Opini
Serangan Israel ke Qatar Bongkar Wajah Ganda AS
Ada ironi yang tak bisa ditutupi. Dunia menyaksikan jet tempur Israel mengebom Doha, jantung Qatar, hanya beberapa kilometer dari pangkalan militer terbesar Amerika Serikat di kawasan. Darah tumpah, enam orang tewas, termasuk seorang perwira keamanan Qatar. Namun yang lebih menyesakkan bukan sekadar dentuman roket, melainkan bisikan diplomasi: serangan ini berlangsung sementara para pemimpin Hamas sedang membicarakan proposal gencatan senjata yang justru datang dari Presiden Donald Trump. Inilah absurditas yang membuat dada sesak—perdamaian diperdagangkan, lalu dikhianati di meja yang sama.
Trump bereaksi. Tapi reaksinya, ah, apa bedanya dengan opera sabun politik yang selalu ia mainkan. Di depan kamera, ia berkata merasa “sangat sedih” dengan lokasi serangan. Ia bahkan mengaku “tidak senang.” Kata-kata itu terdengar manis, bahkan tampak diplomatis. Tetapi di balik layar, fakta berkata lain: Israel tidak mungkin bisa menembus ruang udara Qatar tanpa lampu hijau dari Washington. Apalagi serangan terjadi begitu dekat dengan Al Udeid, pangkalan yang penuh radar dan sistem pertahanan udara AS. Mustahil Amerika tak tahu. Mustahil pula Netanyahu bertindak sendirian. Jadi, jika Trump menyebut dirinya “tidak senang,” kita tahu itu hanya retorika yang menguap di udara, bukan cermin kebijakan nyata.
Pola ini bukan hal baru. Beberapa bulan lalu, saat Israel melancarkan serangan ke Iran, cerita yang sama diputar ulang. Washington semula berpura-pura kaget, menolak dikaitkan, lalu tiba-tiba ikut menyerang target Iran. Dunia tentu bisa membaca pola itu, tetapi Trump tetap tampil percaya diri seolah semua orang buta. Seolah pernyataan publik bisa menghapus fakta lapangan. Seolah menyebut “kami tidak tahu” cukup untuk menutup rapat-rapat keterlibatan yang jelas.
Serangan Israel ke Qatar memperlihatkan dengan telanjang wajah ganda AS. Di hadapan publik, mereka menjual kata-kata indah: penyesalan, keprihatinan, dorongan perdamaian. Tetapi di ruang gelap diplomasi, mereka memberi perlindungan penuh bagi Israel, bahkan restu jika diperlukan. Ada kesan seakan-akan Washington sedang bermain dua panggung: satu panggung untuk konsumsi kamera, satu panggung lain untuk merancang strategi kotor. Dan dua panggung ini selalu dipertahankan karena menyelamatkan kepentingan domestik mereka, khususnya lobi Israel yang begitu kuat di Amerika.
Qatar menyebut serangan itu sebagai “pengkhianatan.” Tentu saja. Bagi Doha, serangan ini bukan sekadar agresi, melainkan tamparan: ini terjadi saat mereka tengah memfasilitasi proses gencatan senjata. Jika mediasi dianggap tidak lebih dari panggung boneka, mengapa Qatar harus terus meminjamkan ruang dan legitimasi? Pertanyaan ini menggema lebih luas: apakah negara-negara Teluk masih bisa mempercayai AS sebagai penjaga keamanan? Atau mereka akhirnya sadar, payung keamanan Amerika ternyata penuh lubang, lebih banyak hiasan ketimbang perlindungan.
Saya rasa di sinilah titik kritisnya. Negara-negara Teluk tentu masih butuh kerja sama militer dengan AS, tetapi rasa percaya sedang terkikis. Seperti pada 2019, saat drone menghantam kilang minyak Saudi, Trump enggan membela Riyadh. Peristiwa itu memaksa Saudi merapat ke Iran lewat mediasi Tiongkok. Kini, dengan Qatar diserang di depan hidung AS, wajar bila negara Teluk kembali meragukan “payung” yang selama ini dijanjikan. Dan kita tahu, ketika rasa percaya runtuh, negara-negara itu akan mencari alternatif, entah ke Beijing, entah ke Moskow, atau bahkan menegosiasikan ulang peta hubungan regional.
Ironi lain muncul dari Netanyahu. Alih-alih meredam ketegangan, ia justru bergurau soal serangan ke Qatar di sebuah acara resmi. Ia bahkan menyebut Trump pernah bercanda tentang “properti pantai di Gaza” yang bisa dijadikan Riviera. Bayangkan: Gaza yang sedang luluh lantak, rakyatnya kelaparan, justru dibicarakan sebagai proyek properti eksklusif. Humor macam apa ini? Kita mungkin tersenyum getir, tapi di baliknya ada cermin kejam: bagi sebagian elite, perang dan penderitaan hanyalah latar panggung untuk fantasi ekonomi.
Trump sendiri menambah absurditas dengan mengatakan serangan ke Qatar bisa menjadi “kesempatan untuk damai.” Ungkapan itu nyaris terdengar seperti satire. Bagaimana mungkin pemboman, yang menewaskan orang-orang tak berdosa, dianggap sebagai pintu menuju perdamaian? Logika ini mungkin laku di Washington, tapi di mata dunia Islam, itu adalah penghinaan. Perdamaian tidak dibangun di atas pengkhianatan; ia dibangun di atas kepercayaan. Dan kepercayaan itulah yang kini hancur berkeping-keping.
Serangan Israel ke Qatar, pada akhirnya, bukan hanya soal geopolitik. Ia juga soal moralitas yang runtuh. Amerika, dengan segala klaimnya sebagai negara superpower, justru terjebak dalam hipokrisi yang vulgar. Mereka menganggap bisa bermain dua wajah tanpa konsekuensi. Tetapi konsekuensi itu nyata: kredibilitas AS kian runtuh, bahkan di mata sekutu dekatnya. Dunia melihat dengan jelas, dan setiap kali Washington berkata “kami menyesal,” gema sinis pun terdengar: menyesal, tapi tetap memberi senjata. Menyesal, tapi tetap menutup mata. Menyesal, tapi tidak pernah berhenti merestui.
Di Indonesia, kita mengenal istilah “muka dua” sebagai ejekan untuk orang yang tak bisa dipercaya. Dalam kasus ini, AS memperlihatkan bahwa ia bukan sekadar bermuka dua, melainkan telah menjadikan hipokrisi sebagai kebijakan resmi. Opera sabun politik yang dimainkan Trump dan Netanyahu boleh jadi masih menghibur sebagian penonton domestik mereka. Tapi di panggung global, cerita ini semakin hambar. Dunia tidak lagi tertawa atau terhanyut; dunia justru muak.
Dan di sinilah letak bahaya yang lebih besar. Saat negara-negara besar kehilangan kredibilitas, ruang kosong itu akan diisi pihak lain. Tiongkok, misalnya, sudah terbukti mampu memediasi rekonsiliasi Saudi–Iran. Jika Washington terus gagal menjaga sekutu, maka kepemimpinan global mereka akan terkikis sedikit demi sedikit, digantikan aktor baru yang lebih konsisten. Amerika mungkin tak sadar, tapi setiap serangan seperti ini—dan setiap hipokrisi yang menyertainya—adalah paku lain di peti mati reputasi mereka.
Serangan Israel ke Qatar bukan sekadar ledakan bom. Ia adalah ledakan kepercayaan. Amerika, dengan wajah ganda yang terus dipertontonkan, sedang menggali jurang yang memisahkan dirinya dari sekutu, dari dunia Islam, bahkan dari citra yang selama ini mereka banggakan. Dan kita, para penonton opera sabun ini, hanya bisa menyaksikan sambil bertanya: sampai kapan dunia harus dipaksa percaya pada sandiwara yang sama?
Sumber:
- https://www.aljazeera.com/news/2025/9/11/trump-response-to-israels-qatar-attack-undermines-us-credibility-analysts
- https://www.nbcnews.com/world/israel/rubio-israel-us-support-qatar-attack-gaza-ceasefire-west-bank-rcna231095
- https://english.almayadeen.net/news/politics/israeli-media–us-betrayed-qatar–gave-green-light-for-attac

Pingback: Kebohongan Pertahanan Diri Israel di Gaza