Opini
Surat Trump dan Jatuhnya Bayangan Kekuasaan Netanyahu
Saya membayangkan surat itu tiba di meja Presiden Isaac Herzog dengan amplop tebal, tulisan tangan khas Trump—penuh ego dan tanda seru, seperti sedang berteriak di kertas. Isinya sederhana tapi menyengat: permohonan agar Benjamin Netanyahu diampuni dari dakwaan korupsi. Dari luar tampak seperti bentuk loyalitas antara dua sahabat politik. Tapi kalau kita buka lapisan-lapisan maknanya, yang muncul bukan sekadar rasa setia, melainkan aroma busuk kekuasaan yang takut kehilangan legitimasi. Surat itu bukan sekadar tinta di atas kertas; ia adalah pernyataan politis tentang bagaimana kekuasaan mencoba menyelamatkan dirinya sendiri lewat nama keadilan.
Trump tahu benar bagaimana rasanya dikejar hukum. Ia juga tahu bagaimana mengubah kasus hukum menjadi panggung politik. Maka, ketika ia menulis bahwa Netanyahu adalah “War Time Prime Minister” dan kasusnya hanyalah “prosecution,” yang sebenarnya ia katakan adalah: “Aku seperti dia, dan dia seperti aku.” Ini bukan solidaritas moral, tapi persekutuan dalam rasa takut. Takut pada hukum, pada kejatuhan, pada ingatan publik yang semakin tak bisa ditipu. Di situ absurditasnya—dua tokoh yang sama-sama menuduh sistem hukum negaranya “bermotif politik,” tapi tanpa malu memanfaatkan politik untuk memengaruhi hukum.
Kita tahu, Netanyahu sedang terjepit. Tiga kasus korupsi—tentang hadiah mewah, media, dan pengaruh bisnis—masih menggantung di pengadilan. Tapi sekarang, dengan perang Gaza sebagai latar, semua tampak bisa dinegosiasikan atas nama “kepemimpinan di masa perang.” Dalam situasi seperti itu, surat Trump datang seperti nafas buatan, upaya menjaga ilusi bahwa Netanyahu masih pahlawan, bukan terdakwa. Ironinya, semakin keras mereka berteriak tentang “kepemimpinan,” semakin jelas bahwa yang mereka lindungi bukan negara, tapi diri sendiri.
Saya rasa ini bukan sekadar surat pengampunan. Ini mungkin bagian dari barter yang lebih rumit: bantuan politik untuk pertukaran sikap. Trump bisa saja berharap Netanyahu bersedia menerima gencatan senjata—atau minimal membuka pintu negosiasi—agar citra dirinya sebagai “pembawa damai” kembali bersinar di tahun pemilu Amerika. Politik transaksional semacam ini bukan hal baru, tapi kali ini bentuknya lebih telanjang. Pengampunan dijadikan mata uang diplomatik, seolah hukum bisa dijual beli seperti saham di bursa moral.
Namun di balik segala manuver itu, ada sosok yang justru paling sulit: Isaac Herzog. Presiden yang biasanya lebih simbolis daripada strategis kini harus berjalan di tali tipis antara hukum dan politik. Ia tak bisa menolak Trump secara terbuka—itu bunuh diri diplomatik. Tapi ia juga tak boleh tunduk, sebab itu akan menjadi preseden berbahaya: bahwa hukum di Israel bisa dibengkokkan dengan satu surat dari luar negeri. Maka Herzog memilih bahasa diplomasi paling aman: “pengampunan bisa dipertimbangkan melalui prosedur resmi.” Kalimat yang seolah netral, padahal menyimpan ketegangan luar biasa.
Bagi publik Israel sendiri, surat itu menampar kesadaran lama yang sudah letih: bahwa negara yang mengaku demokratis semakin terbiasa memaafkan diri sendiri. Reformasi yudisial yang diajukan Netanyahu tahun lalu sudah cukup menunjukkan arah: melemahkan peradilan, memperkuat kendali eksekutif, menekan oposisi. Ketika perang Gaza pecah, isu itu sempat tenggelam. Tapi surat Trump ini seperti pengingat yang getir—bahwa perang sering kali menjadi ruang paling aman bagi korupsi dan impunitas. Di tengah kobaran bom, siapa peduli dengan pengadilan?
Surat itu juga memperlihatkan kemunduran moral dari sebuah aliansi yang dulu dibangun atas klaim “nilai demokrasi.” Amerika dan Israel selama ini memposisikan diri sebagai benteng hukum, tapi kini keduanya dipimpin oleh figur yang sama-sama alergi pada akuntabilitas. Trump ingin dunia percaya bahwa hukum hanyalah alat politik; Netanyahu ingin rakyatnya percaya bahwa kejahatan pribadi bisa dihapus oleh kemenangan militer. Bersama-sama, mereka sedang membangun teologi baru kekuasaan—di mana dosa tak perlu ditebus, cukup diberi pembenaran.
Saya teringat pada kebiasaan di kampung saya: ketika seseorang berutang, lalu minta waktu tambahan dengan alasan “lagi banyak tanggungan,” orang kampung sering berkata, “ya sudah, nanti kalau lapang.” Tapi waktu berlalu, dan utang tetap utang. Pengampunan, bila tidak disertai pertanggungjawaban, hanya menunda kejatuhan. Begitu juga Netanyahu. Ia mungkin selamat hari ini, tapi sejarah tak pernah melupakan cara seseorang menyelamatkan diri dengan mengorbankan keadilan. Kita semua tahu, perang bisa menunda pengadilan, tapi tak bisa menghapus jejaknya.
Dan bukankah ini juga cermin bagi banyak negara di dunia, termasuk kita? Pemimpin yang sedang tersudut sering kali mencari pengampunan simbolik—entah lewat agama, populisme, atau surat dari sahabat politik. Mereka lupa bahwa yang dibutuhkan rakyat bukan pemimpin yang “dimaafkan,” tapi yang berani bertanggung jawab. Dalam konteks ini, surat Trump bukan hanya urusan Israel; ia adalah potret universal tentang bagaimana kekuasaan modern menolak dihukum.
Lucunya, Trump dalam surat itu sempat menulis bahwa ia “menghormati sistem hukum Israel.” Sebuah kalimat yang terdengar seperti pujian tapi terasa seperti sindiran. Menghormati, tapi meragukan. Menghormati, tapi mendikte. Seperti seseorang yang datang ke rumah orang lain, lalu bilang “saya hormat pada aturanmu,” sambil menginjak karpet tanpa melepas sepatu. Begitulah watak populisme ketika berhadapan dengan hukum—sopan di kata, kasar di makna.
Pada akhirnya, surat ini menyingkap satu hal penting: bahwa ketakutan terhadap hukum adalah bukti paling jujur dari kesalahan yang ingin disembunyikan. Trump menulis surat bukan karena ia yakin Netanyahu tidak bersalah, tapi karena ia tahu seperti apa rasanya bersalah dan ingin dilihat tidak bersalah. Ia menulis bukan demi Israel, tapi demi dirinya sendiri. Dan Netanyahu membiarkannya, karena di titik ini, semua bentuk dukungan—sekalipun datang dari seseorang yang juga sedang diburu hukum—terasa seperti oksigen.
Dunia mungkin akan melupakan isi surat itu dalam beberapa minggu. Tapi jejak politiknya akan bertahan lama: bahwa di tengah perang, di antara abu Gaza dan suara sirene, ada selembar surat yang berbicara tentang ketakutan dua pria terhadap hal yang paling sederhana—keadilan. Dan seperti semua kisah kekuasaan yang busuk, surat itu akan menjadi arsip tentang zaman ketika hukum menjadi bahan transaksi, dan kebenaran hanyalah alat retorika bagi mereka yang takut kalah di pengadilan sejarah.
