Connect with us

Opini

Surat dari Sana’a: Ketika yang Miskin Menegur Dunia Arab

Published

on

Illustration of a symbolic letter from Yemen to Gaza crossing a stormy sea, representing solidarity and resistance.

Ada sesuatu yang ganjil tapi indah dalam politik Timur Tengah hari ini. Di tengah hiruk-pikuk konferensi, resolusi, dan pidato diplomatik yang berlapis kata “solidaritas”, justru sebuah negara yang nyaris tak punya apa-apa mengirimkan surat yang membuat dunia Arab terdiam. Surat itu datang dari Sana’a—dari meja Letjen Yusuf al-Madani, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Yaman—ditujukan bukan kepada negara, tapi kepada sebuah pasukan perlawanan: Brigade al-Qassam di Gaza. Satu lembar surat, tapi terasa seperti tamparan moral bagi dunia yang sibuk berhitung keuntungan di tengah penderitaan.

Di kop resminya tertulis “Republic of Yemen – Ministry of Defense and Military Production”, lengkap dengan lambang elang dan stempel biru. Tapi isi surat itu jauh dari formalitas birokrasi. Ia lebih mirip doa sekaligus deklarasi ideologis. Kalimat pembukanya memuji Allah, lalu langsung menyapa “saudara-saudara kami yang gagah berani di Brigade al-Qassam.” Tak ada basa-basi diplomatik, tak ada kalimat basa-basi tentang “proses damai” atau “komitmen internasional”. Hanya satu pesan jelas: kami bersama kalian dalam jihad melawan Zionisme. Bukan sekadar solidaritas, tapi sumpah setia.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Saya rasa di situlah kekuatan simboliknya. Ketika negara-negara Arab kaya menimbang hubungan dagang dan tekanan geopolitik, Yaman yang dilanda perang dan kemiskinan justru berbicara dengan suara paling jujur. Negara-negara yang makmur di Teluk menghitung risiko, sementara Yaman, yang sudah kehilangan hampir segalanya, memutuskan untuk tidak berhitung sama sekali. Karena bagi mereka, kehilangan kehormatan lebih buruk daripada kehilangan apa pun yang tersisa.

Surat ini bukan hanya pernyataan dukungan. Ia adalah deklarasi moral dari negeri yang diremehkan. Di saat para penguasa Arab sibuk menandatangani kesepakatan normalisasi, Yaman—negara yang dibombardir selama hampir sepuluh tahun—menulis surat dengan bahasa yang mustahil keluar dari mulut politisi mapan. Surat itu mengikat bukan dengan tinta politik, tapi dengan darah solidaritas. Ia menegaskan bahwa perjuangan melawan Israel bukan urusan Palestina saja, melainkan tugas seluruh umat Islam. Dan yang paling menggetarkan, surat itu menyebut pertempuran Gaza sebagai ujian iman umat, bukan sekadar konflik teritorial.

Kita semua tahu, dalam kalkulasi realpolitik, tindakan Ansarullah (kelompok yang kini memimpin Yaman di Sana’a) tak masuk akal. Negara mereka miskin, terisolasi, diembargo, dan masih berperang melawan koalisi besar. Tapi justru karena itu, mereka bebas dari segala tekanan diplomatik. Tak ada yang bisa diancam, karena apa lagi yang mau diambil dari negeri yang sudah porak-poranda? Mereka sudah kehilangan segalanya—maka satu-satunya yang tersisa untuk dipertahankan adalah martabat.

Inilah yang membuat surat tersebut terasa seperti paradoks yang suci. Ketika yang kuat diam, yang lemah bersuara. Ketika yang kaya berhitung, yang miskin justru bertindak. Ketika dunia Arab sibuk menggelar pertemuan darurat yang tak menghasilkan apa-apa, seorang jenderal dari negeri yang setengah hancur malah menulis surat yang mengguncang makna solidaritas. Saya kira itu bukan sekadar politik, tapi bentuk spiritualitas yang langka di era diplomasi dingin ini.

Dalam surat itu, Yusuf al-Madani menyebut bahwa para pejuang al-Qassam sedang “menghadapi musuh Zionis atas nama seluruh umat Islam.” Kalimat itu mungkin sederhana, tapi secara politik sangat tajam. Ia mengubah posisi Gaza dari sekadar wilayah yang terkepung menjadi simbol perlawanan global. Dan di ujung surat, ada kalimat yang membuat Laut Merah bergemuruh: “Kami bersama kalian, dan bersama kalian pula kami akan mengubah pandangan bendera Israel di Laut Merah dan Arab.” Kalimat itu bukan metafora. Yaman benar-benar melakukan itu—menyerang kapal-kapal yang terkait Israel di Laut Merah sebagai bagian dari solidaritas nyata. Kata berubah menjadi aksi.

Saya membayangkan, bagaimana reaksi para diplomat di Riyadh, Doha, atau Kairo membaca surat itu. Mungkin mereka tersenyum sinis: “Itu cuma retorika.” Tapi dalam politik Timur Tengah, retorika yang lahir dari luka kadang lebih berbahaya daripada rudal. Karena ia menghidupkan imajinasi publik—membuat orang percaya bahwa kehormatan belum sepenuhnya mati di dunia Arab. Di jalan-jalan Amman, Kairo, dan Casablanca, orang-orang biasa mungkin tak tahu detail politik, tapi mereka mengerti satu hal: hanya Yaman yang berani berbicara tanpa takut kehilangan apa pun.

Ironinya, surat ini datang dari negara yang selama bertahun-tahun dijadikan contoh “kegagalan negara” oleh Barat. Negara yang ekonominya runtuh, infrastrukturnya hancur, dan rakyatnya menderita. Tapi justru dari reruntuhan itu lahir suara paling jernih tentang arti perlawanan. Sementara negara-negara Arab lain menara tinggi dengan hotel mewah dan peta investasi, Yaman—yang tak punya apa pun—memberi dunia satu hal yang tak bisa dibeli: keberanian moral.

Saya kira inilah yang membuat surat itu lebih dari sekadar pesan militer. Ia adalah pernyataan eksistensial. Bahwa kehormatan bukan produk PDB. Bahwa solidaritas tak perlu disponsori. Bahwa dalam dunia yang dikendalikan oleh kepentingan, masih ada ruang bagi keyakinan. Surat itu, dalam satu sisi, adalah cermin yang menelanjangi dunia Arab sendiri—memperlihatkan betapa jauh mereka telah berjalan dari cita-cita yang dulu diagungkan saat Palestina pertama kali dijajah.

Ada kalimat dalam surat itu yang terasa seperti doa tapi juga sindiran: “Kami bersama kalian dalam janji dan tekad.” Sebuah pengingat bahwa janji Arab terhadap Palestina tak pernah benar-benar ditepati. Janji yang dibungkus dalam diplomasi, tapi kosong di lapangan. Dan di sinilah Yaman mengingatkan dunia Arab bahwa keberpihakan tidak diukur dari seberapa kuat tentaramu, tapi seberapa teguh hatimu ketika semua orang lain memilih diam.

Sebagian orang mungkin menganggap tindakan Ansarullah ini sebagai pencitraan. Tapi bahkan jika iya, pencitraan macam apa yang mengorbankan ekonomi, mengundang ancaman serangan, dan memancing kemarahan negara-negara besar? Jika pencitraan berarti menantang dunia untuk membela yang tertindas, maka barangkali kita butuh lebih banyak pencitraan semacam itu. Karena di dunia yang serba pragmatis ini, keberanian moral memang tampak seperti keanehan.

Surat itu, bagi saya, bukan hanya catatan diplomatik. Ia adalah dokumen sejarah yang menandai kembalinya politik nurani di dunia Arab. Satu surat dari jantung Sana’a yang berani berkata pada seluruh dunia: “Kami tidak diam. Kami masih punya jiwa.” Dan mungkin, di balik semua kehancuran yang dialami Yaman, itulah satu-satunya kemenangan yang benar-benar abadi.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer