Opini
Saat Trump Menawarkan Perdamaian dengan Moncong Senjata
Ada absurditas yang sukar ditelan dalam cara dunia berbicara tentang Gaza. Di atas reruntuhan yang masih berasap, di tengah anak-anak yang bermain di antara puing dan mayat, seorang presiden Amerika berdiri di depan kamera dan berkata: “Hamas akan dilucuti, dengan cara damai atau dengan kekerasan.” Kalimat itu, diucapkan Donald Trump dengan nada yakin dan wajah penuh kepastian, terdengar seperti pengulangan dari sejarah lama—sejarah di mana kekuasaan merasa berhak menentukan siapa yang boleh bersenjata, siapa yang boleh hidup, dan siapa yang pantas dihapus dari peta.
Trump, dengan gaya khasnya yang teatrikal, mengklaim bahwa ia telah “berbicara” dengan Hamas dan mendapat jawaban “ya, kami akan melucuti diri.” Dunia tahu, itu mustahil. Tak ada catatan pertemuan, tak ada konfirmasi, tak ada logika diplomatik yang masuk akal. Tetapi di dunia Trump, kebenaran bukan sesuatu yang perlu diverifikasi—cukup diucapkan dengan percaya diri dan diulang di televisi. Dan begitulah ia mengumumkan kepada dunia bahwa Gaza akan ditertibkan, seperti kota liar di barat Amerika dalam film koboi, di mana sheriff menenteng senjata dan menuntut keheningan sebagai tanda perdamaian.
Saya rasa, inilah ironi paling telanjang dari peradaban modern: ketika mereka yang paling bersenjata menuduh orang lain berbahaya karena memiliki senjata. Israel memegang nuklir yang tak pernah diperiksa, memiliki pasukan udara tercanggih, sistem pertahanan Iron Dome yang didanai miliaran dolar, tapi yang dianggap ancaman adalah roket buatan tangan di Gaza. Dunia membicarakan disarmament (pelucutan senjata) dengan penuh moralitas, seolah senjata-senjata di tangan rakyat Palestina lah akar dari semua kekerasan, bukan penjajahan yang telah mengunci napas mereka selama puluhan tahun.
Trump menegaskan bahwa jika Hamas tak menyerahkan senjatanya, maka Amerika akan membantu melucutinya secara paksa. Kata “paksa” di sini terdengar ringan di lidahnya, tapi di Gaza, kata itu berarti darah, ledakan, dan keluarga yang hancur. Ia bahkan menambahkan, “mungkin dengan kekerasan, tapi mereka akan dilucuti.” Di telinga orang yang berakal sehat, ini bukan ancaman terhadap organisasi bersenjata; ini ancaman terhadap seluruh bangsa yang menolak berlutut.
Lucunya, dalam kalimat yang sama, Trump sempat memuji Hamas karena “menumpas geng kriminal” di Gaza. Jadi, musuh yang disebut teroris itu bisa juga mendapat pujian bila bertindak sesuai kepentingan Amerika. Ini bukan kebijakan luar negeri—ini transaksi moral. Hari ini musuh, besok sekutu, tergantung siapa yang menguntungkan. Washington tak pernah peduli pada nilai, hanya pada arah angin yang meniup keuntungan geopolitik.
Kita lihat pula Inggris ikut menari di panggung yang sama. PM Keir Starmer dengan serius berkata bahwa Inggris siap membantu proses “pelucutan senjata” Hamas, meniru pendekatan Irlandia Utara. Ia menyebut pengalaman berdamai dengan IRA sebagai contoh sukses yang bisa diulang. Tapi perbandingan itu terdengar seperti lelucon yang pahit. Irlandia Utara bukan Gaza. IRA bukan Hamas. Dan Inggris, seharusnya tahu, bahwa di Irlandia dulu mereka adalah penjajah, bukan mediator. Kini mereka datang lagi, membawa nasihat moral pada bangsa yang masih hidup di bawah penjajahan. Betapa cepat dunia lupa pada dirinya sendiri.
Mengapa pelucutan senjata selalu diminta dari pihak yang tertindas, bukan dari pihak yang menindas? Mengapa dunia menuntut Gaza berhenti menembak, tetapi diam melihat jet-jet F-16 yang menjatuhkan bom seberat satu ton ke area padat penduduk? Jawabannya sederhana: karena di mata kekuasaan, damai berarti tunduk. Peace bukan hasil negosiasi sejajar, tapi hasil penyerahan total. Dan inilah bentuk kolonialisme baru—tak lagi dengan kapal perang dan bendera, melainkan dengan jargon diplomatik dan operasi “stabilisasi internasional.”
Trump bahkan menyebut rencana pembentukan “International Stabilisation Force” untuk Gaza, seolah-olah dunia butuh pasukan pendamai yang dikirim oleh negara-negara yang selama ini justru mendanai perang. Amerika berbicara tentang “stabilitas”, Inggris berbicara tentang “pengalaman damai”, sementara yang mereka maksud sebenarnya adalah control. Sebuah Gaza tanpa perlawanan, tanpa suara, tanpa kemampuan untuk menolak.
Saya kira, banyak orang di dunia kini mulai menyadari bahwa proyek pelucutan senjata itu bukan tentang keamanan, melainkan tentang meniadakan potensi perlawanan. Lihat saja bagaimana istilah “disarmament” selalu diikuti oleh janji bantuan kemanusiaan. Seolah-olah, roti dan listrik baru akan dikirim setelah rakyat Gaza membuang senjatanya. Ini bukan kebijakan; ini pemerasan dengan wajah diplomasi.
Kita di Indonesia tahu rasa itu—bagaimana kekuasaan bisa mengatur tafsir keamanan untuk melumpuhkan hak yang sah. Dulu, di masa-masa kelam, setiap orang yang berpikir berbeda disebut “mengancam stabilitas nasional.” Kini istilahnya berganti menjadi “ancaman terhadap perdamaian dunia.” Tapi intinya sama: yang kuat menulis definisi, yang lemah hanya boleh diam.
Hamas tentu bukan malaikat, tapi dalam politik dunia yang munafik, mereka menjadi cermin. Cermin yang memantulkan ketakutan Barat akan satu hal: perlawanan yang tidak bisa dikendalikan. Karena bagi mereka, perlawanan yang tak bisa dinegosiasikan adalah penyakit yang harus dihapus, bukan penderitaan yang harus dipahami.
Di Gaza, pelucutan senjata bukan berarti berakhirnya kekerasan. Itu berarti hilangnya satu-satunya alat untuk bertahan hidup. Dan sejarah membuktikan: tak ada bangsa yang benar-benar damai setelah menyerahkan hak membelanya. Irak dilucuti, lalu dijajah. Libya dilucuti, lalu hancur. Kini Gaza menjadi target berikutnya dari template lama itu.
Barangkali Trump percaya bahwa kekerasan bisa memaksa kepatuhan. Tapi sejarah juga mengajarkan, bahwa ketakutan tak pernah melahirkan perdamaian. Yang lahir dari ketakutan hanyalah generasi yang lebih keras kepala, lebih terluka, dan lebih berani menantang. Setiap ancaman dari Washington atau London hanya menambah alasan bagi rakyat Gaza untuk menggenggam senjata lebih erat—bukan karena mereka ingin perang, tapi karena mereka tahu dunia tak akan membela mereka jika senjata itu diletakkan.
Dan mungkin, di sanalah letak absurditas paling getir: Amerika dan sekutunya berbicara tentang “disarmament” sementara mereka sendiri menimbun senjata dan menjualnya ke seluruh dunia. Mereka berbicara tentang “stabilitas” di Gaza, tapi menolak menyebut kata “pendudukan.” Mereka berbicara tentang “keamanan Israel,” tapi tak pernah menyinggung keamanan anak-anak Palestina. Dunia telah berubah, tapi logika kolonial tetap sama: perdamaian hanya sah jika penindas tetap berkuasa.
Akhirnya, ancaman Trump bukan hanya pada Hamas, tapi pada gagasan bahwa bangsa tertindas berhak membela diri. Ia menegaskan dengan tanpa malu bahwa kekerasan hanya boleh dimonopoli oleh yang kuat. Dan di situlah tragedi moral abad ini: ketika hak bertahan hidup dianggap ancaman, dan hak menindas disebut upaya perdamaian.
Jika dunia terus percaya pada definisi semacam ini, maka Gaza tak akan pernah benar-benar tenang. Ia hanya akan menjadi kuburan yang sunyi—stabil, seperti yang diinginkan Washington.

Pingback: Amerika Berteriak No Kings di Bawah Trump