Opini
Perlawanan Diam Warga Gaza Menembus Kepungan
Langit Gaza bukan lagi langit, melainkan kubah besi yang terus diguncang dentum meriam. Debu dan asap menulis puisi kematian di udara, sementara dunia—yang katanya beradab—terus menatap seperti menonton tayangan serial yang membosankan. Di tengah hiruk-pikuk itu, ada keheningan yang justru paling bising: perlawanan diam warga Gaza. Mereka yang tetap tinggal, menolak tunduk pada perintah evakuasi, menolak meninggalkan tanah yang sudah dipenuhi kubur nenek moyang. Diam mereka bukan kepasrahan. Diam mereka adalah jerit yang tak bisa diredam.
Kita semua tahu, dalam dunia yang serba tergesa ini, diam sering dianggap lemah. Tetapi coba tengok Gaza. Ketika tank Merkava merangsek masuk ke Tal al-Hawa, ketika pesawat tempur mengubah Al-Mawasi—zona yang disebut “aman”—menjadi kuburan massal, lebih dari sembilan ratus ribu manusia memilih tidak bergerak. Mereka tidak menutup mata pada maut. Mereka menatapnya balik. Itulah sumud, keteguhan yang lahir dari ingatan panjang pengusiran sejak Nakba 1948. Sejarah mengajarkan mereka bahwa pergi berarti hilang, bahwa pengungsian hanya tiket sekali jalan menuju keterasingan. Maka mereka memilih tetap, meski rumah bisa runtuh kapan saja.
Ada ironi yang mengiris. Israel mengeluarkan perintah evakuasi, seolah itu tawaran keselamatan. Pergilah ke selatan, katanya, ke Al-Mawasi. Tapi Al-Mawasi sudah dilumat lebih dari seratus serangan udara sejak 2023, menewaskan dua ribu jiwa. Sebuah “zona aman” yang lebih mirip jebakan maut. Kita bisa membayangkan: pemerintah memerintahkan evakuasi ke sebuah tempat yang bahkan tak sanggup menampung satu kampung. Ini bukan sekadar pengusiran, ini penghinaan. Seperti menyuruh orang menyelamatkan diri dengan melompat ke jurang.
Saya rasa kita di Indonesia bisa merasakannya, setidaknya sekelebat. Bayangkan bila kita disuruh meninggalkan rumah, hanya untuk mendapati bahwa pengungsian adalah tenda sobek tanpa air bersih, listrik, atau makanan. Bayangkan jalan ke sana diselimuti ancaman bom. Pada titik itu, bukankah lebih masuk akal untuk tetap tinggal? Rumah, meski penuh serpihan, tetaplah rumah. Tetangga, meski sama-sama lapar, tetaplah keluarga. Diam di Gaza bukan kebekuan, melainkan keputusan yang rasional sekaligus heroik.
Perlawanan diam warga Gaza juga menampar klaim kemanusiaan kita semua. Dunia internasional rajin menggelar konferensi perdamaian, tetapi gagal menjamin koridor aman bagi warga sipil. Sementara itu, mereka yang disebut “penduduk sipil” justru menolak status pengungsi. Mereka memilih menjadi saksi di tanah sendiri. Betapa kontras dengan politik global yang sibuk menukar nyawa dengan diplomasi. Setiap kali media melaporkan angka—tiga ratus ribu mengungsi, enam puluh ribu dalam tiga hari terakhir—angka itu seakan mengaburkan kenyataan bahwa di balik statistik ada wajah-wajah yang sengaja menolak hilang.
Ironi lain: serangan yang dimaksudkan untuk menakut-nakuti justru menajamkan tekad. Lihat saja, lebih dari dua puluh empat ribu orang yang sempat mengungsi malah kembali ke rumah mereka. Mereka sempat membawa barang ke selatan, menemukan ketiadaan, lalu kembali. Itu bukan pasrah. Itu deklarasi. Mereka berkata dengan langkah kaki: Kami tidak pergi ke mana-mana. Seperti petani yang menanam benih di ladang gersang, mereka menanam hak kembali di atas puing.
Perlawanan diam ini juga menjadi cermin bagi kita. Di sini, kita kadang merasa gagah hanya dengan mengetik di media sosial. Kita marah sebentar, lalu sibuk lagi dengan belanja daring. Sementara di Gaza, marah mereka diterjemahkan menjadi keberanian hidup sehari-hari. Mereka mendidik anak, menyiapkan makanan seadanya, menyalakan lilin di malam tanpa listrik. Ini perlawanan yang tidak membutuhkan senjata. Sebuah doa yang berdiri tegak di tengah api.
Saya teringat obrolan dengan seorang relawan kemanusiaan yang pernah ke Gaza beberapa tahun lalu. Katanya, orang Gaza punya cara unik memandang bencana. Mereka tertawa di sela ketakutan, bercanda di tengah reruntuhan. “Kalau tidak tertawa,” ujarnya, “kami sudah gila.” Humor jadi pelindung mental, semacam dinding tak terlihat. Di balik tawa itu tersimpan pesan: kami masih manusia, bukan angka. Di sinilah letak kekuatan perlawanan diam—ia menolak dehumanisasi.
Tentu, perlawanan ini bukan tanpa luka. Puluhan orang tewas setiap hari. Rumah sakit Al-Quds dan Al-Shifa terancam, tenaga medis kehabisan suplai. Anak-anak tumbuh dengan suara ledakan sebagai nina bobo. Namun, justru di tengah luka itulah makna sumud menjadi lebih tajam. Mereka tetap menyalakan api dapur, menyalakan azan, menyalakan harapan. Di mata mereka, bertahan bukan soal berani mati, tapi soal berani hidup.
Kita semua tahu, dunia sedang menguji batas kemanusiaan. Tetapi warga Gaza menguji balik: seberapa jauh kita rela membiarkan ketidakadilan berjalan telanjang? Ketika mereka menolak meninggalkan rumah, mereka bukan hanya melawan Israel, tetapi juga melawan keacuhan global. Mereka memaksa kita, penonton jauh di luar sana, untuk memilih: diam seperti mereka—dengan makna—atau diam seperti kita—dengan abai.
Perlawanan diam warga Gaza menembus kepungan senjata dan propaganda. Mereka tidak butuh mikrofon, karena debu yang menempel di wajah sudah bercerita. Mereka tidak menulis manifesto, karena langkah kaki di puing sudah jadi pernyataan. Dan kita, yang tinggal jauh dari dentuman, seharusnya belajar dari diam yang tak menyerah itu. Diam yang justru berteriak: tanah ini milik kami, dan kami akan tetap di sini sampai dunia berhenti berpura-pura tuli.
Pada akhirnya, perlawanan diam warga Gaza adalah cermin yang memaksa kita menatap wajah sendiri. Seberapa jauh kita, yang hidup di tanah yang relatif damai, rela mempertahankan hak-hak paling dasar bila suatu hari dipaksa memilih antara rumah dan nyawa? Kita mungkin berpikir kita akan berani, tapi kenyataan tak pernah sesederhana itu. Warga Gaza telah memilih, dengan segala resiko yang tak terbayangkan. Dan dalam pilihan itu, mereka mengajarkan kita bahwa keberanian sejati tidak selalu berdentum; kadang ia berwujud langkah yang tetap, mata yang menatap lurus, dan hati yang menolak tunduk meski dunia seolah sudah sepakat untuk melupakannya.

Pingback: Genosida di Gaza: Kejahatan Terburuk Abad Modern