Opini
Pertukaran Tawanan dan Ilusi Keadilan Kolonial
Langit Gaza mungkin tampak sedikit lebih terang minggu lalu. Beberapa keluarga menyalakan lilin, menyambut kepulangan anak, saudara, atau suami yang akhirnya keluar dari penjara Israel setelah bertahun-tahun hilang tanpa kabar. Tapi cahaya itu tak benar-benar hangat. Karena di balik setiap pelukan, ada bayangan panjang dari ribuan tahanan Palestina lain yang masih terkunci di balik jeruji besi, tanpa tahu kapan atau apakah mereka akan melihat langit lagi.
Saya rasa, di titik ini, dunia seharusnya berhenti menyebutnya pertukaran tawanan. Karena jika keadilan benar-benar setara, bagaimana mungkin 3.985 tahanan Palestina harus dibebaskan hanya untuk menukar 163 warga Israel? Rasio yang menelanjangi ketimpangan moral di balik narasi “kemanusiaan” yang diklaim Israel dan sekutunya.
Menurut laporan lembaga seperti Palestine Center for Prisoners’ Studies dan Al Mezan Center for Human Rights, hingga kini masih ada lebih dari 9.000 tahanan Palestina yang dikurung. Ribuan di antaranya—sekitar 3.500 orang—ditahan di bawah administrative detention, sistem penahanan tanpa dakwaan, tanpa pengadilan, tanpa batas waktu. Sebuah konsep hukum yang di dunia mana pun dianggap biadab, tapi di tangan rezim zionis justru dilegalkan.
Bayangkan: seseorang bisa ditangkap tanpa alasan, disiksa tanpa proses, lalu dipenjara selama bertahun-tahun hanya karena mencurigakan di mata penjajah. Lalu dunia menyebut Israel sebagai “satu-satunya demokrasi di Timur Tengah.” Betapa ironis. Betapa busuk kata demokrasi ketika keluar dari mulut yang memenjarakan anak-anak.
Bahkan setelah pertukaran tawanan terbaru, Israel masih menahan ratusan anak-anak dan perempuan, juga dokter, jurnalis, dan relawan kemanusiaan yang dituduh “menghasut.” Mereka bukan kriminal. Mereka manusia biasa yang hidup di tanah yang salah—tanah yang dikehendaki Israel. Dan di tanah yang diinginkan penjajah, setiap napas orang asli bisa dianggap ancaman.
Kita sering mendengar istilah “keamanan nasional” yang dipakai untuk membenarkan kebijakan penangkapan. Tapi apa yang sebenarnya ingin diamankan? Jika seorang bocah berumur 14 tahun dianggap ancaman bagi negara bersenjata nuklir, maka masalahnya bukan pada bocah itu, tapi pada negara yang takut pada kebenaran.
Yang paling getir adalah bagaimana dunia bertepuk tangan setiap kali Israel “membebaskan tahanan.” Media arus utama menggambarkannya seolah kebijakan kemanusiaan, padahal faktanya, setiap pembebasan hanyalah pergantian gembok. Di hari yang sama ketika 2.000 orang Palestina keluar dari penjara, aparat Israel menangkap lebih banyak lagi di Tepi Barat dan Gaza. Ini bukan keadilan—ini rotasi penindasan.
Para tahanan yang dibebaskan bercerita tentang “neraka” di balik tembok penjara. Mereka disiksa, dipaksa tidur di lantai dingin, dibungkus selimut tipis bersama sebelas orang lain, dijatah makanan yang tak layak dimakan. Sebagian dijadikan tameng manusia dalam operasi militer. Dan setelah bertahun-tahun diperlakukan seperti binatang, mereka dilempar kembali ke Gaza yang kini tak ubahnya penjara raksasa. Dari satu kurungan ke kurungan lain. Dari neraka ke neraka lainnya.
Laporan menunjukkan setidaknya 78 tahanan Palestina meninggal dalam dua tahun terakhir akibat penyiksaan, kelaparan, dan penolakan perawatan medis. Dunia tahu ini. Tapi dunia memilih diam, karena pelaku bukanlah musuh politik mereka. Dunia punya cara aneh dalam menimbang penderitaan—berat sebelah, bergantung pada siapa yang menyiksa dan siapa yang disiksa.
Kadang saya pikir, istilah pertukaran tawanan hanyalah dekorasi bahasa agar dunia tak merasa bersalah. Kata itu memberi kesan setara, padahal kenyataannya tidak. Israel memperlakukan warganya yang ditawan sebagai pahlawan nasional; Palestina memperlakukan warganya yang ditawan sebagai bukti perlawanan. Tapi Israel menahan ribuan orang sebagai balas dendam, bukan karena kejahatan.
Inilah logika kolonial yang terus diulang: penjajah selalu menulis ulang makna kata “keamanan.” Di bawah kolonialisme modern, keamanan berarti ketakutan pihak yang kuat terhadap kebangkitan pihak yang tertindas. Maka, menahan ribuan warga tanpa pengadilan dianggap wajar, karena itu disebut “pencegahan ancaman.” Tapi jika rakyat terjajah menuntut kebebasan, mereka dicap teroris. Dunia menerima narasi ini tanpa berpikir, seolah sejarah dimulai dan berakhir di layar berita.
Saya jadi teringat pepatah lama: “Penjara bukan tempat untuk kejahatan, tapi tempat untuk yang melawan.” Di Palestina, pepatah itu menjadi kenyataan. Setiap yang menolak dijajah, setiap yang menulis tentang penderitaan, setiap yang menolong korban pembantaian, bisa berakhir di balik jeruji. Penjara menjadi instrumen kolonial yang paling efisien, karena ia tidak hanya menahan tubuh, tapi juga mengikis keyakinan dan identitas.
Namun yang menakjubkan, justru dari balik penjara itulah lahir simbol-simbol keteguhan yang sulit ditaklukkan. Tahanan Palestina bukan sekadar angka statistik. Mereka adalah cermin dari keberanian yang belum mati. Mereka membawa luka, tapi juga memelihara harapan bahwa kebebasan bukan sesuatu yang bisa dinegosiasikan.
Dunia, terutama kita yang hidup jauh dari Gaza, mungkin tak sanggup membayangkan betapa panjang malam di sel tanpa jendela. Tapi kita tahu makna kehilangan, ketidakadilan, dan diamnya dunia. Di sinilah letak relevansinya: ketika negara atau kekuasaan di mana pun mulai memperlakukan manusia sebagai ancaman hanya karena berbeda, maka penjara Gaza ada di mana-mana — di hati setiap sistem yang kehilangan nurani.
Saya rasa sudah saatnya kita berhenti menyebut ini sekadar “konflik.” Ini bukan perang dua pihak seimbang, tapi penjajahan yang berlangsung terang-terangan. Penjara, penyiksaan, dan penahanan tanpa pengadilan bukan efek samping perang, melainkan inti strategi Israel untuk menghancurkan bangsa Palestina dari dalam.
Pertukaran tawanan hanyalah panggung diplomasi yang menipu. Di depan kamera, Israel tampak seperti negara yang “berkompromi.” Tapi di balik layar, mereka terus menangkap, menyiksa, dan menutup akses Palang Merah. Semua dilakukan atas nama keamanan. Padahal keamanan siapa? Yang jelas, bukan keamanan bagi 9.000 tahanan yang hidup dalam ketakutan dan lapar setiap hari.
Kita semua tahu, dunia modern memiliki kemampuan luar biasa untuk membuat ketidakadilan tampak legal. Undang-undang bisa disusun untuk melegitimasi penyiksaan, dan media bisa menata narasi agar penjajahan tampak seperti pertahanan diri. Tapi sejarah selalu menemukan cara untuk menelanjangi kebohongan. Sama seperti apartheid di Afrika Selatan yang akhirnya tumbang, penjara Israel suatu hari akan kehilangan tembok moral yang melindunginya.
Pada akhirnya, apa yang disebut “pertukaran tawanan” hanyalah cermin dari dunia yang telah kehilangan arah moralnya. Dunia yang memberi penghargaan kepada penjajah dan membiarkan yang dijajah mati perlahan. Dunia yang menutup mata atas kejahatan yang dilakukan dengan senyum diplomasi.
Selama penjara-penjara Israel masih penuh dengan tahanan Palestina, kata “kemanusiaan” tak lebih dari hiasan pidato. Dan selama dunia masih percaya pada ilusi keadilan kolonial, setiap pertukaran tawanan hanyalah satu babak lagi dalam drama panjang penindasan. Sebuah drama di mana kebebasan tetap menjadi kata paling mahal di bumi yang dijajah.
