Connect with us

Opini

Pengakuan Palestina, Dukungan Israel: Hipokrisi Australia Nyata

Published

on

Ilustrasi editorial satir menggambarkan pejabat Australia memegang bendera Palestina di depan, sementara di belakangnya peti suku cadang jet tempur F-35 dikirim ke Israel.

Di satu sisi, di podium diplomasi, Australia menegaskan pengakuan terhadap negara Palestina. Kata-kata itu terdengar indah, bagai embun pagi yang seolah menjanjikan kesejukan. Namun, di balik layar, di perut pesawat komersial yang berangkat dari Sydney, ada kargo rahasia: suku cadang jet tempur F-35, dikirim langsung ke Tel Aviv, menuju pangkalan Nevatim—markas besar jet-jet yang menyalakan api di langit Gaza. Ironi ini terlalu telanjang untuk ditutupi.

Saya rasa, banyak orang mungkin sempat merasa bangga ketika mendengar kabar bahwa Australia akhirnya mengakui Palestina. Seolah ada secercah cahaya moral dari negeri kanguru. Tapi rasa bangga itu hanya bertahan sekejap, sebab fakta dari dokumen pengiriman senjata memperlihatkan kebohongan yang kasar. Pengakuan itu ternyata hanyalah simbol kosong, seperti kartu ucapan belasungkawa yang dilemparkan setelah ikut membiayai peluru yang sama.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Kita tahu, dalam diplomasi modern, bahasa bisa jadi alat cuci tangan. Pemerintah Australia berdalih bahwa yang dikirim hanyalah “non-lethal parts”—suku cadang yang katanya tak mematikan. Benarkah demikian? Mari sejenak kita berpikir sederhana. Apa gunanya pesawat tempur tanpa helm visor generasi III yang membantu pilot mengunci target dengan presisi? Apa jadinya jet F-35 tanpa aktuator yang membuka ruang untuk memuntahkan flare ketika diserang rudal? Atau apa gunanya rudder tie-rod yang menggerakkan ekor pesawat, jika tak dipasang? Semua itu bukan “mainan plastik”. Semua itu adalah jantung dari mesin perang.

Menyebutnya “non-lethal” ibarat mengatakan bensin tidak berbahaya hanya karena dia tidak berbentuk pistol. Padahal tanpa bensin, mobil pembunuh tak akan melaju. Inilah permainan semantik yang memalukan: mengganti kata untuk mengaburkan makna, seolah-olah publik terlalu bodoh untuk melihat relasi antara komponen kecil dan bom yang meledak di atas kepala anak-anak Gaza.

Dan mari kita bicara soal cara pengiriman. Sungguh absurd. Barang-barang ini tidak dikirim dengan jet militer khusus, melainkan diselundupkan dalam kargo pesawat penumpang sipil Thai Airways dan El Al. Bayangkan, 321 penumpang duduk santai menikmati minuman gratis di kabin, tanpa tahu bahwa tepat di bawah kaki mereka tersimpan komponen jet tempur yang akan membantu Israel menambah daftar korban di Gaza. Apa pemerintah Australia tak menyadari betapa bahayanya praktik ini? Atau justru sadar, tapi sengaja menutup mata karena urusan geopolitik dianggap lebih penting daripada nyawa penumpang sipil?

Jika kita tarik benang lebih jauh, terlihat jelas bahwa industri pertahanan Australia punya peran kunci. Ada Moog Australia di Melbourne yang memperbaiki rudder tie rods. Ada Rosebank Engineering yang memproduksi dan memperbaiki aktuator. Ada basis RAAF di Williamtown yang menyimpan stok suku cadang F-35. Semuanya masuk ke jalur ekspor yang secara ajaib—atau ironis—selalu berakhir di Israel. Pertanyaannya, apakah ini benar-benar untuk perbaikan, atau hanya jalur “resmi” untuk menyalurkan bantuan militer? Fakta bahwa 51 dari 68 pengiriman langsung ditujukan ke Nevatim, markas tiga skuadron F-35 Israel, menjawabnya dengan cukup jelas.

Pemerintah Canberra, tentu saja, berusaha memoles wajah dengan narasi “repair”. Mereka mengatakan bahwa suku cadang dikirim hanya untuk diperbaiki, lalu akan kembali ke Australia. Namun, akal sehat kita bertanya: mengapa harus mengirim visor helm yang diproduksi di Amerika ke Israel hanya untuk diperbaiki? Mengapa tie-rod yang bisa diperbaiki di Melbourne justru harus berputar jauh ke Nevatim? Ini bukan logika teknik, ini logika politik. Dan logika politik, kita tahu, sering kali berarti menipu publik demi menjaga hubungan dengan sekutu.

Lebih ironis lagi, semua ini berlangsung bersamaan dengan pengakuan simbolik Australia terhadap Palestina. Inilah tragedi diplomasi: satu tangan menyodorkan bunga, tangan lain menyelundupkan peluru. Dan yang paling menyedihkan, publik Australia sebagian besar hanya mendengar potongan-potongan pidato manis, sementara laporan investigatif seperti ini terpinggirkan dari arus utama media. Tidak semua orang tahu bahwa ketika Australia mengakui Palestina, di hari yang sama ada kargo yang mempersenjatai Israel.

Kita di Indonesia tentu paham bagaimana rasanya jadi korban politik simbolis semacam ini. Berapa kali negara-negara Barat bicara soal demokrasi di Asia Tenggara, tapi tetap menjual senjata ke rezim yang menindas rakyatnya? Persis sama: kata-kata dijual di depan kamera, tapi kontrak miliaran dolar berjalan di balik layar. Bedanya, kali ini taruhannya bukan hanya kebebasan, melainkan nyawa ribuan orang di Gaza.

Saya jadi teringat pepatah Jawa: “Esuk dele sore tempe.” Pagi bilang kedelai, sore bilang tempe. Sebuah metafora tentang orang yang berubah-ubah kata sesuai kepentingan. Itulah Australia hari ini. Pagi hari bicara tentang hak Palestina, sore hari tetap menjaga suplai suku cadang jet yang mengebom Palestina.

Jika Australia benar-benar serius dengan pengakuan Palestina, seharusnya mereka mengambil langkah konkret: hentikan ekspor semua suku cadang militer ke Israel, tarik perusahaan pertahanan dari keterlibatan langsung, dan berikan transparansi penuh ke publik. Tanpa itu, pengakuan Palestina hanyalah janji manis tanpa arti, sekadar “pemanis buatan” di panggung politik global.

Pada akhirnya, yang membuat kita marah bukan hanya fakta bahwa warga sipil di Gaza dibom dengan jet F-35. Tapi juga kenyataan bahwa di balik dentuman bom itu, ada sidik jari negara-negara yang mengaku menjunjung hukum internasional. Ada Australia, yang di depan kamera tampak sopan dan bermoral, tapi di balik layar berperan sebagai pemasok mesin kematian.

Dan kita pun dipaksa menerima absurditas ini, meski sambil tersenyum getir. Sebab dalam politik global, ternyata pengakuan tidak selalu berarti pengakuan, dan keadilan tidak selalu berarti keberanian untuk menghentikan kejahatan. Yang ada hanya kata-kata, sementara kargo senjata terus terbang.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer