Connect with us

Opini

Protes Ankara: Demokrasi Turki di Ambang Mati Suri

Published

on

Massa demonstran di Lapangan Tandogan membawa bendera Turki menuntut keadilan politik

Langit Ankara sore itu bergelayut muram, seolah ikut menahan napas menghadapi gelombang manusia yang merayap ke Lapangan Tandogan. Spanduk merah dengan bulan sabit putih berkibar di atas kepala massa, riuh teriakan “Erdogan mundur!” menembus udara yang dingin dan sarat kegelisahan. Saya rasa, inilah ironi yang paling telanjang: sebuah negara yang dulu dielu-elukan sebagai model demokrasi di dunia Muslim kini dipenuhi ribuan orang yang harus berteriak hanya untuk mengingatkan penguasanya bahwa kekuasaan berasal dari rakyat, bukan dari ruang sidang yang disetel sesuai keinginan penguasa. Protes Ankara kali ini bukan sekadar protes. Ia semacam pernyataan hidup—bahwa demokrasi di Turki belum mati, tetapi sedang terengah-engah seperti pasien yang bernapas lewat selang oksigen.

Di tengah kerumunan, bayangan sejarah melintas. Kita ingat bagaimana Turki sering dijadikan contoh “Islam dan demokrasi bisa sejalan.” Tapi apa artinya semua slogan itu ketika pemilu boleh diselenggarakan, namun hasilnya bisa dijungkirbalikkan lewat pengadilan yang dicurigai tak lagi independen? Sidang yang akan memutuskan nasib Özgür Özel, ketua Partai Rakyat Republik (CHP), hanya kedok yang dipoles hukum. Tuduhan kecurangan dalam kongres internal partai oposisi itu terdengar seperti lelucon getir. Saya bayangkan banyak warga Turki yang menatap layar televisi dengan perasaan serupa: muak sekaligus tak heran. Kita semua tahu pola semacam ini—pemilu jadi panggung, peradilan jadi alat, demokrasi jadi dekorasi.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Protes Ankara menelanjangi kenyataan yang selama ini mungkin sengaja diabaikan oleh banyak orang di luar Turki. Ratusan kader CHP sudah dijebloskan ke penjara. Wali Kota Istanbul, Ekrem İmamoğlu—lawan paling potensial bagi Erdogan—ditangkap dengan tuduhan yang dipandang banyak pihak sebagai akal-akalan politik. Ini bukan sekadar “penegakan hukum.” Ini represi yang dibungkus administrasi, seperti kopi pahit yang disajikan dalam cangkir porselen cantik. Kita, yang hidup di negeri dengan pemilu rutin dan segala dinamika politiknya, seharusnya waspada. Karena begitulah cara demokrasi sering mati: bukan dengan kudeta tank di jalanan, tapi dengan cap resmi, tanda tangan hakim, dan berita yang disajikan sebagai “proses hukum.”

Lihat saja retorika yang dilempar Erdogan dan para pendukungnya: “menjaga ketertiban,” “memastikan integritas pemilu,” “melawan korupsi.” Kata-kata yang di atas kertas terdengar mulia, namun dalam praktiknya menjadi senjata untuk membungkam lawan. Saya rasa kita pun pernah mendengar jargon serupa di tempat lain, bahkan di sekitar kita sendiri. Ketika kebebasan berbicara diukur dengan seberapa patuh Anda kepada kekuasaan, maka demokrasi memang sudah terancam mati suri.

Namun, di balik segala kesuraman itu, Protes Ankara memberi secercah harapan yang tidak bisa dihapus begitu saja. Puluhan ribu orang berani berdiri di lapangan kota, menantang rezim yang tak segan menangkapi oposisi. Mereka membawa bendera, bukan senjata. Mereka berteriak, bukan membakar. Ini perlawanan sipil yang menolak tunduk pada rasa takut. Dalam suasana yang kian represif, keberanian semacam ini adalah napas terakhir yang menjaga demokrasi tetap hidup—meski lemah, meski ringkih. Bayangkan, bahkan di tengah ancaman penangkapan, mereka memilih jalan damai. Sebuah ironi yang indah: pemerintah yang mengaku menjaga ketertiban justru memperlihatkan ketidakmampuan menerima kritik paling damai sekalipun.

Turki tentu bukan satu-satunya negara yang tergelincir ke jalur otoritarianisme dengan baju demokrasi. Kita bisa menengok ke berbagai belahan dunia dan menemukan pola yang sama. Pemilu tetap ada, media tetap terbit, partai oposisi tetap tercatat di KPU setempat. Tetapi semua itu seperti teater. Kursi parlemen diduduki, tetapi keputusan penting ditentukan oleh lingkaran kecil yang tak tersentuh. Kita pun pernah melihat bagaimana kekuasaan dapat merangkul hukum untuk melindungi diri sambil menyingkirkan lawan. Protes Ankara menjadi cermin: bahwa demokrasi tidak mati seketika, ia sekarat pelan, dengan denyut nadi yang makin lemah.

Yang membuatnya lebih pahit adalah ingatan akan kemenangan oposisi dalam pemilu lokal 2024. Saat itu, Partai Rakyat Republik berhasil menorehkan prestasi besar, menundukkan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) di kota-kota penting. Sebuah titik balik yang sempat menyalakan optimisme. Tapi keberhasilan itu kini menjadi alasan pembalasan. Pemerintah terlihat tak rela kekalahan itu diabadikan sebagai wujud pilihan rakyat. Mereka menggugat hasil kongres CHP dengan alasan kecurangan. Ironis, bukan? Partai yang kalah dalam pemilu malah menuduh partai pemenang berbuat curang dalam urusan internalnya sendiri.

Saya tak bisa menahan diri untuk tidak menghubungkan Protes Ankara dengan pengalaman kita sehari-hari. Di rumah, di kantor, bahkan di lingkungan RT, kita tahu rasa frustasi ketika aturan hanya berlaku bagi mereka yang lemah, sementara yang kuat selalu punya celah. Ketidakadilan itu punya aroma khas: campuran antara marah dan pasrah. Tapi massa di Ankara menolak pasrah. Mereka memilih marah yang tertib, marah yang berani, marah yang tidak memerlukan kekerasan. Sebuah pelajaran berharga bagi siapa saja yang percaya bahwa hak harus diperjuangkan, bukan diminta.

Kita juga tidak bisa mengabaikan dampak regional dan internasional. Turki adalah anggota NATO, pemain penting di Timur Tengah dan Eropa. Apa yang terjadi di Ankara bukan hanya urusan dalam negeri. Setiap langkah represif akan dibaca oleh sekutu dan lawan sebagai tanda kemunduran, bahkan kelemahan. Bagaimana mungkin sebuah negara yang mengklaim diri sebagai jembatan antara Barat dan Timur bisa meyakinkan dunia bahwa ia masih demokratis, ketika gambaran paling mutakhir adalah puluhan ribu orang yang harus menuntut keadilan di jalanan?

Akhirnya, saya kembali ke gambaran awal: langit Ankara yang muram dan lautan manusia yang tak gentar. Demokrasi Turki memang belum mati, tapi jelas di ambang mati suri. Ia hidup, tetapi nyaris tanpa daya. Hidup, tapi disandera. Protes Ankara menjadi detak jantung yang masih terdengar samar, tanda bahwa tubuh ini belum sepenuhnya menyerah. Kita hanya bisa berharap, dan tentu mendukung dari jauh, agar detak itu tetap bertahan, agar oksigen perlawanan sipil terus mengalir, dan agar Turki menemukan kembali arti sejati dari kata yang mereka banggakan selama ini: demokrasi.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer