Connect with us

Opini

Trump dan Bayang-bayang Amerika di Laut Karibia

Published

on

Illustration depicting U.S. military power overshadowing Latin America, symbolizing sovereignty violation and covert violence.

Langit Karibia mungkin tampak tenang, tapi di bawahnya, ada satu tubuh nelayan yang tak akan pernah pulang. Namanya Alejandro Carranza. Ia bukan bandar narkoba, bukan teroris, bukan ancaman bagi siapa pun—kecuali bagi logika yang selama ini dipelihara Washington. Ia hanya seorang nelayan Kolombia, mencari ikan di lautnya sendiri. Tapi di mata Donald Trump, laut itu milik Amerika, dan setiap perahu asing bisa menjadi sasaran misil atas nama “perang melawan narkotika.” Ironi abad ini: Amerika selalu berbicara tentang hukum, tapi menembak tanpa peringatan di wilayah orang lain.

Saya rasa, yang terjadi di Karibia itu bukan sekadar kesalahan teknis. Ini adalah pengulangan sejarah. Dari Baghdad hingga Kabul, dari Caracas kini ke Bogotá—pola yang sama terus dimainkan. Amerika Serikat datang dengan dalih menyelamatkan dunia, tapi selalu meninggalkan reruntuhan, jenazah, dan kemunafikan. Dulu “senjata pemusnah massal,” lalu “perang melawan teror,” sekarang “melawan narkotika.” Hanya ganti label, tapi logikanya tetap satu: siapa pun yang menolak tunduk pada Washington, akan dilabeli musuh peradaban.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Trump, dengan mulut yang lebih cepat dari pikirannya, menyebut Presiden Kolombia Gustavo Petro sebagai “pemimpin narkoba.” Ia menuduh, tanpa bukti, seperti biasanya. Sama seperti ketika ia dulu menuduh Maduro sebagai gembong kartel. Sama seperti George W. Bush menuduh Saddam menyimpan senjata kimia. Tuduhan selalu menjadi peluru pertama sebelum bom sungguhan dijatuhkan. Dan yang menarik—setiap kali dusta itu terbongkar, dunia tetap diam, menatap reruntuhan dengan rasa bersalah yang sudah basi.

Kolombia bukan Irak, memang. Tapi logika kolonial yang digunakan Trump tak jauh beda dengan logika perang 2003. Ia percaya bahwa kedaulatan negara lain bisa dinegosiasikan bila Amerika merasa “terancam.” Masalahnya, ancaman itu selalu datang dari imajinasinya sendiri. Dari paranoia yang dipelihara oleh politik domestik Amerika. Trump tahu, memainkan peran pahlawan global selalu efektif untuk menutupi kegagalannya di rumah sendiri. “Kita hancurkan kapal narkoba!” teriaknya di media sosial, sementara rakyat Amerika sendiri tenggelam dalam krisis fentanyl dan kemiskinan struktural.

Lihat betapa absurdnya: Amerika menembak kapal nelayan dengan alasan menghentikan penyelundupan obat-obatan yang justru dikonsumsi massal di negaranya sendiri. Negara dengan industri farmasi paling kuat di dunia, kini berpura-pura membersihkan laut dari racun yang ia hasilkan sendiri. Seolah semua fentanyl di jalanan New York berasal dari perahu kecil di Karibia. Itu bukan perang melawan narkoba. Itu panggung sandiwara politik dengan senjata sungguhan.

Trump mungkin ingin terlihat kuat menjelang pemilu. Ia tahu, menampilkan musuh di luar negeri selalu menaikkan citra nasionalisme. Tapi dengan menuduh Petro sebagai “pemimpin narkoba,” ia justru menghidupkan kembali kolonialisme gaya baru—versi digital, versi Trump. Kini, peluru bisa dikirim lewat drone, tuduhan bisa disebar lewat Truth Social, dan pembunuhan bisa disebut “operasi sukses.” Dunia lama sudah berubah, tapi arogansi Amerika tetap sama: mereka masih percaya diri bisa membedakan mana kriminal dan mana korban, padahal sejarah menunjukkan sebaliknya.

Bahkan PBB dan para ahli hukum internasional sudah menyebut tindakan itu sebagai extrajudicial execution — pembunuhan di luar hukum. Tapi Trump tak peduli. Ia selalu memandang dunia sebagai panggung pribadi, di mana ia bisa menulis ulang hukum internasional sesuai seleranya. Ketika Kolombia menuntut penjelasan, ia justru menjawab dengan ancaman: menghentikan bantuan 740 juta dolar, sambil menuduh Petro memelihara ladang kokain. Betapa mudahnya tuduhan keluar dari lidah yang tak mengenal malu.

Kita semua tahu, bantuan Amerika selalu datang dengan tali di ujungnya. Diberikan bukan karena peduli, tapi karena ingin mengontrol. Begitu Kolombia berani bicara soal kedaulatan, talinya ditarik. Sama seperti Venezuela dulu, yang dihancurkan lewat embargo setelah menolak ikut arus neoliberal. Amerika selalu memainkan peran seperti orang tua yang marah karena anaknya berani menentang. Padahal yang dilakukan Petro sederhana: ia hanya menuntut penjelasan mengapa kapal nelayannya ditembak di wilayah perairannya sendiri. Bukankah itu hak yang paling dasar dari sebuah negara merdeka?

Dan di sini letak tragedi modern itu: negara yang mengaku pelindung hukum dunia, justru yang paling sering melanggarnya. Dari Guantanamo hingga Laut Karibia, dari drone di Yaman hingga misil di Kolombia, hukum internasional hanya berlaku jika menguntungkan Washington. Ketika mereka yang melanggar, narasinya diganti menjadi “operasi militer sah.” Dunia menelan absurditas ini setiap hari, seperti menelan pil pahit yang sudah terlalu sering diminum.

Saya teringat satu kalimat dari seorang aktivis Amerika Latin: “Setiap kali AS bicara tentang perdamaian, kami tahu perang sedang mendekat.” Kalimat itu kini terdengar seperti nubuat. Sebab di balik setiap misi kemanusiaan Amerika, selalu ada proyek politik. Setiap kampanye moralitas, selalu disertai kepentingan ekonomi. Setiap tuduhan kejahatan, selalu menyembunyikan kekerasan yang lebih besar.

Dan sekarang, kita melihat bab baru dari pola lama itu. Trump tak lagi menyembunyikan ambisinya. Ia menyebut operasi militernya di Karibia sebagai “kehormatan besar.” Kehormatan? Membunuh nelayan di laut asing adalah kehormatan? Kata-kata ini bukan sekadar kebohongan, tapi penghinaan terhadap akal sehat. Dunia memang sudah terbiasa dengan kebohongan Amerika, tapi kebohongan yang satu ini terlalu telanjang untuk tidak disebut menjijikkan.

Kita, yang hidup jauh di Indonesia, mungkin merasa itu bukan urusan kita. Tapi percayalah, pola yang sama bisa muncul di mana saja. Hari ini Karibia, besok mungkin Laut Cina Selatan, atau Papua, atau siapa tahu Selat Malaka. Ketika kekuatan besar merasa berhak “menegakkan keadilan global,” batas kedaulatan bisa hilang dalam satu klik tombol misil. Dan pada akhirnya, kita semua hidup dalam dunia di mana kematian seseorang bisa dijustifikasi dengan satu cuitan dari pemimpin negara adidaya.

Saya rasa sudah waktunya dunia berhenti memelihara mitos Amerika sebagai polisi global. Sebab “polisi” itu sudah lama menjadi pelaku kejahatan yang dibiarkan. Dari Irak yang hangus, Afganistan yang ditinggalkan, hingga nelayan Kolombia yang terbunuh tanpa nama—semua menjadi saksi bahwa kekuasaan tanpa moral adalah bentuk teror yang paling halus, tapi paling berbahaya.

Trump boleh berteriak tentang narkoba dan keamanan nasional, tapi kita tahu, yang ia lawan bukan narkotika—melainkan negara-negara yang menolak bertekuk lutut. Dan kalau dunia terus diam, maka kelak, pembunuhan atas nama moralitas akan menjadi hal yang biasa. Kita akan hidup di zaman ketika kebenaran tak lagi dicari, hanya diciptakan oleh yang punya misil.

Saya hanya berharap, suatu hari nanti, dunia punya keberanian untuk mengatakan satu kalimat sederhana kepada Amerika: “Hentikan berpura-pura menjadi pahlawan. Dunia sudah cukup rusak tanpa bantuanmu.”

Sumber:

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer