Connect with us

Opini

Pasukan Medsos Israel dan Perang atas Kebenaran Global

Published

on

Ilustrasi pasukan medsos Israel digambarkan sebagai sosok bayangan di balik layar komputer yang mengendalikan opini global melalui jaringan digital bercahaya biru berbentuk bintang Daud.

Israel tampaknya tak lagi puas berperang di medan fisik. Setelah Gaza diratakan, medan berikutnya adalah layar kita—tempat opini dibentuk, empati dipelintir, dan kebenaran dikaburkan di balik deretan tagar yang disponsori. Laporan bocoran The Grayzone mengungkap betapa jauh strategi itu dirancang. Bukan sekadar operasi PR, melainkan proyek ideologis bernama 12 Tribes yang berupaya membentuk pasukan medsos global demi satu tujuan: menguasai narasi dunia tentang siapa yang berhak disebut korban, dan siapa yang boleh dianggap manusia.

Saya rasa, inilah perang yang paling halus sekaligus paling brutal. Di balik jargon “influencer campaign” dan “digital strategy,” tersembunyi struktur militer informasi yang tak kalah rapi dari pasukan bersenjata. Dokumen yang bocor menunjukkan bagaimana mantan Menteri Pertahanan Israel, Benny Gantz, memimpin proyek rahasia ini dengan dukungan para miliarder Amerika seperti Larry Ellison (Oracle), Haim Saban, Sergey Brin (Google), dan David Ellison (Paramount). Mereka bukan aktivis ideologis biasa—mereka adalah penguasa data, jaringan, dan media massa global. Bayangkan jika mereka bersepakat untuk menentukan versi kebenaran yang boleh kita lihat.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Proyek 12 Tribes disebut-sebut merekrut dua belas “filantropis paling berpengaruh” untuk mendanai operasi yang dikelola secara terselubung oleh pemerintah Israel. Bahasa dokumennya dingin, tapi maknanya menusuk: mereka ingin menciptakan “mothership non-hierarkis” yang bekerja untuk rakyat dan negara Israel, namun di luar batas hukum formal. “In the jungle, we need more guerrillas and less IDF,” tulis salah satu perencananya. Kalimat itu seperti pengakuan tak sengaja: bahwa perang hari ini tak lagi butuh senjata, cukup pasukan medsos yang bekerja diam-diam, menanamkan pesan, menyebarkan kebingungan, dan menutup ruang bagi empati terhadap Palestina.

Kita sering membayangkan perang informasi itu seperti sekadar perang opini di Twitter. Tapi ini jauh lebih dalam. Pasukan medsos yang dibentuk lewat proyek semacam ini dilengkapi senjata siber, algoritma, dan akses ke platform global. Beberapa di antaranya bahkan disebut menggunakan perusahaan intelijen bayangan seperti Black Cube—firma yang dikenal melakukan operasi pengintaian dan manipulasi digital terhadap target politik. Ketika media sosial kita dipenuhi konten yang “kebetulan” membela zionis, siapa yang menjamin itu bukan bagian dari strategi sistematis yang dibiayai jutaan dolar?

Ironinya, semua itu dilakukan di tengah kehancuran Gaza, di saat dunia melihat langsung penderitaan yang tak bisa lagi disembunyikan. Namun alih-alih berintrospeksi, mereka memilih untuk menulis ulang kenyataan. Dalam laporan yang sama, disebutkan bahwa Israel bahkan mengontrak perusahaan Amerika untuk melatih sistem AI, termasuk ChatGPT, agar cenderung menghasilkan narasi pro-Israel. Bayangkan, mesin yang seharusnya netral, kini diarahkan untuk berpihak—menggantikan ruang logika dengan propaganda algoritmik.

Kita semua tahu, hari ini yang menguasai narasi menguasai dunia. Maka proyek pasukan medsos ini tak sekadar soal membela nama baik Israel. Ini tentang mengendalikan persepsi global. Dengan menguasai TikTok (melalui kesepakatan Oracle yang dikelola Ellison di Texas), mereka bukan hanya mengamankan data pengguna, tapi juga memegang kunci paling berharga dari zaman digital: perhatian generasi muda. Di sinilah ironi paling getir. Pasukan medsos itu bekerja di balik layar untuk memengaruhi pikiran anak-anak muda yang tumbuh dengan cita-cita kebebasan, keadilan, dan empati.

Di Indonesia, kita pun tak asing dengan model semacam ini. Kita pernah melihat bagaimana buzzer politik memainkan opini publik, bagaimana tagar bisa menggeser persepsi, dan bagaimana algoritma mampu membungkam wacana kritis. Namun apa yang dilakukan Israel jauh lebih berbahaya: mereka menjadikan perang medsos sebagai bagian resmi dari kebijakan negara. Dengan dana yang nyaris tak terbatas, mereka membayar influencer hingga 7.000 dolar per unggahan dalam proyek bernama Esther Project—upaya untuk memoles citra Tel Aviv di tengah genosida Gaza.

Saya kira, yang paling menakutkan bukanlah jumlah uangnya, tapi ambisinya: menghapus realitas penderitaan dengan filter digital. Ketika gambar anak-anak Gaza terbunuh disandingkan dengan konten berbayar yang menampilkan “kehidupan damai di Tel Aviv,” maka perang moral berubah menjadi perang persepsi. Dan dalam perang semacam ini, kebenaran bukan lagi soal bukti, tapi soal siapa yang memiliki lebih banyak server dan influencer.

Namun, seperti setiap propaganda yang terlalu ambisius, proyek ini mulai melawan dirinya sendiri. Hasil jajak pendapat di Amerika menunjukkan dukungan terhadap Israel anjlok tajam, terutama di kalangan muda. Fakta itu mengungkap sesuatu yang sederhana namun kuat: manusia masih memiliki naluri moral yang tak bisa dibeli. Empati tak bisa diatur lewat algoritma. Mungkin mereka bisa membanjiri linimasa dengan propaganda, tapi tak bisa menghapus rasa jijik publik terhadap kejahatan yang dilakukan atas nama keamanan.

Dan saya rasa, di sinilah kita semua harus berhenti sejenak untuk berpikir. Dunia sedang diseret menuju era baru: di mana perang tak lagi soal darah dan peluru, melainkan soal pikiran dan piksel. Pasukan medsos bukan lagi sekadar tim humas; mereka adalah barisan yang dilatih untuk menaklukkan kesadaran manusia. Jika hari ini mereka berhasil membungkam kebenaran tentang Gaza, besok mungkin mereka bisa menulis ulang sejarah siapa pun yang dianggap musuh.

Apa yang dilakukan Israel melalui proyek 12 Tribes dan kontrak dengan firma-firma Amerika hanyalah contoh paling vulgar dari sesuatu yang kini menjadi pola global: kolonialisasi digital. Dunia maya yang seharusnya menjadi ruang kebebasan justru berubah menjadi alat penjajahan baru. Bukan penjajahan atas tanah, tapi atas kesadaran.

Pada akhirnya, perang ini bukan tentang Israel dan Palestina saja. Ini tentang siapa yang berhak menentukan kebenaran. Jika kebenaran bisa dibeli dan disebarkan lewat pasukan medsos, maka demokrasi tinggal kenangan, dan opini publik hanyalah hasil rekayasa perangkat lunak. Dan ketika itu terjadi, kita semua—baik yang pro maupun kontra—sebenarnya sedang berdiri di sisi yang sama: sisi yang telah kehilangan kendali atas pikirannya sendiri.

Saya percaya, kebohongan yang disebarkan pasukan medsos itu mungkin bisa menunda kemarahan dunia, tapi tidak bisa memadamkannya. Sebab selama masih ada orang yang menulis, berbicara, dan menolak diam, perang atas kebenaran ini belum selesai. Mungkin mereka bisa menghapus gambar dari linimasa, tapi tidak dari ingatan manusia. Dan di situlah, meski kecil, harapan masih hidup.

4 Comments

4 Comments

  1. Pingback: Krisis Politik Israel di Balik Gencatan Trump

  2. Pingback: Ketika Kebohongan Menjadi Senjata di Gaza - vichara.id

  3. Pingback: Krisis Tentara Israel dan Retaknya Mitos Kekuatan

  4. Pingback: Pasokan Senjata Israel dan Bom Gaza yang Disembunyikan Barat

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer