Connect with us

Opini

Spanyol Berani, Eropa Masih Bisik-Bisik

Published

on

Ilustrasi dramatis sosok Spanyol teguh memecah rantai senjata, berdiri di depan puing Gaza dan asap. Figur Eropa samar berbisik di latar belakang, sementara burung merpati terluka dan spanduk "Solidaritas untuk Palestina" menambah kedalaman simbolis. Warna merah tua, abu-abu, dan emas pudar memperkuat suasana kelam.

Di tengah deru berita yang bising, ada kabar yang menusuk: Spanyol, negeri matador yang biasanya sibuk dengan flamenco dan sangria, kini mengambil langkah berani dengan embargo senjata total terhadap Israel. Bayangkan, di saat dunia terpaku pada layar ponsel, scrolling tanpa henti, Spanyol malah berhenti sejenak, menatap cermin, dan berkata, “Cukup.” Ini bukan sekadar kebijakan; ini adalah tamparan moral di wajah dunia yang sering kali pura-pura buta. Laporan yang saya baca membuat jantungan: Spanyol tidak hanya menghentikan ekspor senjata dan teknologi penggunaan ganda ke Israel, tapi juga melarang impor produk dari pemukiman Israel di wilayah Palestina yang diduduki. Bahkan bahan bakar pesawat untuk keperluan militer dilarang transit. Ini bukan isyarat kecil; ini deklarasi. Saya rasa, di tengah hiruk-pikuk geopolitik, Spanyol sedang berteriak: “Kami tidak mau tangan kami berlumur darah Gaza.”

Pedro Sanchez, sang perdana menteri, menyebut perang di Gaza sebagai “genosida” dan “salah satu peristiwa tergelap abad ke-21”. Kata-kata itu bukan sekadar retorika untuk pidato di Columbia University, melainkan cerminan sikap tegas yang jarang kita lihat dari pemimpin Eropa. Di Eropa, yang sering kali terjebak dalam diplomasi sopan-santun, Spanyol memilih jalan berbeda. Mereka tidak hanya bicara, tapi bertindak. Embargo ini, yang disebut Menteri Ekonomi Carlos Cuerpo sebagai “bersejarah” dan “perintis”, adalah langkah nyata untuk menekan Israel agar menghentikan agresinya di Gaza. Tapi, mari kita jujur: seberapa besar dampaknya? Israel masih punya AS, Jerman, dan sekutu lain yang siap memasok senjata. Spanyol, dengan ekspor senjatanya yang relatif kecil, mungkin hanya seperti semut yang mencoba menggoyang gajah. Tapi, bukankah semut yang berani itu tetap punya nyali lebih besar daripada gajah yang diam saja?

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Kita semua tahu, di Indonesia, isu Palestina selalu menyentuh hati. Dari masjid-masjid di Jakarta sampai warung kopi di Jogja, cerita penderitaan Gaza mengalir bagai air mata. Spanyol, dengan langkahnya ini, seolah-olah ikut duduk di warung itu, mendengar keluh kesah rakyat Palestina, dan berkata, “Kami dengar kalian.” Embargo ini bukan cuma soal senjata; ini soal simbol. Ini soal menolak jadi bagian dari mesin perang yang menghancurkan rumah-rumah, sekolah, dan mimpi anak-anak Gaza. Ketika Sanchez berbicara di PBB, dia tidak hanya mewakili Spanyol, tapi juga suara-suara yang sering kali tenggelam di bawah kepentingan politik dan ekonomi. Dia bilang dunia tidak boleh “diam dan lumpuh”. Ironis, bukan? Di saat banyak negara Eropa sibuk menimbang untung-rugi, Spanyol malah berani bertaruh reputasi diplomatiknya.

Tapi, jangan salah sangka. Langkah Spanyol ini bukan tanpa cacat. Embargo ini masih harus melewati parlemen, di mana koalisi Sanchez tidak punya mayoritas. Bayangkan, sebuah langkah moral sebesar ini bisa tersandung oleh politik domestik yang remeh-temeh. Ini seperti seorang pahlawan yang siap menyelamatkan dunia, tapi terhenti karena lupa bawa kunci rumah. Dan meski Spanyol berani, dunia tahu Israel tidak akan kehabisan senjata. AS, dengan kontrak militernya yang bernilai miliaran dolar, tidak akan berhenti mengguyur Israel dengan rudal dan jet tempur. Jerman, yang selalu bermain aman di bawah bayang-bayang sejarahnya, juga tidak akan mengikuti jejak Spanyol dalam waktu dekat. Jadi, apa artinya embargo ini? Saya bilang, ini seperti menyalakan lilin di tengah badai. Cahayanya kecil, tapi setidaknya ada yang berani menyalakan.

Mari kita tarik napas sejenak dan renungkan. Di Indonesia, kita sering mendengar kisah-kisah heroik tentang perjuangan melawan penjajahan. Kita tahu bagaimana rasanya ketika dunia diam saat rakyat menderita. Spanyol, dengan embargo ini, seperti sedang mengingatkan kita pada semangat itu. Mereka tidak sekadar menolak senjata; mereka menolak complicity, keterlibatan dalam dosa kolektif dunia yang membiarkan Gaza berdarah. Tapi, ada ironi pahit di sini. Dunia yang riuh mengecam Gaza sering kali lupa bahwa tangan mereka sendiri tidak sepenuhnya bersih. Inggris masih menjual komponen senjata. Prancis masih bermain di dua sisi. Dan kita, di Indonesia, yang begitu lantang menyuarakan solidaritas, kadang lupa bahwa produk-produk dari perusahaan global yang kita beli bisa saja terkait dengan rantai pasok yang sama.

Saya rasa, langkah Spanyol ini bukan cuma soal Gaza, tapi juga soal harga diri sebuah bangsa. Bayangkan kalau kamu punya tetangga yang setiap hari membuang sampah di halaman rumahmu. Kamu bisa diam, pura-pura tidak tahu, atau kamu bisa berdiri dan bilang, “Cukup, ini rumahku.” Spanyol memilih yang terakhir. Mereka tidak mau rumah mereka—politik, ekonomi, dan moral mereka—dikotori oleh keterlibatan dalam konflik yang mereka anggap salah. Tapi, dunia ini bukanlah dongeng. Embargo Spanyol mungkin tidak akan menghentikan perang di Gaza. Rudal-rudal itu akan tetap terbang, dan air mata akan terus mengalir. Tapi, setidaknya, Spanyol bisa tidur dengan hati yang sedikit lebih tenang, tahu bahwa mereka tidak ikut memegang pelatuk.

Ada sesuatu yang menggelitik di sini. Eropa, yang sering kali membanggakan diri sebagai benteng demokrasi dan hak asasi manusia, ternyata penuh kontradiksi. Di satu sisi, mereka mengutuk kekerasan; di sisi lain, mereka tetap menjual senjata. Spanyol, dengan segala kekurangannya, setidaknya berani keluar dari lingkaran munafik itu. Mereka tidak hanya bicara soal kemanusiaan; mereka bertindak. Tapi, jangan terlalu naif. Politik itu seperti pasar malam: penuh warna, tapi juga penuh tipu daya. Sanchez mungkin punya motif lain—mungkin ingin menyenangkan basis pemilihnya, mungkin ingin mencuri perhatian di panggung dunia. Tapi, apa pun motifnya, hasilnya tetap sama: Spanyol mengambil langkah yang membuat kita semua harus berhenti dan berpikir.

Saya tidak bisa tidak membandingkan ini dengan apa yang kita lihat di sekitar kita. Di Indonesia, kita sering kali terjebak dalam kemarahan yang singkat. Kita demo, kita teriak, tapi lalu apa? Spanyol mengajarkan sesuatu: kemarahan itu harus diterjemahkan jadi tindakan. Tidak harus besar, tapi harus nyata. Bayangkan kalau setiap negara kecil berani melakukan apa yang Spanyol lakukan. Bayangkan kalau setiap orang, di warung kopi atau di grup WhatsApp, mulai bertanya, “Apa yang bisa kita lakukan?” Mungkin dunia tidak akan berubah dalam semalam, tapi setidaknya kita tidak lagi jadi penonton yang bisu.

Saat menulis ini, saya membayangkan wajah-wajah anak-anak Gaza, yang rumahnya kini tinggal puing. Saya membayangkan ibu-ibu yang kehilangan segalanya, tapi masih berdoa di bawah langit yang penuh asap. Spanyol, dengan embargo ini, seperti sedang mengulurkan tangan ke mereka, meski dari jauh. Tapi, tangan itu tidak akan cukup jika berdiri sendiri. Dunia butuh lebih banyak Spanyol—lebih banyak keberanian, lebih banyak tindakan. Kita semua tahu, diam itu nyaman, tapi juga mematikan. Spanyol memilih bergerak, dan itu membuat saya tersenyum getir. Karena di tengah dunia yang penuh kepalsuan, setidaknya ada satu yang berani jujur, meski hanya selangkah.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer