Connect with us

Opini

Puluhan Jurnalis Jadi Korban Serangan Israel di Yaman

Published

on

Puing kantor media di Sanaa usai serangan Israel, korban termasuk jurnalis.

Di sebuah ruang redaksi yang sederhana, tempat biasanya dipenuhi bunyi mesin ketik atau klik laptop, suara diskusi tentang headline apa yang akan diturunkan esok hari, kini hanya menyisakan puing, debu, dan keheningan yang menyesakkan. Kantor media yang seharusnya menjadi ruang kebebasan kata dan pikiran berubah jadi kuburan massal. Puluhan jurnalis Yaman terbujur kaku, bukan karena pena mereka habis tinta, melainkan karena roket yang dikirim dari langit oleh mesin perang Israel. Ironis. Orang-orang yang tugasnya menyalakan cahaya, justru dipadamkan dengan cara paling gelap.

Saya rasa, di titik ini, kita perlu bertanya: apa sebenarnya yang ditakuti dari para jurnalis itu? Apakah benar seorang reporter dengan kamera di tangan lebih berbahaya daripada misil yang bisa melumat bangunan? Atau, barangkali, bagi rezim yang takut pada kebenaran, lensa kamera memang lebih mematikan daripada senapan. Itulah absurditas yang kita hadapi. Pembantaian jurnalis Yaman kali ini menegaskan sesuatu yang selama ini berulang: ketika kebenaran tidak bisa dibantah, ia dihancurkan bersama orang-orang yang berusaha menyuarakannya.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi đź’›

Menurut laporan, serangan udara Israel di ibu kota Sanaa menewaskan sedikitnya 46 orang, dan di antara mereka ada 25 jurnalis. Angka itu bukan sekadar statistik. Itu adalah redaktur yang mungkin masih punya draft tajuk rencana di mejanya, reporter yang baru saja kembali dari wawancara dengan warga miskin, fotografer yang barangkali menyimpan file foto di kamera yang kini hancur berdebu. Dan ironinya, dunia akan mencatat angka itu di kolom berita hari ini, lalu melupakannya esok, seperti kita lupa pada Ampatuan di Filipina tahun 2009, di mana 32 jurnalis ditembak mati. Apakah kita ini punya ingatan yang pendek, ataukah memang terlalu sering diberi tontonan darah sehingga rasa kaget pun sudah tumpul?

Bila kita tarik ke belakang, pembantaian jurnalis bukan hal baru dalam konflik yang melibatkan Israel. Sejak agresi di Gaza pecah pada Oktober 2023, ratusan wartawan telah menjadi korban. Komite untuk Perlindungan Jurnalis (CPJ) bahkan mencatat, hampir 70 persen jurnalis yang terbunuh sepanjang 2024 tewas akibat serangan Israel. Bayangkan, hampir tiga perempat. Apa itu kebetulan? Atau ada niat sistematis untuk membungkam saksi mata? Saya pribadi sulit melihatnya sebagai sekadar collateral damage. Terlalu banyak, terlalu sering, terlalu terang.

Yang lebih menyakitkan, menurut investigasi Yuval Abraham—seorang jurnalis Israel sendiri—militer Tel Aviv bahkan membentuk unit khusus intelijen untuk mencari legitimasi pembunuhan. Jadi bukan hanya peluru dan rudal, tapi juga narasi yang diciptakan untuk membuat publik percaya bahwa jurnalis yang mati itu sebenarnya “anggota Hamas dengan penyamaran.” Ini bukan sekadar perang senjata, ini perang melawan nalar. Bagaimana mungkin orang percaya bahwa semua wartawan yang membawa kamera adalah kombatan bersenjata? Tapi begitulah, propaganda bekerja dengan satu resep sederhana: ulangi kebohongan seribu kali sampai orang tak lagi bisa membedakan.

Tragedi di Yaman membuka bab baru yang lebih mengerikan. Jika di Gaza wartawan dibunuh dengan alasan ada “teroris” di balik kamera, di Yaman serangan diluncurkan langsung ke kantor media resmi. Apa bedanya dengan meledakkan perpustakaan atau membakar sekolah? Itu bukan lagi sekadar serangan militer, itu eksekusi terhadap kebebasan informasi. Dan ironinya, di era di mana orang di Jakarta bisa melihat secangkir kopi dari kafe di New York lewat Instagram, kita justru dipaksa buta terhadap darah yang tumpah di Sanaa. Informasi dikubur bersama para penjaganya.

Saya tak bisa tidak membandingkan ini dengan pengalaman sehari-hari di Indonesia. Kita ribut soal pasal karet UU ITE, soal wartawan diintimidasi aparat ketika liput demo, atau soal redaksi ditekan pengiklan. Semua itu memang masalah serius. Tapi ketika membaca laporan pembantaian jurnalis Yaman, saya merasa seolah-olah masalah di sini hanyalah riak kecil di permukaan. Di sana, wartawan tak hanya dibungkam; mereka dibunuh secara massal. Kalau di sini kita masih bisa bercanda soal “wartawan amplop”, di sana yang berserakan hanyalah potongan tubuh. Bandingkan itu, lalu tanyakan pada diri sendiri: apa artinya kebebasan pers bila di sebagian dunia, harga sebuah berita adalah nyawa penulisnya?

Lalu, ke mana dunia? PBB akan mengeluarkan pernyataan klise, mungkin ada resolusi yang diveto, dan semua kembali seperti semula. Negara-negara Barat yang biasanya lantang bicara soal kebebasan pers memilih bungkam, atau sekadar menyampaikan “keprihatinan mendalam.” Saya rasa kita semua tahu mengapa. Kepentingan politik, jual beli senjata, dan aliansi strategis jauh lebih penting daripada nyawa 25 wartawan Yaman. Apa yang kita saksikan bukan hanya pembantaian jurnalis Yaman, tapi juga pembantaian nurani global.

Kita semua, sebagai pembaca, sebagai manusia biasa, sebetulnya punya tanggung jawab. Tidak banyak memang, tapi setidaknya menolak ikut-ikutan menelan narasi yang disodorkan. Ketika disebut “target sah” atau “kolateral”, kita mesti berani bertanya: sah bagi siapa? Kolateral untuk siapa? Jika jurnalis bisa diperlakukan sebagai teroris hanya karena melaporkan fakta, apa yang tersisa dari konsep kebebasan pers yang selama ini diagung-agungkan?

Ada yang bilang pena lebih tajam dari pedang. Kalimat itu dulu terdengar puitis, penuh harapan. Tapi sekarang, di Yaman, kalimat itu terasa getir. Karena di hadapan rudal, pena memang rapuh. Namun jangan salah, justru karena pena itu rapuh maka ia ditakuti. Pedang hanya bisa melukai tubuh, sementara pena bisa membongkar kebohongan, menggerakkan massa, dan meruntuhkan legitimasi sebuah rezim. Itulah mengapa para jurnalis di Sanaa dijadikan sasaran. Karena apa yang mereka tulis bisa lebih mematikan daripada misil yang menghancurkan bangunan.

Mungkin, bagi kita di Indonesia, tragedi ini terasa jauh. Tapi ingat, serangan terhadap wartawan di mana pun pada akhirnya adalah serangan terhadap kita semua. Sebab tanpa jurnalis, tidak ada saksi. Tanpa saksi, tidak ada kebenaran. Dan tanpa kebenaran, kita semua hanya hidup dalam kebohongan yang dipoles rapi. Jadi ketika kita membaca berita tentang pembantaian jurnalis Yaman, jangan sekadar merasa iba. Rasakan juga bahwa ini adalah alarm yang menyasar kita semua: bila kebenaran bisa dibunuh di sana, ia juga bisa dibunuh di sini.

Pada akhirnya, yang tersisa hanya pertanyaan getir: berapa banyak lagi yang harus mati agar dunia berhenti berpura-pura? Kita tahu jawabannya tidak sederhana. Tapi membiarkan tragedi ini lewat begitu saja, seolah tak terjadi apa-apa, justru membuat kita ikut jadi bagian dari kebisuan yang diinginkan para pelaku. Dan bagi saya, itu jauh lebih memalukan daripada ketakutan apa pun.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer