Connect with us

Opini

Reservis Menolak, Retaknya Benteng Zionis Dari Dalam

Published

on

Ada ironi yang sulit diabaikan. Sebuah negara yang membangun dirinya di atas doktrin “tak terkalahkan” justru kini keteteran mencari tentara cadangan (reservis). Di balik dentuman artileri dan propaganda kemenangan, ada suara lirih yang muncul dari grup WhatsApp mahasiswa: “Saya mencari prajurit tempur, terutama paramedis dan penembak jitu, untuk operasi 70 hari mulai 11 September. Jika ada yang berminat, hubungi saya.” Begitu bunyi pesan dari seorang komandan. Apa tidak absurd, perang sebesar itu ditopang oleh cara rekrutmen ala iklan kerja paruh waktu?

Kenyataan ini menyingkap sesuatu yang lebih dalam ketimbang sekadar krisis teknis militer. Ada kegelisahan yang merayap ke dalam tubuh proyek zionis sendiri. Setelah hampir dua tahun perang tanpa henti, puluhan ribu reservis mulai lelah, muak, bahkan menolak dipanggil lagi. Mereka sudah berbulan-bulan, bahkan ratusan hari, terjebak di Gaza dan Lebanon, menyaksikan teman gugur, mendengar teriakan anak-anak, dan pulang membawa trauma yang tak bisa dibungkus dengan medali atau seremoni penghormatan. Kini, ketika mereka diminta kembali, sebagian berkata: cukup.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Saya rasa, inilah titik di mana “negara benteng” kehilangan makna. Selama ini, zionis membanggakan dirinya sebagai satu-satunya “demokrasi” di Timur Tengah, yang warganya rela berkorban demi keselamatan kolektif. Tapi fakta di lapangan berbicara lain. Menurut The Wall Street Journal dan New York Times, sekitar 40 hingga 50 persen reservis memilih tidak datang ketika dipanggil. Sebuah angka yang bukan main-main. Separuh tulang punggung pertahanan runtuh, bukan oleh tembakan musuh, melainkan oleh keputusan pribadi untuk tidak lagi mengangkat senjata.

Kalau dipikir-pikir, ini bukan hanya masalah “kelelahan.” Ini adalah krisis narasi. Seorang sersan komando 98 yang sudah lebih dari 400 hari ditugaskan berkata terang-terangan: “Orang-orang mati sia-sia, dan Netanyahu hanya memperpanjang perang demi menyelamatkan kursi politiknya.” Kalimat ini sebetulnya lebih mematikan daripada roket mana pun. Ia adalah pengakuan dari dalam bahwa perang ini tidak lagi punya tujuan. Bahwa “operasi militer” hanyalah selubung bagi ambisi seorang politisi. Dan ketika perang kehilangan legitimasi moral, apa lagi yang tersisa?

Di sinilah letak absurditas yang menusuk. Zionis menyebut invasi Gaza sebagai “demi menyelamatkan sandera,” tapi reservis sendiri tahu itu bohong. Mereka sudah melihat langsung: invasi Khan Younis tidak membebaskan siapa pun. Mereka tahu, penghancuran Gaza City tidak ada hubungannya dengan keselamatan sandera. Bahkan Kepala Staf Eyal Zamir sudah memperingatkan bahwa reokupasi Gaza justru mengancam para tawanan. Tapi pemerintah tetap ngotot. Maka pertanyaannya: apakah ini perang, atau sekadar sandiwara untuk memperpanjang umur rezim?

Ironi makin pekat ketika kita mendengar angka. Survei menunjukkan 80 persen warga zionis lebih mendukung negosiasi daripada perang. Ribuan reservis bahkan menandatangani petisi menolak perang. Ada 350 orang yang terang-terangan menyatakan: “Jika dipanggil, kami tidak akan datang.” Ini jelas bukan kasus satu dua orang yang membangkang. Ini sebuah gelombang disonansi. Sebuah retakan kolektif yang tak bisa lagi disembunyikan di balik sensor militer atau bahasa eufemistik.

Lalu ada sisi manusiawi yang tak bisa dipoles. Seorang istri, Dalit Kislev Spektor, bercerita bagaimana suaminya pulang dalam keadaan hancur setelah harus mengenali tubuh rekannya yang bunuh diri. “Saya bilang, perang ini politik, karena tidak ada dari kita yang percaya pada pemimpin kita,” katanya. Kata-kata itu sederhana, tapi pedih. Inilah wajah perang yang tidak pernah masuk ke statistik: trauma keluarga, anak-anak yang kehilangan ayah bukan karena peluru musuh, melainkan karena depresi yang tak tertanggungkan.

Mungkin inilah titik rapuh yang jarang disadari. Mesin militer bisa membeli tank, drone, atau satelit, tetapi tidak bisa membeli makna. Reservis yang kelelahan, yang pulang ke rumah dengan dada kosong, tidak lagi menemukan alasan mengapa mereka harus kembali ke Gaza. Dan ketika makna itu hilang, senjata secanggih apa pun jadi sia-sia. Ada batas di mana propaganda tidak lagi bisa menutup luka.

Tentu, sebagian orang mungkin bertanya: apakah ini berarti zionis akan runtuh besok? Tidak sesederhana itu. Militer mereka masih besar, senjata mereka masih menakutkan, dan dukungan Barat masih mengalir deras. Tapi tanda-tanda krisis ini bukan soal esok, melainkan soal fondasi jangka panjang. Sebuah proyek kolonial yang bergantung pada kesatuan narasi kini sedang terpecah. Reservis menolak, rakyat meragukan, pemimpin berkeras. Itu formula klasik dari kehancuran internal.

Kita di Indonesia barangkali bisa merasakannya lewat analogi sederhana. Bayangkan sebuah keluarga besar yang terus-menerus dipaksa gotong royong membangun rumah megah, tapi sebagian anggota hanya duduk santai dan tidak ikut bekerja. Lama-lama, mereka yang bekerja mulai bertanya: “Mengapa hanya kita yang berkorban? Untuk apa sebenarnya rumah ini?” Begitulah kira-kira yang dirasakan para reservis ketika melihat kaum ultra-Ortodoks dibebaskan dari wajib militer, sementara mereka dipanggil berkali-kali. Sebuah ketidakadilan yang menyalakan bara pemberontakan.

Lebih jauh, laporan itu memperlihatkan satu hal penting: perang ini bukan lagi sekadar soal Gaza. Ia sudah menjadi cermin bagi zionis sendiri. Apakah mereka benar-benar sebuah bangsa yang bersatu, atau hanya kumpulan individu yang dipaksa bertahan oleh mitos “ancaman eksternal”? Ketika mitos itu pudar, ketika mereka sadar bahwa perang ini hanyalah instrumen politik, maka identitas kolektif pun ikut runtuh. Zionisme kehilangan daya magisnya.

Dan mari kita jujur: semua ini terjadi sementara di Gaza sendiri, tragedi terus berlangsung. Lebih dari 63 ribu jiwa telah gugur sejak Oktober 2023. Anak-anak mati kelaparan, rumah sakit hancur, air dan listrik diputus. Dunia menyaksikan, para akademisi bahkan sudah menyebutnya genosida terang-terangan. Tetapi ironinya, meski tragedi itu nyata, justru yang lebih cepat menggerus proyek zionis adalah krisis internal tentaranya sendiri. Sebuah paradoks sejarah: mereka bisa menghancurkan kota, tapi tidak bisa menahan retakan di hati para prajurit.

Saya kira, inilah makna terdalam dari laporan yang kita baca. Bukan hanya tentang cadangan pasukan atau strategi militer, melainkan tentang sebuah proyek kolonial yang kehilangan alasan untuk bertahan. Tentara bisa dipaksa, tapi jiwa tidak bisa diperintah. Dan ketika jiwa-jiwa itu memilih menolak, menepi, atau sekadar tak hadir, maka seluruh mesin perang pun mendadak ompong.

Maka, jika hari ini zionis tampak masih gagah dengan senjata dan bomnya, kita patut ingat: yang tampak kuat di luar bisa saja rapuh di dalam. Dan retakan itu, sekecil apa pun, adalah awal dari runtuhnya sebuah benteng yang dibangun di atas ilusi.

Sumber:

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Retak Kekuasaan Zionis: Smotrich vs Jenderal Zamir

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer