Opini
Semakin Menekan Gaza, Semakin Rapuh Netanyahu
Di malam yang dipenuhi lampu darurat dan kabut tebal debu, Gaza terasa seperti kota yang lupa bagaimana caranya bernafas. Suara ledakan menjadi ritme harian; tangisan menjadi latar musik yang tak kunjung henti. Di pihak lain, di ruang rapat yang steril dan ber-AC, Benjamin Netanyahu tampak berusaha menetapkan narasi yang keras: tekanan maksimum, kemenangan total. Ironi ini pekat—semakin ia menekan Gaza, semakin retak pula fondasi politik yang menopang kekuasaannya.
Angka-angka yang dilaporkan mengetuk nurani. Lebih dari 65.000 jiwa dilaporkan tewas, ratusan ribu mengungsi, dan setengah juta orang masih terperangkap di dalam reruntuhan. Ketika kekerasan mencapai skala ini, pertanyaan dasar muncul: untuk siapa perang ini dijalankan? Saya rasa perang yang digembar-gemborkan demi “keamanan” tidak lagi mampu menyembunyikan tujuan politiknya. Ketika statistik menjadi alat legitimasi, mereka juga berubah menjadi timbangan yang menimbang reputasi pemimpin. Suara itu menuntut pertanggungjawaban, bukan retorika panjang dan basi.
Retakan di pucuk pimpinan bukan sekadar perbedaan selera. Kepala Staf Eyal Zamir dan Kepala Mossad David Barnea menolak beberapa kebijakan utama—dari serangan ke Qatar hingga operasi penuh ke Gaza City—karena khawatir akan biaya manusia dan strategisnya. Netanyahu, yang dikenal lihai memanipulasi narasi domestik, memilih jalan unilateral. Namun jalan itu membawa risiko: ketika militer dan intelijen pergi melawan arus, legitimasi sipil merosot. Dalam bahasa sederhana: suara-suara profesional mulai tidak diindahkan. Kita melihat dampak langsung pada kehidupan warga yang terus terguncang.
Kita semua tahu betapa bahayanya pemerintahan yang menggantung pada ketakutan publik. Di Tel Aviv, dukungan publik yang tadinya solid kini berbalik manakala realitas perang menyentuh kehidupan sehari-hari: anak-anak tanpa sekolah, keluarga kehilangan sandaran, ekonomi terseret. Survei menunjukkan mayoritas mulai menghendaki negosiasi untuk pulangkan sandera. Ketika rakyat sendiri mengeluh, mekanisme politik yang biasanya menopang seorang perdana menteri menjadi rapuh—lebih rapuh daripada retorika yang diucapkan para pembela. Keputusan semacam ini menguji batas kesabaran institusi negara dan profesionalnya.
Netanyahu tampak memainkan dua kartu sekaligus: keras di panggung internasional, dan oportunis di panggung domestik. Menolak gencatan bertahap yang disepakati oleh pihak-pihak tertentu dan kemudian menuntut perjanjian komprehensif adalah contoh klasik bermain aman secara politis namun berbahaya secara strategis. Seperti tukang tambal ban yang merobek ban lain untuk menutup kebocoran sendiri, tindakan ini menghasilkan luka baru—baik pada reputasi maupun pada koalisi internalnya. Rasa lelah publik muncul bukan tiba-tiba melainkan karena luka menumpuk.
Tekanan internasional kini berubah menjadi beban yang menggerogoti. Tuduhan Mahkamah Pidana Internasional dan kecaman Eropa bukanlah gertak sambal; itu adalah bula-bula di air yang menandakan ada sesuatu yang sedang mendidih. Dukungan dari faksi politik tertentu di Amerika mungkin memberi napas pendek, tetapi legitimasi jangka panjang lahir dari konsensus global, bukan dari simpati sekelompok kecil pengikut. Ketika negara-negara teman mulai mengangkat alis, isolasi menjadi ancaman nyata. Retorika keamanan tidak menutupi kerapuhan kebijakan yang menambah korban.
Ada sisi politik domestik yang lebih kotor: menahan perang untuk mempertahankan kursi, menunda pertanggungjawaban atas kegagalan intelijen 7 Oktober. Taktik ini mungkin efektif dalam jangka pendek, namun sejarah menunjukkan bahwa legitimasinya rapuh. Rakyat mudah terluka oleh biaya perang ketika mereka melihat anak-anak mati di layar televisi dan mendengar cerita sandera yang tak kunjung pulang. Rasa sakit itu berubah menjadi bahan bakar untuk ketidakpercayaan. Analisis tenang menunjukkan biaya politik dari konflik terus meningkat tajam.
Saya tidak sedang membela Hamas atau mendiamkan kejahatan; saya menolak logika yang mengorbankan jutaan nyawa demi stabilitas politik yang rapuh. Kita perlu memahami: semakin Netanyahu menekan Gaza, semakin banyak lembaga dan individu kunci yang merasa terkhianati. Militer, intelijen, dan bahkan lapisan masyarakat yang dulu mendukung kini bertanya—apakah tujuan perang ini masih rasional, atau hanya alat bertahan hidup politik? Kita wajib mempertimbangkan efek regional: tetangga muak dan diplomasi terganggu.
Analogi lokal membantu menangkap absurditasnya. Bayangkan sebuah desa yang mencoba menyelesaikan perselisihan dengan membakar sawah sendiri. Sekali api menyala, bukan hanya musuh yang menderita; lahan kita juga habis. Begitu pula kebijakan yang membakar Gaza: dampaknya meluas, menular, dan bahkan kembali membakar rumah pembuatnya. Di Indonesia kita paham, harga yang harus dibayar jika pemimpin memilih jalan kekerasan demi bertahan; ongkos sosialnya selalu jauh lebih mahal. Pertanyaan sederhana tetap relevan: siapa menanggung beban rekonstruksi nantinya?
Krisis kepemimpinan ini juga membuka pintu bagi ekstrem kanan. Ketika moderasi runtuh, ruang publik diambil alih oleh yang paling bising. Netanyahu berkali-kali memanfaatkan elemen garis keras untuk menjaga koalisi, namun itu seperti menaruh bahan bakar pada api yang merusak. Kekuatan yang lahir dari ketakutan sering kali menjadi monster yang tak mudah dijinakkan kembali. Narasi nasional dipaksakan sering berhadapan dengan realitas brutal di lapangan.
Ada pula dimensi moral yang tak bisa diabaikan. Tuduhan penggunaan kelaparan sebagai senjata dan kemungkinan genosida bukanlah kata-kata kosong dalam laporan hukum; itu menempel pada wajah politik yang bertindak seolah norma-norma kemanusiaan adalah opsi yang bisa dipilih-pilih. Kita, sebagai pengamat global, harus bersikap tegas: menyamakan keselamatan warga sipil dengan pengorbanan politik adalah amoral. Kadang etika dikorbankan demi kepentingan jangka pendek yang mahal.
Mungkin yang paling ironis adalah bahwa strategi yang dimaksudkan untuk memperkuat posisi politik justru menelan kredibilitas itu sendiri. Semakin keras tekanan, semakin banyak celah yang terlihat—celah antara retorika dan realitas, antara klaim keamanan dan angka korban, antara janji politik dan kemanusiaan yang hancur. Di titik itu, kredibilitas runtuh, dan apa yang tersisa hanyalah konfrontasi tanpa resolusi. Perilaku pemimpin bertahan melalui konflik menimbulkan banyak tanda tanya etis.
Kita harus bertanya pada diri sendiri: apakah musuh yang ingin dihilangkan dengan kekerasan itu berakhir, atau hanya berubah bentuk menjadi luka kolektif yang mempercepat pembusukan struktur politik? Saya rasa jawabannya jelas. Kekerasan tanpa solusi politik hanya memperpanjang siklus penderitaan dan membuat pemimpin yang mengandalkan kekerasan itu semakin sendirian dan rapuh. Kita harus menuntut transparansi dan rencana politik nyata, bukan stereotip.
Pada akhirnya, narasi yang ingin dipertahankan Netanyahu — bahwa kekerasan adalah jawaban terakhir demi keselamatan negara — terbalik oleh fakta empiris yang sederhana: semakin ia menekan Gaza, semakin rapuh pula posisinya di dalam negeri dan panggung internasional. Itu bukan kebetulan; itu hukum politik dasar. Dan ketika hukum itu berlaku, kita semua harus memilih: apakah kita akan terus memberi ruang pada retorika yang membunuh, atau menuntut jalan keluar yang mengedepankan kemanusiaan dan akal sehat? Sikap internasional yang tegas dapat menjadi penyeimbang; jangan abaikan itu. Netanyahu akan mendapati waktu tak bisa dibeli dengan peluru dan propaganda.

Pingback: Agenda Tersembunyi Proposal Damai Gaza AS