Opini
Tragedi Gaza: Anak-anak Jadi Sasaran Kekejaman IDF
Di ruang ICU Rumah Sakit Eropa di Gaza, panas begitu menyengat hingga keringat menetes tanpa henti. Bau limbah bercampur sisa ledakan menyengat di halaman, masuk ke dalam ruangan yang aroma kematiannya hampir bisa diraba. Di sana, tubuh-tubuh terbaring, anak-anak dengan kepala dibalut perban, tubuh mereka masih utuh, tetapi nyawa mereka berada di ujung jarum. Feroze Sidhwa, dokter trauma dari California, tidak percaya matanya saat melihat empat anak dengan luka tembak di kepala dalam 48 jam terakhir. “Apa yang terjadi di sini?” tanyanya. Jawaban datang tanpa kata: tembakan, tembakan, tembakan.
Kasus-kasus seperti ini bukanlah insiden tunggal. Dalam dua belas hari berikutnya, Sidhwa menyaksikan sembilan anak lain dengan luka tembak tunggal di kepala atau dada — indikasi bahwa mereka sengaja menjadi sasaran. Dalam laporan de Volkskrant, 17 dokter dan satu perawat dari berbagai negara mengonfirmasi pola yang mengerikan ini. Mereka menyebut total 114 anak berusia 15 tahun ke bawah mengalami luka tembak di kepala atau dada, banyak yang tewas. Bukti medis — foto, X-ray, catatan medis — menunjukkan jelas: ini bukan efek samping perang, tetapi deliberate targeting. Kekejaman IDF terhadap anak-anak Gaza menjadi nyata dan terukur.
Bayangkan anak berusia empat tahun yang disebut Mira, yang ditembak oleh drone saat berada di zona kemanusiaan. Dokter Mimi Syed, meskipun takut, menolongnya dengan alat yang diselundupkan sendiri. Bayangkan keajaiban kecil yang harus diperjuangkan hanya agar seorang anak tetap bernapas, sementara dunia sibuk menonton berita di layar. Kasus ini, dan lusinan lainnya, menunjukkan pola menembak anak-anak bukan sekadar kekacauan pertempuran, melainkan bagian dari strategi sistematis yang brutal.
Dokter lain, Nizam Mamode, melihat anak-anak terbaring di ICU dengan ventilator tersumbat, penuh larva dari kebersihan yang terabaikan akibat serangan konstan. Mark Perlmutter menyaksikan seorang bocah lima tahun kehilangan kaki dan berdiri di tengah reruntuhan dengan darah mengalir. Bayangkan: anak-anak dengan tubuh utuh tetapi kepala, dada, atau anggota tubuh tertentu menjadi target, sementara rumah sakit tak mampu menampung atau merawat semua korban. Ini bukan perang, ini adalah pembantaian.
Setiap dokter yang bekerja di Gaza menjadi saksi mata kekejaman IDF, dan mereka berbicara dari pengalaman langsung. Mereka melihat pola yang menandakan pelanggaran hukum perang: luka tembak tunggal di kepala atau dada anak-anak, fragmentasi logam kubik atau silinder yang menembus tubuh dan merobek organ, serangan terhadap distribusi makanan, bahkan permainan “Salted Fish” yang diakui oleh tentara IDF sebagai hiburan sadis. Anak-anak berdiri di antrean makanan, ditembak, terjatuh, dan tubuh mereka dikumpulkan ke rumah sakit. Tidak ada keajaiban di sini — hanya realitas yang dibentuk oleh kekuatan militer yang merasa bisa bermain dengan nyawa anak-anak.
Sejak Maret 2025, Israel menutup akses bantuan sepenuhnya ke Gaza, sementara dokter dan perawat internasional yang mencoba masuk sering ditolak. Mereka yang berbicara tentang kekejaman ini menghadapi risiko tidak bisa kembali. Namun kesaksian mereka menegaskan pola: penembakan anak-anak bukan kebetulan. Dari 65 tenaga medis yang diwawancarai New York Times, 44 menyebut mereka melihat anak berusia 12 tahun ke bawah ditembak di kepala atau dada berkali-kali, 25 menyaksikan bayi sehat kembali ke rumah sakit hanya untuk mati karena kelaparan atau infeksi. Dokter-dokter ini membawa data, foto, dan catatan medis sebagai bukti.
Sementara itu, IDF menolak klaim penggunaan fragmentasi kubik atau silinder, atau sengaja menargetkan anak-anak, tetapi bukti empiris dari dokter dan saksi berbeda. Forensik dari Leuven menyatakan, tembakan ke kepala dan dada anak-anak kemungkinan besar ditembak dari jarak jauh dengan amunisi militer standar. Analisis ini menegaskan apa yang dokter lihat: serangan ini disengaja, berulang, dan sistematis. Kekejaman IDF bukan sekadar kata, tapi fakta yang terekam di X-ray, di ICU, dan di jurnal medis mereka.
Ironi tragedi ini begitu tajam. Gaza, kota yang dianggap tanah asal kain gauze, kini anak-anaknya harus dioperasi tanpa perban. Dokter harus menggunakan tangan untuk menyedot darah. Mesin MRI, dialisis, bahkan ruang operasi dihancurkan atau dibakar. Bahan medis dan makanan bayi disita di perbatasan. Bayangkan: nyawa anak di tangan dokter yang harus berselundup demi alat, obat, atau susu bayi. Dunia menonton, sebagian diam, sebagian menelan penjelasan resmi bahwa bantuan diberikan. Kenyataannya, anak-anak tetap menumpuk di ruang darurat, korban kekejaman IDF yang terstruktur dan terukur.
Para dokter menyebut pengalaman ini tidak hanya traumatis, tetapi membangkitkan rasa bersalah mendalam: mereka bisa pergi, tetapi anak-anak tetap di sana, sebagian tanpa keluarga, tanpa masa depan. Wounded Child, No Surviving Family — klasifikasi resmi di rumah sakit Gaza untuk mereka yang selamat secara fisik tetapi kehilangan segalanya. Anak-anak ini menjadi saksi bisu pembantaian, sementara dunia politik menutup mata. Presiden AS dan sekutu tradisional Israel tetap bungkam, bahkan ketika 65 dokter dan perawat internasional bersaksi secara publik.
Kekejaman IDF pada anak-anak Gaza menembus logika perang. Ini bukan efek samping dari konflik, bukan kesalahan sniper tunggal, bukan kesalahan drone. Ini pola berulang: kepala, dada, ekstremitas, perut, bahkan organ vital, menjadi sasaran secara sistematis. Dokter dari berbagai negara melihat konsistensi ini, mengabadikan bukti, dan mengajukan peringatan. Laporan medis, foto, catatan operasi, dan kesaksian pasien muda menandai garis merah yang tak bisa diabaikan.
Dalam suasana seperti ini, setiap harapan menjadi pahit. Seorang anak yang selamat dari ledakan mungkin akan menjadi target berikutnya. Setiap antrean makanan bisa menjadi arena pembantaian. Dokter-dokter internasional yang datang sebagai penolong berubah menjadi saksi perang yang tak diinginkan. Mereka tidak hanya menyelamatkan nyawa; mereka merekam bukti kekejaman yang sistematis. Kekejaman IDF terhadap anak-anak Gaza adalah fakta, dan faktanya mengerikan.
Ketika Feroze Sidhwa berdiri di hadapan Dewan Keamanan PBB, ia bukan politikus atau diplomat. Ia adalah dokter yang melihat sendiri anak-anak ditembak, bayi mati karena kelaparan, dan rumah sakit hancur. Kesaksiannya adalah teriakan moral: dunia harus melihat. Dunia harus mendengar. Anak-anak Gaza, korban kekejaman IDF, bukan statistik; mereka manusia. Dan setiap detik diam dunia memungkinkan pola ini terus berulang.
Jika kemanusiaan memiliki batas, Gaza telah melewatinya. Jika hukum perang berarti melindungi anak-anak, maka hukum itu telah diinjak-injak di jalanan yang dipenuhi darah. Kekejaman IDF terhadap anak-anak Gaza bukan hanya tragedi lokal; ia adalah ujian bagi hati nurani internasional. Dunia menonton — sebagian diam, sebagian tersenyum getir, sementara anak-anak menjadi korban sistematis dari strategi perang yang dingin dan menghitung. Dan mereka, yang tak bersalah, menatap langit yang sepi dari keadilan.
