Connect with us

Opini

Prancis di Persimpangan: Macron dan Arah yang Hilang

Published

on

Emmanuel Macron standing in front of the Élysée Palace under dim light, symbolizing France’s political crisis and loss of direction.

Malam di Paris terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan karena musim gugur yang datang terlalu cepat, tapi karena udara politik yang menebarkan rasa beku di seluruh negeri. Emmanuel Macron, yang dulu dielu-elukan sebagai simbol kebangkitan moderat Eropa, kini berdiri di atas panggung yang lampunya mulai meredup. Di sekelilingnya, kursi parlemen penuh tetapi suara kosong. Perdana menterinya baru saja mundur—lagi. Dan rakyat, seperti biasa, hanya menggelengkan kepala: lelah, sinis, tapi tidak benar-benar terkejut.

Di negeri yang pernah menulis revolusi sebagai puisi kebebasan, kini tak ada lagi semangat untuk menggulingkan siapa pun. Yang tersisa hanyalah kebuntuan. Macron berjanji akan menunjuk perdana menteri baru dalam 48 jam. Tapi untuk apa? Tiga kepala pemerintahan telah berganti dalam setahun, dan tidak satu pun berhasil menenangkan badai. Prancis tampak seperti kapal yang terus berputar di lautan birokrasi dan ambisi, sementara nahkodanya sibuk memoles pidato tentang stabilitas yang sudah tak berarti apa-apa.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Saya rasa, ini bukan sekadar krisis politik biasa. Ini krisis makna. Macron, dengan seluruh kecerdasannya, seakan kehilangan arah. Ia mencoba berdiri di tengah—di antara kiri dan kanan—namun akhirnya terjebak di ruang hampa yang tidak lagi memiliki kompas moral. Ia menyebut dirinya reformis, tapi reformasi yang ia dorong (seperti revisi sistem pensiun) hanya membuat rakyat turun ke jalan. Ia bicara tentang Eropa yang kuat, tapi di rumah sendiri, parlemen bahkan tak bisa menyepakati anggaran negara.

Dari laporan terbaru, utang nasional Prancis kini mencapai €3,4 triliun—setara 114 persen dari PDB. Angka itu tidak hanya mencerminkan krisis ekonomi, tapi juga krisis kepercayaan. Tiga perdana menteri sebelumnya jatuh karena “austerity budget” yang dianggap membunuh harapan rakyat kelas pekerja. Michel Barnier dan François Bayrou tumbang oleh mosi tidak percaya, dan kini Sébastien Lecornu menyusul, menyisakan istana Elysee yang sepi dari ide baru. Apa artinya kebijakan tanpa legitimasi? Hanya sebuah perintah kosong yang ditulis di kertas resmi negara.

Macron tampaknya masih berusaha menampilkan ketenangan. Tapi di balik wajah tenang itu, ada aroma panik yang sulit disembunyikan. Ia menolak menyerahkan mandat, padahal sebagian elite politik sudah terang-terangan menyarankan agar ia mempertimbangkan langkah mundur. Bahkan Gabriel Attal, yang dulu dipuji sebagai “anak emas” Macron, kini berkata bahwa ia “tak lagi memahami presiden”. Jika pengkhianatan adalah bagian dari politik, maka kali ini pengkhianatan datang dari rumah sendiri.

Prancis kini seperti tersesat di jalan yang ia ciptakan sendiri. Pemilu cepat 2024 gagal melahirkan mayoritas. Koalisi tengah pecah, blok kiri dan kanan saling menolak, dan rakyat kehilangan kepercayaan pada semua pihak. Ironisnya, semua orang tahu apa yang harus dihindari—yakni pemilu baru—tetapi tak ada yang tahu apa yang harus dilakukan. Inilah bentuk demokrasi modern yang paling absurd: sistem yang bekerja tanpa arah, tetapi terus mengklaim legitimasi atas nama rakyat yang sudah lama berhenti percaya.

Kalau dilihat dari jauh, Eropa seolah sedang menonton drama klasik: presiden muda, idealisme tinggi, lalu pelan-pelan ditelan realitas. Tapi di balik kisah itu, ada sesuatu yang lebih getir. Prancis bukan sekadar kehilangan perdana menteri; Prancis kehilangan imajinasi politiknya. Tidak ada narasi baru yang bisa menggantikan kelelahan nasional ini. Kiri sibuk dengan retorika lama, kanan menunggu kesempatan, dan Macron terjebak dalam pertarungan ego yang semakin nihil.

Lecornu sempat berkata bahwa calon perdana menteri berikutnya “harus bebas dari ambisi 2027”. Kalimat itu tampak sederhana, tapi di baliknya tersimpan kebenaran pahit: semua langkah kini hanya dihitung sebagai strategi menuju pemilihan presiden berikutnya. Tidak ada visi jangka panjang, tidak ada idealisme yang tulus—hanya kalkulasi kekuasaan. Kita tahu penyakit ini; bukan cuma Prancis yang mengalaminya. Di banyak negara, termasuk Indonesia, politik juga telah kehilangan cita-cita, digantikan oleh survival instinct dari para elite yang sibuk mempertahankan posisi.

Saya teringat pada pepatah lama: “Negara tidak runtuh karena kekalahan, tapi karena kehilangan arah.” Itulah yang kini menimpa Prancis. Macron masih berdiri, tapi simbolismenya sudah kosong. Ia menjadi representasi dari generasi pemimpin yang datang dengan janji rasionalitas, namun tersandung oleh kenyataan bahwa politik tidak pernah sesederhana spreadsheet ekonomi. Ketika rakyat menolak logika efisiensi dan menuntut keadilan, teknokrasi kehilangan daya magisnya.

Lalu ke mana Prancis akan pergi? Tidak ke mana-mana, mungkin. Lecornu sendiri mengakui bahwa “mayoritas di parlemen kini hanya ingin menghindari pemilu baru”. Artinya, sistem sudah berhenti berfungsi sebagai sarana perubahan—ia kini hanya berfungsi sebagai mekanisme penundaan. Pemerintahan dibentuk bukan untuk memimpin, melainkan untuk bertahan. Sementara itu, utang bertambah, pengangguran naik, dan rakyat semakin apatis terhadap siapa pun yang duduk di kursi kekuasaan.

Dalam konteks ini, seruan dari Mathilde Panot dari France Unbowed agar Macron mundur bukan sekadar serangan oposisi, melainkan cermin dari frustrasi kolektif. Namun penggulingan Macron bukanlah solusi; sistem yang ada terlalu rapuh untuk diganti dengan mudah. Jika Macron jatuh, kebingungan justru bisa makin dalam. Inilah paradoks besar demokrasi modern: kita tahu sistemnya rusak, tetapi kita tidak tahu siapa yang mampu memperbaikinya.

Ada semacam kelelahan moral yang merasuki politik Prancis. Rakyatnya sudah bosan dengan jargon revolusi, tapi juga kecewa dengan stabilitas semu. Mereka melihat perubahan hanya sebagai rotasi wajah di layar televisi. Dan Macron, dengan segala kecerdasannya, tampak seperti murid yang terlalu percaya diri dalam menjawab soal yang salah. Ia tahu setiap detail teknis negara, tapi lupa bahwa yang dibutuhkan rakyat bukanlah presiden yang pandai, melainkan pemimpin yang bisa dipercaya.

Mungkin inilah momen ketika Prancis harus berhenti memandang dirinya sebagai “pemimpin Eropa” dan mulai belajar kembali menjadi bangsa yang tahu arah. Karena kepemimpinan, pada akhirnya, bukan soal mempertahankan kekuasaan, tapi soal menunjukkan jalan saat semua orang kehilangan cahaya. Macron tampaknya lupa hal itu. Dan ketika cahaya dari istana Elysee mulai redup, bayangan ketidakpastian kini menyelimuti seluruh Republik.

Saya rasa, jika sejarah menilai masa ini, ia akan menyebutnya sebagai “era kebingungan yang anggun.” Sebuah masa ketika Prancis masih tampak megah dari luar, tetapi di dalamnya, jiwa republik itu sedang mencari napas baru. Entah akan ditemukan di tangan generasi baru, atau justru hilang ditelan rutinitas politik yang tak lagi punya makna.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer