terus diulang untuk menutupi kenyataan bahwa yang dibela hanyalah hak untuk membunuh tanpa dihukum.
Dan ketika kita mendengar tentang anak-anak Gaza yang makan rumput, bukan karena gaya hidup vegan, tapi karena tak ada pilihan lain, kita harus sadar bahwa ini bukan bencana alam. Ini bukan kelalaian. Ini adalah hasil dari keputusan sadar para pemimpin dunia—termasuk mereka yang duduk di ruang pendingin Washington, menekan tombol veto sambil menyeruput kopi. Ini adalah proyek penghancuran yang dikerjakan dengan rapi, sistematis, dan penuh dukungan dari pemimpin seperti Trump.
Di tengah reruntuhan Rafah dan bau amis dari sumur-sumur yang kering, kita melihat jelas: bukan hanya roket yang membunuh, tapi juga kata-kata. Dan kata-kata Trump, yang diucapkan enteng dari ruang debat atau panggung kampanye, punya daya rusak tak kalah mematikan dari senjata. Kata-katanya melegitimasi kekejaman, menyepelekan tragedi, dan—lebih berbahaya—membius publik agar percaya bahwa ini adalah bagian dari urusan normal.
Namun sejarah punya cara unik dalam menyusun ulang cerita. Para pemimpin yang menghalalkan segala cara, cepat atau lambat, akan dicatat bukan sebagai penyelamat, tapi perusak. Dan dalam lembaran sejarah nanti, barangkali akan tertulis: “Donald Trump adalah presiden yang membela hak Israel untuk melaparkan anak-anak Palestina.” Sederhana, brutal, dan tak terbantahkan.
Dan untuk kita yang masih bisa makan dengan tenang, mengakses internet, dan mengetik tanpa suara bom di luar jendela, pertanyaannya cuma satu: berapa lama lagi kita akan membiarkan tragedi ini berlangsung, hanya karena Trump dan mereka yang seperti dia merasa berhak untuk menyelesaikan sesuatu dengan cara yang tak pernah benar?
Sumber:
- https://www.rt.com/news/622014-trump-get-rid-hamas/
- https://thecradle.co/articles/israeli-army-chief-says-soldiers-face-deep-fatigue-after-21-months-of-genocide-in-gaza
