Opini
Perang Algoritma Netanyahu di Medan Maya
Langit malam Jakarta terasa berat, seolah sinyal internet yang kita pakai setiap hari menyimpan rahasia gelap. Di balik layar ponsel yang kita geser tanpa pikir panjang, perang opini berlangsung tanpa jeda. Bukan lagi sekadar adu argumen di kolom komentar, melainkan pertempuran sunyi di balik algoritma yang menentukan apa yang kita lihat, apa yang kita percayai. Dan di tengah absurditas ini, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melontarkan pengakuan yang membuat darah mendidih: media sosial adalah “senjata” utama untuk mengamankan dukungan politiknya di Amerika Serikat.
Saya rasa banyak orang akan menepuk jidat mendengar pernyataan itu. Betapa lugasnya Netanyahu menyingkap kartu, tanpa malu-malu menyebut TikTok sebagai “pembelian paling penting” dan X—platform yang dulu kita kenal sebagai Twitter—sebagai ruang yang harus didekati lewat pemiliknya, Elon Musk. Kalimatnya tidak sekadar angkuh, melainkan peta strategi yang menandai dimulainya babak baru: perang algoritma. Di sinilah absurditas realitas menampakkan wajahnya. Ketika ratusan delegasi dunia memilih walkout saat Netanyahu berpidato di PBB, ia justru menyiapkan medan pertempuran lain, jauh lebih licin dan sulit dijangkau: layar ponsel kita.
Netanyahu tahu betul, Israel kalah telak di mata publik dunia maya. Sejak serangan brutal di Gaza, gambar dan video yang diunggah warga sipil menyapu bersih narasi resmi. Generasi muda Amerika—yang setiap hari menelan konten di TikTok—tak lagi percaya begitu saja pada jargon keamanan nasional yang dibungkus propaganda. Mereka menyaksikan anak-anak Gaza yang berlumur debu, mendengar jeritan yang tak bisa disensor. Dan di sinilah kepanikan pemerintah Israel lahir. Perang di lapangan bisa diredam dengan tembok beton dan blokade, tapi arus informasi? Sulit. Terlalu cair. Terlalu cepat.
Itulah mengapa kabar penjualan TikTok versi Amerika kepada konsorsium investor lokal menjadi potongan puzzle yang pas. Oracle, perusahaan yang sudah lama menjadi mitra cloud TikTok, akan mengelola algoritma dan menyimpan data pengguna AS di bawah proyek bernama “Project Texas.” Pada pandangan pertama, semua terdengar wajar: alasan keamanan nasional, kekhawatiran terhadap pengaruh Tiongkok. Tetapi ketika tahu bahwa pendiri Oracle, Larry Ellison, adalah pendukung setia Israel—bahkan menjanjikan infrastruktur cloud untuk pertahanan Tel Aviv—maknanya berubah. Seperti gula dalam kopi pahit, manis di permukaan, getir di dasar.
Kita semua tahu algoritma bukan sekadar barisan kode netral. Ia ibarat juru masak tak terlihat yang menentukan resep informasi yang kita konsumsi. Jika sang juru masak punya selera politik, hasilnya bisa memihak. Bayangkan bila satu pihak yang terang-terangan pro-Israel mendapat kendali atas bumbu utama itu. Konten pro-Palestina yang selama ini mengalir deras bisa saja diperlambat, dikubur jauh di bawah tumpukan video kucing lucu atau tarian viral. Tidak ada larangan formal, tidak ada sensor terang-terangan, hanya keheningan algoritma yang menyeleksi diam-diam.
Ironisnya, semua ini terjadi di negara yang kerap mengajarkan dunia tentang kebebasan berekspresi. Amerika Serikat, dengan sejarah panjang memuja “marketplace of ideas”, kini menjadi panggung di mana kebebasan itu bisa diperdagangkan. Ketika Trump menandatangani perintah eksekutif yang merestui penjualan TikTok, banyak yang menganggapnya semata-mata soal Tiongkok. Namun laporan yang menyebut tekanan lobi pro-Israel setelah maraknya konten Gaza menyingkap lapisan lain: keamanan nasional sebagai topeng kepentingan politik luar negeri.
Saya teringat status media sosial seorang jurnalis yang pernah meliput di Tepi Barat. Ia bilang, “Di sana peluru menembus daging, di sini algoritma menembus kesadaran.” Kalimat itu terasa semakin tepat hari ini. Perang tidak selalu menampilkan dentuman bom; kadang hanya berupa jeda loading lima detik yang membuat kita malas menonton sebuah video tentang penderitaan warga Gaza. Kadang hanya berupa konten rekomendasi yang tiba-tiba terasa “aman” dan netral. Kita tak sadar sedang diarahkan.
Bagi para aktivis media sosial, ini jelas tantangan besar. Selama ini, keberanian mereka mengunggah video dari lapangan, mengorganisasi kampanye digital, dan memaksa media arus utama menoleh telah menggerus hegemoni narasi resmi Israel. Tetapi jika algoritma mulai dimanipulasi, cara lama tak lagi cukup. Mereka harus lebih kreatif, memecah ketergantungan pada segelintir platform raksasa. Mungkin ini saatnya melirik jaringan terdesentralisasi, membangun server komunitas sendiri, atau memperkuat media independen yang tak tunduk pada tekanan investor.
Kita yang jauh di Indonesia pun tidak kebal. Algoritma yang sama bekerja di ponsel kita. Apa yang kita lihat tentang Gaza, tentang konflik global, bahkan tentang politik lokal, bisa dipengaruhi kepentingan yang berjarak ribuan kilometer. Kita semua pernah merasakan: satu kali menonton video pro-Palestina, tiba-tiba konten serupa hilang dari linimasa, digantikan hiburan ringan yang meninabobokan. Kebetulan? Mungkin. Atau justru bukti betapa “medan perang maya” sudah diatur sedemikian rupa.
Ada yang berkata, “Bukankah ini hanya teori konspirasi?” Saya rasa justru sebaliknya: Netanyahu sudah memberi pengakuan terbuka. Kita tidak perlu lagi berspekulasi. Ia sendiri yang menyebut media sosial sebagai senjata, menyarankan untuk “bicara dengan Elon,” dan memuji pentingnya TikTok. Ini bukan bisik-bisik gelap, ini panggilan perang.
Dan perang ini, sayangnya, bukan sekadar tentang Israel dan Palestina. Ia adalah cermin rapuhnya demokrasi digital kita semua. Jika algoritma bisa dibeli, maka opini publik pun bisa diperdagangkan. Hari ini mungkin soal Gaza, esok mungkin soal krisis iklim, pemilu, atau hak-hak sipil di negara manapun.
Kita harus menanggapi dengan mata terbuka. Memperkuat literasi digital, mendukung media independen, dan menuntut transparansi dari perusahaan teknologi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Jangan biarkan lini masa kita menjadi ladang yang diam-diam dikuasai, sementara kita hanya menjadi petani yang tak sadar lahannya sudah digadaikan. Netanyahu mungkin merasa menang bila dukungan politik Amerika tetap aman. Tapi di balik itu, kita yang melek akan tahu: perang algoritma tak bisa dimenangkan dengan uang dan koneksi semata, karena kesadaran publik—meski pelan—selalu menemukan jalannya.
Pada akhirnya, ini bukan hanya tentang Palestina. Ini tentang hak kita semua untuk melihat kebenaran apa adanya, bukan versi yang sudah diatur. Kita berutang pada para jurnalis warga, pada anak-anak Gaza yang berani merekam meski bom berjatuhan, pada generasi muda yang menolak dibungkam. Karena jika kita menyerah pada algoritma yang bisa dibeli, maka perang opini sudah dimenangkan bahkan sebelum kita mengetik kata pertama.
Sumber:

Pingback: Minority Report dan Ancaman Otoritarianisme Digital Eropa