Connect with us

Opini

Setahun yang Hilang di Suriah

Published

on

Ilustrasi editorial simbolik tentang transisi Suriah pasca-Assad, menampilkan cermin retak di jalan kota yang sunyi sebagai metafora ingatan dan kekerasan yang tersisa.

Damaskus tidak pernah benar-benar merayakan kejatuhan Bashar al-Assad. Pada hari-hari pertama setelah kekuasaan berganti, kota itu justru tampak seperti seseorang yang baru terbangun dari mimpi buruk panjang—bingung, lelah, dan belum sepenuhnya yakin apakah ia sudah aman. Poster-poster lama dicopot, slogan diganti, tetapi tembok-tembok yang retak oleh peluru tetap berdiri, menyimpan ingatan yang tidak ikut tumbang bersama rezim.

Bagi banyak warga Suriah, berakhirnya kekuasaan Assad bukanlah kemenangan, melainkan jeda. Jeda dari satu bentuk kekerasan menuju ketidakpastian yang lain. Ahmad al-Sharaa muncul sebagai figur transisi di tengah harapan yang rapuh. Ia berbicara tentang rekonsiliasi, stabilitas, dan negara hukum—bahasa yang terdengar akrab bagi masyarakat yang telah lama hidup bersama janji. Namun kelelahan kolektif membuat publik memilih memberi waktu. Setelah lebih dari satu dekade perang, harapan tidak lagi lahir dari optimisme, melainkan dari keinginan sederhana untuk berhenti takut.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Hari-hari awal pemerintahan baru diisi oleh upaya menata ulang negara yang porak-poranda. Aparat keamanan berganti seragam, milisi diberi label integrasi, hukum diumumkan kembali. Namun di lapangan, negara hadir dalam bentuk yang terfragmentasi. Di satu pos pemeriksaan, warga disambut dengan senyum. Di pos lain, senjata diarahkan tanpa penjelasan. Negara belum berbicara dengan satu suara; ia masih berupa pecahan-pecahan kekuasaan yang belum menyatu.

Transisi ini sejak awal berjalan di atas fondasi rapuh. Struktur lama tidak sepenuhnya dibongkar, sementara struktur baru belum mapan. Kekuasaan bergerak lebih cepat daripada akuntabilitas. Dan seperti banyak transisi berdarah dalam sejarah, celah itu segera diisi oleh kekerasan.

Di sinilah angka mulai mengambil alih peran pidato

Dalam setahun pertama pemerintahan Ahmad al-Sharaa, statistik berbicara lebih jujur daripada pernyataan resmi. Data Syrian Network for Human Rights mencatat ribuan kematian warga sipil sepanjang 2025. Kekerasan itu sebagian besar tidak terjadi dalam pertempuran terbuka, melainkan dalam operasi keamanan, serangan balasan, eksekusi di luar proses hukum, serta kematian di ruang tahanan. Angka-angka ini menunjukkan satu pola yang konsisten: kekerasan tidak berhenti, ia hanya berganti rupa.

Januari 2025 dibuka dengan ratusan korban sipil, termasuk anak-anak dan perempuan. Angka ini memang lebih rendah dibandingkan tahun-tahun puncak perang, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa transisi belum menjamin keselamatan. Februari tidak membawa jeda berarti. Pola kekerasan berulang—penembakan di pos pemeriksaan, serangan terhadap permukiman, kematian di tahanan. Negara yang baru berdiri belum sepenuhnya menguasai aparat dan senjata yang beredar.

Puncaknya datang pada Maret. Dalam satu bulan, lebih dari 1.500 orang tewas. Dalam rentang lima hari saja—6 hingga 10 Maret—lebih dari 800 orang dibunuh secara di luar hukum di wilayah pesisir seperti Latakia, Tartus, dan Hama. Lonjakan ini bukan sekadar anomali statistik, melainkan retakan struktural. Negara kehilangan kendali atas kekerasan, warga sipil kembali menjadi sasaran utama, dan mekanisme hukum gagal merespons dengan kecepatan serta ketegasan yang dibutuhkan.

Tragedi Maret memperlihatkan wajah paling gelap dari transisi. Kekerasan tidak datang dari satu aktor tunggal. Aparat keamanan, milisi terafiliasi, kelompok bersenjata lokal, hingga unsur asing terlibat dalam pusaran balas dendam yang lepas kendali. Ketidakjelasan rantai komando mengaburkan batas antara operasi keamanan dan pembalasan sektarian. Dalam kekacauan itu, anak-anak, perempuan, tenaga medis, dan jurnalis ikut menjadi korban.

Setelah Maret, grafik kematian memang menurun. Namun penurunan ini justru menandai fase paling berbahaya dalam konflik berkepanjangan: normalisasi kematian. April hingga paruh kedua tahun memperlihatkan stabilitas semu. Tidak ada lagi ledakan besar yang menyita perhatian dunia, tetapi tidak ada satu bulan pun tanpa korban sipil. Anak-anak tetap masuk daftar. Penyiksaan tetap tercatat. Tenaga medis dan warga sipil masih tewas dalam insiden yang jarang diselidiki secara tuntas.

Inilah stabilitas yang dibangun di atas pengabaian.

Negara dapat menunjuk grafik yang menurun sebagai tanda keberhasilan. Tetapi bagi keluarga korban, setiap angka adalah dunia yang runtuh. Dalam kerangka hak asasi manusia, satu kematian pun sudah terlalu banyak—terlebih ketika terjadi di bawah pemerintahan yang mengklaim diri sebagai transisi menuju negara hukum.

Pemerintah merespons dengan membentuk komite investigasi dan mengeluarkan pernyataan penenang. Bahasa yang digunakan terdengar penting secara politik: situasi kompleks, sisa konflik, tantangan keamanan. Namun hingga akhir tahun pertama, hampir tidak ada pelaku yang benar-benar dimintai pertanggungjawaban di pengadilan. Kompleksitas sering dijadikan alasan untuk menunda keadilan. Padahal bagi korban, kompleksitas tidak pernah mengurangi penderitaan.

Ketimpangan antara jumlah korban dan minimnya akuntabilitas inilah yang perlahan mengikis kepercayaan publik. Statistik korban bertambah, sementara statistik pelaku yang dihukum nyaris nol. Di titik ini, angka tidak lagi sekadar data; ia berubah menjadi dakwaan diam-diam terhadap negara.

Pertanyaan moral transisi Suriah pun semakin tajam: apakah negara ini sedang dibangun untuk melindungi warga, atau sekadar mengelola kekerasan agar tampak lebih tertib? Apakah stabilitas diukur dari menurunnya sorotan internasional, atau dari berkurangnya rasa takut masyarakat? Apakah ketenangan semu layak dibayar dengan pengorbanan keadilan?

Setahun pertama pemerintahan Ahmad al-Sharaa memberikan satu pelajaran pahit. Transisi tanpa reformasi aparat, tanpa akuntabilitas yang tegas, dan tanpa keberpihakan pada korban hanya akan mengulang kekerasan dengan nama baru. Negara yang enggan mengadili pelaku kekerasan akan selalu tergoda untuk mengorbankan keadilan demi ketenangan sesaat.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi satu rezim atau memutihkan rezim lain. Ia ditulis untuk mencatat. Karena dalam sejarah Suriah, yang paling sering hilang bukan hanya nyawa, tetapi juga ingatan. Transisi yang tidak dicatat dengan jujur akan mengulang kekerasan dengan cara yang lebih rapi, lebih sunyi, dan sering kali lebih berbahaya.

Setahun pertama selalu menjadi cermin. Di Suriah pasca-Assad, cermin itu sudah dipasang. Yang tersisa adalah keberanian untuk melihat pantulannya—dan keberanian yang lebih besar lagi untuk tidak berpaling.

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Ketika Suriah Tunduk di Kaki Netanyahu dan Israel

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer