Opini
Tiga Bayangan Musuh Barat Berjalan Bersama
Ada pemandangan yang sulit dihapus dari ingatan: Xi Jinping berdiri di atas mobil terbuka, memberi salam kepada ribuan tentara yang berbaris rapi di Tiananmen, sementara di sisinya hadir Vladimir Putin dan Kim Jong-un. Ketiganya berjalan bersama di karpet merah, tersenyum, dan sesekali bercakap. Sebuah gambar yang terasa sederhana, tapi sarat makna. Dunia seolah ditunjukkan sebuah kenyataan baru: tiga pemimpin yang selama ini diposisikan sebagai musuh Barat kini tampil bersatu dalam satu panggung.
Pidato Xi pada momen itu menjadi semacam bingkai. Dengan kalimat tenang namun penuh bobot, ia menyatakan bahwa manusia hari ini dihadapkan pada pilihan: damai atau perang, dialog atau konfrontasi, win-win atau zero-sum. Pernyataan ini terdengar universal, seakan bicara untuk seluruh dunia, tetapi sulit mengabaikan arah pesan itu. Barat, khususnya Amerika Serikat, seakan menjadi pendengar utama. Bukan hanya karena sejarah rivalitas yang panjang, tetapi juga karena kehadiran dua tokoh lain di samping Xi, yang keduanya kini menjadi lawan utama Washington.
Di mata Barat, parade militer terbesar dalam sejarah modern China ini bukan sekadar seremoni. Ia adalah deklarasi simbolik. Xi memamerkan kekuatan militernya—dari rudal hipersonik hingga drone bawah laut—namun menyelipkan retorika damai. Sebuah kombinasi yang sengaja diciptakan: di satu sisi menunjukkan kekuatan yang siap digunakan, di sisi lain membuka ruang dialog. Artinya jelas: China dan sekutunya ingin diakui sebagai kekuatan yang tak bisa ditekan begitu saja. Mereka tidak menutup pintu diplomasi, tetapi mereka juga tidak akan tunduk pada tekanan.
Kehadiran Putin di panggung itu memperkuat pesan tersebut. Rusia yang sedang berada dalam pusaran perang Ukraina kini tampil sejajar dengan China, bukan sebagai negara yang terisolasi, melainkan bagian dari barisan. Lalu ada Kim Jong-un, sosok yang selama ini jarang meninggalkan negaranya, kini hadir langsung di Beijing bersama putrinya. Bagi Barat, ini bukan sekadar kebetulan. Ini adalah pernyataan: meski dibatasi sanksi, meski dicap sebagai “paria internasional”, mereka tetap punya panggung, bahkan panggung sebesar ibu kota China.
Semua ini terjadi dalam konteks dunia yang sejak beberapa tahun terakhir diguncang oleh retorika Donald Trump. Ancaman tarif, kebijakan sepihak, bahkan sindiran terbuka terhadap sekutu telah mengubah pola hubungan internasional. Banyak negara yang sebelumnya bergantung pada kepemimpinan Amerika kini ragu, bahkan resah. Dan di celah itulah China, Rusia, dan Korea Utara menemukan ruang untuk menunjukkan diri. Mereka bukan hanya korban sanksi Barat, tetapi juga pemain yang mampu memanfaatkan ketidakpastian yang ditinggalkan oleh politik Washington.
Ketika Trump menulis di akun pribadinya ucapan selamat kepada Xi, sambil menyelipkan kalimat sinis tentang “konspirasi melawan Amerika”, ia tanpa sadar mempertegas narasi itu. Dunia membaca bahwa bahkan dari dalam Amerika sendiri, ada pengakuan tersirat tentang arti kebersamaan tiga tokoh ini. Jika selama ini Barat selalu berusaha memisahkan mereka—mencitrakan China dengan wajah berbeda dari Rusia atau Korea Utara—maka parade di Tiananmen justru menyatukan citra itu: mereka satu barisan.
Bagi Barat, simbolisme ini jauh lebih penting daripada jumlah rudal atau panjang parade. Pesan yang ditangkap adalah bahwa konstelasi global semakin bergerak ke arah multipolar. China, Rusia, dan Korea Utara, bersama sekutu lain yang juga hadir seperti Iran dan Myanmar, sedang mengirimkan sinyal bahwa tatanan dunia lama tidak lagi absolut. Barat tidak bisa lagi mendikte sendirian. Dan ini, tentu saja, menjadi tantangan strategis yang nyata.
Xi dalam pidatonya menekankan “rejuvenasi bangsa China” dan keyakinan bahwa negaranya tidak akan terintimidasi. Di telinga Barat, itu terdengar seperti garis merah. Taiwan, Laut Cina Selatan, hubungan dagang—semuanya berada dalam bingkai pidato itu. Dengan tampil bersama Putin dan Kim, pesan itu menjadi berlapis: bukan hanya China yang menolak ditekan, tetapi juga sekutunya. Artinya, Barat akan berhadapan dengan bukan satu negara, melainkan sebuah jaringan yang saling menopang.
Pertemuan simbolis ini juga mencerminkan apa yang sering disebut sebagai “triangular ambiguity”. Apakah ketiganya benar-benar akan membentuk blok resmi melawan Barat, atau sekadar berbagi panggung demi citra, itu masih kabur. Tapi justru di situlah kekuatannya. Barat tidak bisa memastikan langkah mereka. Ambiguitas ini membuat Washington dan sekutunya harus berhitung lebih hati-hati, baik dalam kebijakan sanksi, strategi militer, maupun diplomasi.
Dari sisi Asia-Pasifik, artinya lebih dekat ke rumah kita. Kehadiran aliansi simbolik ini mempertegas bahwa ketegangan di kawasan bukan lagi sekadar soal China versus Amerika. Ada Rusia yang berusaha masuk lebih jauh ke Asia, ada Korea Utara yang memberi bobot militer, dan ada kemungkinan negara-negara lain yang akan merapat demi mencari penyeimbang kekuatan. Dengan kata lain, setiap langkah Barat di kawasan ini kini harus memperhitungkan bukan satu, tapi beberapa lawan sekaligus.
Yang jelas, pidato Xi dan pertemuan tiga tokoh itu telah memberi Barat sebuah pesan gamblang: era dominasi tunggal telah berakhir. Dunia sedang bergerak ke arah baru, di mana kekuatan-kekuatan yang dulu dianggap terisolasi kini mampu menampilkan diri bersama, bahkan dalam format spektakuler yang disiarkan ke seluruh dunia. Apakah itu berarti perang sudah di depan mata? Tidak selalu. Bisa jadi ini adalah undangan untuk berdialog dari posisi yang lebih setara. Namun pesan bahwa mereka siap menghadapi konfrontasi juga tak bisa diabaikan.
Parade di Beijing, dengan segala simbolismenya, pada akhirnya adalah panggung yang menegaskan satu hal: Barat tidak lagi berhadapan dengan lawan yang tercerai-berai, melainkan dengan sebuah koalisi—meski belum resmi—yang bisa berdiri bersama. Pidato Xi hanya menaruh bingkai pada lukisan itu. Dan bagi Barat, bingkai itu cukup jelas: pilihan ada di tangan kalian—perang atau damai, dialog atau konfrontasi.
