Opini
Saudi–UEA di Yaman: Perang Tanpa Deklarasi
Ada sesuatu yang ganjil, hampir absurd, ketika dua negara yang bertahun-tahun tampil sebagai “sekutu” justru saling melukai tanpa pernah mengucapkan kata perang. Di Yaman, keganjilan itu terasa nyata. Udara panas Aden, pelabuhan-pelabuhan yang dulu diperebutkan dengan dalih stabilitas, dan figur pemimpin lokal yang tiba-tiba harus melarikan diri—semuanya memberi kesan bahwa kita sedang menyaksikan sebuah konflik yang dipentaskan setengah hati. Tidak ada deklarasi, tidak ada pidato berapi-api, tapi ada pukulan. Keras. Tepat sasaran. Saya rasa, inilah wajah asli perang Saudi vs UEA di Yaman: sunyi di permukaan, gaduh di dalam.
Tulisan saya sebelumnya berbicara tentang keretakan. Saat itu, banyak yang masih berpegang pada keyakinan bahwa Saudi dan UEA hanya sedang berbeda pendapat, seperti rekan bisnis yang bertengkar soal arah investasi. Namun laporan terbaru tentang tekanan Saudi terhadap Dewan Transisi Selatan (STC)—yang selama ini dikenal sebagai aset utama UEA di selatan Yaman—membuat keretakan itu terasa naif jika masih disebut sekadar retak. Ketika seorang pemimpin STC harus keluar dari Yaman melalui jalur tidak biasa, ketika tuduhan pengkhianatan dilemparkan, dan ketika kepentingan UEA diserang secara sistematis, kita dipaksa mengakui satu hal: ini sudah masuk wilayah permusuhan. Bukan perang konvensional, tapi jelas bukan lagi kerja sama.
Di titik ini, istilah “perang proksi” sering muncul. Tapi istilah itu terlalu dingin, terlalu akademis, seolah-olah yang terjadi hanyalah pergeseran papan catur. Dalam bahasa yang lebih membumi—dan saya sengaja meminjam kearifan lokal—ini adalah nabok nyilih tangan. Memukul, tapi memakai tangan orang lain. Saudi tidak mengebom Abu Dhabi. UEA tidak mengirim jet tempur ke Riyadh. Namun Saudi memukul struktur politik yang dibangun UEA bertahun-tahun di Yaman selatan. Dan UEA, dengan diam yang terukur, membiarkan Saudi terjebak dalam lumpur konflik yang makin dalam. Ini bukan salah paham; ini pilihan sadar.
Perang Saudi vs UEA di Yaman menjadi unik karena kedua pihak sama-sama menyangkal kata “perang”. Mereka berbicara tentang stabilitas, legitimasi, dan keutuhan negara. Tapi mari jujur. Ketika Saudi menyerang atau menekan kelompok yang jelas-jelas menjadi tulang punggung pengaruh UEA, itu bukan lagi upaya penataan internal Yaman. Itu pesan. Pesan yang berbunyi: “Wilayah ini bukan lagi milikmu.” Dan pesan seperti ini, kita semua tahu, adalah bahasa konflik.
Ironinya, konflik ini terjadi di atas puing-puing Yaman yang sudah lama hancur. Negara itu seperti rumah tua yang atapnya bocor, dindingnya retak, dan lantainya rapuh. Alih-alih memperbaiki, dua “tamu” utama justru berebut kamar terbaik. Saudi ingin memastikan rumah itu tetap satu, meski reyot, karena rumah yang terpecah bisa menimbulkan masalah di halaman belakangnya sendiri. UEA, sebaliknya, tampak lebih nyaman jika sebagian rumah bisa ia kelola langsung, tanpa harus menunggu persetujuan pemilik sah yang lemah. Dari sini, konflik menjadi tak terelakkan.
Saya rasa banyak pembaca di Indonesia bisa memahami logika ini. Kita sering melihat konflik serupa di level lokal: dua elite yang awalnya satu barisan, lalu saling jegal saat kepentingan mulai bertabrakan. Tidak ada yang mau terlihat sebagai penjahat. Semua mengklaim demi kepentingan bersama. Tapi di balik layar, saling sikut sudah jadi kebiasaan. Bedanya, di Yaman, yang menjadi korban bukan hanya reputasi, melainkan nyawa dan masa depan jutaan orang.
Yang membuat perang Saudi vs UEA di Yaman semakin getir adalah cara ia dibungkus. Saudi berbicara tentang legitimasi pemerintah Yaman. UEA berbicara tentang keamanan dan stabilitas lokal. Dua-duanya terdengar mulia. Namun di lapangan, yang terjadi adalah fragmentasi. STC ditekan, struktur kekuasaan di selatan goyah, dan konflik horizontal berpotensi muncul kembali. Houthi di utara mungkin tersenyum melihat lawan-lawannya sibuk bertengkar sendiri. Dalam politik kawasan, ini bukan ironi kecil; ini kesalahan strategis yang mahal.
Ada yang berargumen bahwa semua ini masih bisa diperbaiki. Bahwa Saudi dan UEA terlalu rasional untuk membiarkan konflik ini membesar. Saya tidak sepenuhnya setuju. Rasionalitas dalam politik tidak selalu berarti damai; sering kali ia berarti efisiensi dalam melukai tanpa harus membayar harga terbuka. Selama kepentingan vital belum disentuh secara langsung—selama kilang minyak, kota besar, dan simbol negara aman—permusuhan terbatas dianggap cukup. Dan Yaman, sekali lagi, menjadi arena percobaan.
Di sinilah posisi saya tegas. Menyebut ini sekadar “ketegangan” atau “perbedaan pendekatan” adalah bentuk pengaburan. Perang Saudi vs UEA di Yaman memang tidak memakai tank melawan tank, tapi ia nyata. Ia hidup dalam tekanan politik, manuver militer melalui pihak ketiga, dan keputusan-keputusan yang dengan sadar merugikan kepentingan lawan. Kita bisa memperdebatkan istilah, tapi dampaknya tidak bisa disangkal. Ketika satu pihak harus menarik diri, kehilangan pengaruh, dan melihat investasinya runtuh, itu hasil dari permusuhan, bukan dialog.
Yang paling menyedihkan, perang jenis ini sulit diakhiri. Karena tidak pernah diumumkan, ia juga sulit diakhiri secara resmi. Tidak ada perjanjian damai, tidak ada upacara penandatanganan. Yang ada hanyalah kelelahan perlahan, atau kemenangan sunyi salah satu pihak. Dan selama itu belum terjadi, Yaman akan terus menjadi panggung konflik bayangan, tempat kepentingan regional bertabrakan tanpa rasa bersalah.
Saya menutup tulisan ini dengan kegelisahan yang sama seperti saat membukanya. Kita hidup di zaman ketika perang tidak selalu berbunyi ledakan, dan permusuhan tidak selalu diucapkan. Perang Saudi vs UEA di Yaman adalah contoh telanjang bagaimana kekuasaan bekerja hari ini: senyap, licik, dan sering kali dibungkus retorika mulia. Kita boleh tersenyum getir melihat ironi ini, tapi kita tidak boleh menutup mata. Karena selama kita menyebutnya sekadar retak, pukulan akan terus datang—dengan tangan orang lain.
