Connect with us

Opini

Trump dan Dunia di Ambang Perang

Published

on

Ilustrasi editorial ketegangan global dan industri militer di era Trump yang mendorong dunia ke ambang perang.

Ada sesuatu yang terasa ganjil sekaligus menyesakkan ketika membaca laporan tentang melonjaknya saham industri militer global. Angkanya menanjak, grafiknya hijau, para investor tersenyum. Tapi di balik layar bursa, ada kegelisahan yang sulit disembunyikan: dunia sedang dipersenjatai kembali, bukan karena optimisme, melainkan karena ketakutan. Dan di tengah pusaran itu, satu nama terus muncul sebagai pemantik—Donald Trump. Bukan sebagai jenderal di medan perang, melainkan sebagai politisi yang ucapannya mampu membuat dunia menahan napas. Saya rasa, inilah absurditas zaman kita: rasa aman diukur dari seberapa mahal senjata yang kita beli.

Laporan yang menjadi landasan tulisan ini menyoroti bagaimana industri militer global mengalami reli besar, dipicu oleh kebijakan dan retorika keras Amerika Serikat. Kenaikan saham perusahaan pertahanan bukan terjadi di ruang hampa. Ia lahir dari ekspektasi perang, atau setidaknya dari keyakinan bahwa konflik akan terus menganga. Dalam logika pasar, perang adalah peluang. Dalam logika kemanusiaan, perang adalah kegagalan. Ketika dua logika ini bertemu, kita tahu ada yang salah. Dan Trump, dengan gaya khasnya, seperti mempercepat pertemuan itu.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Trump sering dibela dengan argumen klasik: ia tidak pernah memulai perang besar. Benar, jika perang dimaknai sebagai deklarasi resmi dan invasi terbuka. Tapi dunia modern tidak lagi bergerak dengan cara sebersih itu. Ancaman, tekanan, sanksi, pamer kekuatan, dan eskalasi retorika kini sama mematikannya. Trump memahami panggung ini dengan baik. Ia berbicara keras, kadang kasar, sering berlebihan. Masalahnya, dalam geopolitik, kata-kata adalah amunisi. Sekali ditembakkan, sulit ditarik kembali.

Kata kunci utama dalam kegelisahan ini adalah Trump ancaman perang. Bukan karena ia bermimpi menaklukkan dunia, tetapi karena ia mendorong sistem global ke titik jenuh. Laporan tersebut menunjukkan bagaimana pasar merespons setiap sinyal ketegangan dengan antusiasme finansial. Anggaran militer yang membengkak dianggap kabar baik. Ancaman konflik diterjemahkan sebagai prospek kontrak baru. Dalam suasana seperti ini, Trump menjadi katalis. Setiap pernyataannya tentang memperkuat militer, menekan musuh, atau “tidak ada tempat aman” bagi lawan, langsung beresonansi di lantai bursa.

Saya rasa kita semua tahu, logika semacam ini berbahaya. Seperti pengendara yang menekan gas sambil berharap rem masih berfungsi. Trump kerap menggunakan ketidakpastian sebagai strategi. Hari ini mengancam, besok berdamai, lusa mengancam lagi. Bagi pendukungnya, ini seni negosiasi. Bagi dunia militer, ini alarm yang terus menyala. Negara lain tidak punya kemewahan untuk menebak-nebak. Mereka harus bersiap. Dan kesiapsiagaan, dalam bahasa militer, berarti senjata, latihan, dan postur tempur.

Di sinilah Trump ancaman perang menemukan maknanya yang paling konkret. Ancaman itu bukan niat pribadi, melainkan efek sistemik. Ketika Amerika Serikat, di bawah kepemimpinan Trump, mendorong narasi kekuatan keras, negara lain merespons dengan cara yang sama. Rusia, China, Iran, bahkan negara-negara Eropa, semua mempercepat belanja militernya. Spiral ini tidak mengenal tombol jeda. Ia hanya berhenti jika ada keberanian politik untuk berkata cukup. Sayangnya, keberanian semacam itu jarang mendapat tepuk tangan pasar.

Ada ironi pahit di sini. Industri militer merayakan reli saham, sementara masyarakat global hidup dalam kecemasan laten. Kita seperti penghuni kampung yang rumahnya dikelilingi bensin, lalu bersorak karena harga korek api naik. Laporan tersebut secara tidak langsung menyingkap ironi ini. Data-data ekonomi dipaparkan dengan dingin, seolah netral. Tapi di balik angka, ada realitas sosial yang bergolak. Trump mungkin tidak menekan pelatuk, tetapi ia memoles pistol dan memamerkannya ke seluruh dunia.

Konteks lokal membuat ironi ini terasa lebih dekat. Di Indonesia, kita mungkin jauh dari medan perang global, tapi kita tidak kebal. Setiap eskalasi global berdampak pada harga energi, pangan, dan stabilitas ekonomi. Ketika kekuatan besar saling unjuk gigi, negara berkembang sering menjadi penonton yang ikut menanggung biaya. Kita semua tahu rasanya hidup dengan harga kebutuhan yang melonjak karena konflik ribuan kilometer jauhnya. Dalam situasi seperti ini, Trump ancaman perang bukan isu abstrak; ia menyentuh dapur dan dompet.

Trump sering berbicara tentang “America First”. Tapi dunia mendengar pesan lain: “bersiaplah”. Kenaikan saham industri militer global adalah terjemahan paling jujur dari pesan itu. Pasar tidak peduli pada retorika moral. Pasar membaca arah angin. Dan arah angin saat ini mengarah pada militerisasi. Laporan tersebut menegaskan bahwa investor melihat konflik bukan sebagai anomali, melainkan sebagai tren. Ini menyedihkan sekaligus menakutkan.

Saya rasa, yang membuat situasi ini semakin rapuh adalah normalisasi ketegangan. Ketika ancaman menjadi rutinitas, kita kehilangan kepekaan. Trump, dengan gaya komunikasinya, mempercepat proses ini. Ucapan yang dulu dianggap ekstrem kini terdengar biasa. Dunia terbiasa hidup di tepi jurang. Dan seperti orang yang terlalu lama berdiri di tepi tebing, kita mulai lupa betapa dalam jurang itu.

Kata kunci Trump ancaman perang perlu diulang bukan untuk sensasi, melainkan untuk kesadaran. Ancaman itu nyata dalam bentuk risiko salah perhitungan. Sejarah penuh dengan contoh perang yang pecah bukan karena rencana matang, tetapi karena rangkaian kesalahan kecil. Ketika sistem global berada di bawah tekanan, satu insiden bisa menjadi pemicu. Trump, dengan kecenderungannya menguji batas, membuat margin kesalahan semakin tipis.

Ada yang berkata, “Trump hanya bicara.” Tapi dalam geopolitik, bicara adalah tindakan. Kata-kata membentuk persepsi, persepsi membentuk kebijakan, kebijakan membentuk realitas. Laporan tentang reli industri militer adalah bukti rantai ini bekerja. Investor tidak bertaruh pada perdamaian. Mereka bertaruh pada ketegangan. Dan Trump, sadar atau tidak, memberi mereka alasan.

Saya tidak menulis ini sebagai seruan panik, melainkan sebagai ajakan berpikir. Kita hidup di era ketika perang tidak selalu diumumkan, tetapi selalu dipersiapkan. Trump ancaman perang adalah simbol dari era itu. Bukan satu-satunya penyebab, tentu saja, tetapi faktor yang mempercepat. Ia seperti orang yang menuangkan bensin ke api unggun yang sudah menyala, lalu berkata bahwa ia hanya ingin api tetap hangat.

Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana: apakah kita nyaman hidup di dunia yang merasa aman karena senjata semakin canggih? Atau kita justru terjebak dalam ilusi keamanan yang rapuh? Laporan ini, jika dibaca dengan jujur, adalah cermin. Dan bayangan yang kita lihat tidak menyenangkan. Dunia mungkin belum jatuh ke dalam perang besar, tetapi ia jelas berdiri di tepinya. Trump tidak mendorong dunia sendirian, tapi langkahnya jelas membawa kita lebih dekat.

Penutupnya pahit, tapi perlu. Sejarah tidak selalu mencatat siapa yang memulai perang, melainkan siapa yang gagal menghentikannya. Jika dunia benar-benar meluncur ke konflik yang lebih luas, kita akan mengingat era ini sebagai masa ketika peringatan sudah jelas, datanya tersedia, ironi terbuka lebar—namun kita memilih bertepuk tangan pada grafik saham. Dan di antara semua simbol era itu, nama Trump akan tetap melekat sebagai pengingat bahwa ancaman perang tidak selalu datang dalam bentuk serangan, kadang hanya berupa kata-kata yang terlalu sering diucapkan tanpa tanggung jawab.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer