Connect with us

Opini

Percikan Sinai: Ketakutan Lama yang Kembali Menyala

Published

on

Ilustrasi editorial pasukan Mesir berjaga di gurun Sinai dengan latar perbatasan Israel

Angin panas gurun tak pernah benar-benar diam. Di tengah pasir Sinai, bunyi deru mesin militer Mesir seperti bisik-bisik masa lalu yang tak mau padam. Kita—yang sering terlena oleh layar gawai dan hiruk pikuk kota—mungkin lupa bahwa perdamaian bisa rapuh seperti kaca. Perjanjian Camp David 1979, yang konon menjadi jangkar ketenangan Mesir–Israel, kini terdengar seperti lagu lama yang putarnya serak. Dan Benjamin Netanyahu, sang maestro politik yang sedang terdesak, memilih menaikkan volume kegelisahan itu.

Saya rasa kita semua paham pola ini: ketika pemimpin kehilangan pijakan di dalam negeri, musuh lama dijadikan panggung. Netanyahu, di tengah kritik perang Gaza yang menumpuk, menemukan bahan bakar di padang pasir Sinai. Ia menuduh Mesir melanggar perjanjian—menambah pasukan, memperpanjang landasan pacu, membangun fasilitas bawah tanah. Tidak ada bukti rudal, tidak ada tanda serangan. Namun bagi politisi yang mahir memainkan rasa takut, ketiadaan bukti justru bisa jadi narasi paling efektif: ancaman tak terlihat yang setiap orang bayangkan.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Mesir tentu tak tinggal diam. Mereka menegaskan, kehadiran pasukan adalah hak kedaulatan. Demi keamanan perbatasan, demi mencegah terorisme dan penyelundupan, demi menutup pintu bagi rencana gelap memindahkan pengungsi Gaza ke Sinai. Pernyataan resmi itu terdengar tegas, nyaris seperti tamparan: kami tak melanggar apa pun, kami tak tunduk pada tekanan. Ironisnya, inilah sikap yang justru membuat Tel Aviv gelisah—sebuah kedaulatan Arab yang tak bisa digerakkan dengan ancaman.

Jika kita menengok sejarah, rasa cemas Israel pada Mesir memang tak pernah sepenuhnya hilang. Dua perang besar sebelum 1979 meninggalkan memori kolektif yang panjang. Militer Mesir, salah satu yang terbesar di dunia Arab, bukan lawan sepele. Maka, ketika pasukan Mesir kini lebih banyak di Sinai, imajinasi ancaman itu otomatis hidup, meski logika modern berkata lain. Seperti tetangga lama yang pernah berkelahi, sekadar melihat pintu pagar dibenahi pun bisa memicu prasangka.

Namun yang menggelikan, kecemasan Netanyahu lebih mirip drama panggung politik ketimbang peringatan strategis. Ia meminta Amerika Serikat menekan Kairo, seolah Washington masih punya kendali penuh seperti era Perang Dingin. Padahal semua orang tahu, Mesir kini bukan bidak yang mudah digerakkan. Mereka menjaga Rafah, menyalurkan bantuan, bahkan menjadi mediator kunci di Gaza. Menekan Kairo justru bisa memutus jalur diplomasi yang tersisa—tapi bukankah itu risiko yang berguna bagi seorang politisi yang haus panggung?

Kita di Indonesia tentu akrab dengan ironi semacam ini. Betapa sering pemimpin memanfaatkan isu keamanan untuk menutup kritik ekonomi atau kemanusiaan. Netanyahu seperti sedang memainkan naskah lama: menciptakan “ancaman luar” agar rakyat melupakan kegagalannya di dalam. Ketika korban sipil di Gaza sudah menembus puluhan ribu jiwa, wajar ia mencari panggung baru, agar sorot lampu tak hanya tertuju pada genosida yang kian sulit dibenarkan.

Sementara itu, Mesir memainkan peran yang jauh lebih masuk akal. Mereka memperkuat Sinai bukan untuk menyerang, melainkan untuk memastikan tragedi Gaza tak menyeberang ke perbatasan. Mereka menolak keras skenario pengungsian massal yang diam-diam diharapkan sebagian elit Israel: memindahkan masalah dengan mengusir penduduk Gaza ke tanah Mesir. Bukankah ini sikap yang justru pantas dipuji? Dalam bahasa sederhana: Mesir sedang memastikan rumahnya tak jadi tempat sampah dari kekacauan yang dibuat tetangga.

Percikan antara Mesir dan Israel hari ini mengingatkan kita bahwa perdamaian di Timur Tengah selalu bersyarat. Camp David bukan jaminan abadi, hanya kontrak yang bergantung pada kepentingan politik saat itu. Mesir masih butuh bantuan ekonomi Amerika, Israel masih butuh batas selatan yang stabil. Tetapi jika kepentingan berubah, siapa yang berani bersumpah perjanjian itu akan kekal? Ketika Netanyahu mengadukan Mesir ke Washington, sesungguhnya ia mengakui ketakutannya sendiri: perjanjian yang diandalkan Israel bisa retak kapan saja.

Ada yang lebih dalam di sini—tentang martabat. Mesir, dengan segala problem dalam negerinya, menolak menjadi halaman belakang Israel. Mereka menegaskan hak menjaga tanahnya sendiri, bahkan ketika dunia menekan. Dalam konteks Arab yang masih bergulat dengan bayang-bayang kolonialisme, sikap ini adalah simbol kebangkitan. Dan seperti biasa, simbol semacam ini lebih menakutkan bagi Israel ketimbang tank atau rudal.

Di balik semua itu, ada ironi yang sulit diabaikan: kekhawatiran Netanyahu lahir justru dari kebijakan yang selama ini ia banggakan sendiri—yakni politik kekerasan di Gaza. Semakin brutal serangan di sana, semakin besar tekanan dunia Arab terhadap pemerintah mereka, dan semakin wajar Mesir memperketat penjagaan. Dengan kata lain, ketakutan Israel terhadap Mesir adalah buah dari bibit yang mereka tanam sendiri. Sebuah lingkaran sebab-akibat yang, kalau saja tak begitu tragis, mungkin layak ditertawakan.

Saya tidak terkejut bila percikan ini akan diredam lewat diplomasi. Amerika punya kepentingan besar menjaga Camp David tetap utuh; Mesir tahu manfaat bantuan ekonomi; Israel, sekuat apa pun retorikanya, tidak sanggup membuka front baru. Tapi percikan itu sendiri sudah berbicara. Ia menyingkap kepalsuan “stabilitas” yang selama ini dijual kepada dunia, menyingkap kegelisahan pemimpin yang terpojok, menyingkap kenyataan bahwa perdamaian yang tak adil selalu menunggu celah untuk meledak.

Dan kita, yang menyaksikan dari jauh, seharusnya belajar satu hal: ketenangan yang dibangun di atas ketakutan bukanlah ketenangan, hanya jeda. Sinai hari ini membuktikan bahwa jeda bisa kapan saja berubah jadi badai. Netanyahu mungkin mengira ia sedang bermain catur, menempatkan Mesir sebagai pion untuk mengamankan kursinya. Tetapi papan permainan Timur Tengah tak pernah tunduk pada rencana satu orang. Angin gurun tetap membawa bau mesiu lama, dan sejarah, seperti pasir, selalu siap menelan langkah mereka yang terlalu percaya diri.

Sumber:

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer