Connect with us

Opini

Oracle–TikTok: Jalan Sunyi Kontrol Narasi Israel

Published

on

Ilustrasi editorial menampilkan logo TikTok seperti boneka yang dikendalikan kabel menuju simbol Bintang Daud bercahaya dan server bertuliskan “Oracle”, dengan latar kabur berisi protes Gaza yang memudar.

Layar ponsel kita terus bergulir, seolah tak kenal henti. Video-video dari Gaza, suara-suara yang menuntut keadilan, dan potongan cerita yang mengguncang hati mengalir seperti arus sungai yang sulit dibendung. Namun kini, sebuah kesepakatan yang terlihat teknis—penjualan TikTok versi AS ke investor domestik dan penyerahan algoritmanya ke Oracle—menghadirkan bayangan baru. Bukan sekadar bisnis atau keamanan, tetapi sebuah upaya terencana untuk menundukkan narasi, mengalihkan sorotan, dan perlahan memadamkan cerita yang selama ini menembus batas propaganda resmi.

Kesepakatan ini disebut sebagai langkah “keamanan nasional”. ByteDance, induk TikTok asal Tiongkok, dipaksa menjual sahamnya. Oracle akan menulis ulang algoritma, menampung data, dan menjaga “kedaulatan digital” Amerika. Tetapi siapa pun yang mau sedikit menelisik tahu, alasan itu terlalu mulus. Di baliknya ada kemarahan lobi pro-Israel, yang gerah karena anak muda Amerika ramai-ramai menonton dan membagikan video pembantaian di Gaza. Kongres bereaksi cepat: lahirlah undang-undang “divest-or-ban” pada 2024, yang seolah disusun bukan demi privasi warga, melainkan demi menenangkan mereka yang tak ingin kebenaran Gaza menyebar.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Di sinilah Oracle muncul sebagai “penyelamat”. Larry Ellison, pendirinya, bukan sosok netral. Ia dikenal sebagai pendukung besar Israel, bahkan berjanji menyediakan infrastruktur cloud dan keamanan siber untuk Tel Aviv ketika serangan di Gaza meningkat. Kini, Ellison dan perusahaannya akan mengendalikan algoritma yang menentukan video apa yang dilihat ratusan juta pengguna AS. Apakah kita sungguh percaya algoritma ini akan bebas dari bias? Rasanya seperti menyerahkan pengeras suara demo ke orang yang terang-terangan mendukung pihak lawan.

Algoritma bukan sekadar deretan kode. Ia adalah kurator pikiran publik. Dialah yang menentukan apakah video kesaksian warga Palestina muncul di beranda atau terkubur di sudut tak terlihat. Dengan “retrain dari nol” seperti rencana Oracle, mereka dapat membentuk ulang cara orang muda Amerika—dan dunia—memahami konflik Timur Tengah. Ini bukan sekadar sensor, ini rekayasa persepsi. Kita mungkin masih bisa berbagi video, tetapi apakah video itu akan sampai ke orang yang belum “percaya”? Itu pertanyaan yang menggantung seperti awan mendung di langit Jakarta.

Kita sudah melihat pola serupa. Facebook, Instagram, X—semuanya pernah dituduh menekan konten pro-Palestina. Tapi TikTok selama ini relatif lebih terbuka, memberi panggung bagi suara-suara dari Gaza. Justru karena itulah ia jadi target. Upaya mengendalikan TikTok lewat Oracle adalah langkah strategis: memutus jalur informasi yang tak terkendali, mensterilkan ruang publik digital dari gambar dan cerita yang bisa menumbuhkan simpati global untuk Palestina.

Bayangkan efeknya lima tahun ke depan. Anak-anak muda yang hari ini marah melihat video rumah sakit Gaza hancur mungkin besok hanya menemukan video tarian lucu atau tren belanja. Algoritma yang diset ulang bisa pelan-pelan menghapus isu Palestina dari kesadaran kolektif, bukan dengan melarang terang-terangan, tapi dengan menenggelamkan di lautan hiburan. Sunyi yang tercipta akan terasa alami, padahal itu hasil operasi yang rapi.

Sebagai orang Indonesia, saya merasakan kepedihan ini lebih dalam. Isu Palestina selalu punya resonansi di sini. Generasi muda kita belajar empati dari potongan video yang menembus sensor arus utama. Jika Oracle sukses menundukkan TikTok di AS, pola serupa bisa menular. Negara-negara lain mungkin meniru, korporasi lain bisa menyalin, dan perlahan-lahan, suara korban perang akan semakin samar. Dunia akan berjalan seperti biasa, sementara penderitaan tetap terjadi tanpa saksi.

Lebih jauh, dominasi narasi semacam ini dapat memengaruhi kebijakan luar negeri negara-negara Barat. Jika publik tak lagi terpapar pada realitas pahit di Gaza, tekanan politik terhadap pemerintah mereka akan melemah. Demonstrasi solidaritas bisa merosot, dukungan finansial untuk kemanusiaan akan berkurang, dan konflik yang mestinya memicu kemarahan moral akan berubah menjadi isu kecil yang hanya dibicarakan oleh segelintir aktivis. Saat perhatian publik menyusut, kebijakan agresif pun melaju tanpa perlawanan berarti.

Di tingkat industri, kesepakatan Oracle–TikTok juga menjadi contoh betapa korporasi besar dapat menjadi perpanjangan tangan kepentingan politik. Bukan hanya Oracle; perusahaan raksasa teknologi lain sudah lama dituduh terlibat menyediakan layanan bagi militer Israel. Jika pola ini dianggap wajar, maka raksasa digital mana pun bisa dipaksa menyesuaikan algoritma demi kepentingan geopolitik, tanpa memandang dampak jangka panjang pada kepercayaan publik. Kita berpotensi menyaksikan ekosistem media sosial yang seluruhnya dibentuk oleh kepentingan negara dan lobi tertentu.

Ironi paling getir: Amerika yang selama ini menuduh Tiongkok sebagai “polisi internet” kini mempraktikkan hal yang sama demi kepentingan sekutu. Retorika kebebasan informasi runtuh ketika kepentingan geopolitik berbicara. Oracle, dengan seluruh hubungan dan sumbangannya pada militer Israel, kini memegang kunci algoritma yang bisa menentukan apa yang dianggap penting dan apa yang dilupakan.

Tambahan yang tak kalah mengkhawatirkan adalah efek psikologis pada generasi digital. Ketika arus informasi secara perlahan dikendalikan, publik tidak hanya kehilangan fakta, tetapi juga daya kritis. Mereka belajar untuk tidak mempertanyakan, karena topik-topik sensitif sudah jarang muncul. Kita bisa saja merasa tetap bebas, padahal horizon berpikir kita menyempit. Dalam jangka panjang, ini melahirkan masyarakat yang pasif, mudah diarahkan, dan tak lagi berani menantang narasi dominan.

Saya rasa, inilah bentuk kolonialisme digital terbaru: bukan hanya menguasai data, tetapi juga mengatur narasi. TikTok hanyalah contoh paling mencolok. Hari ini Oracle, besok mungkin perusahaan lain. Yang diperebutkan bukan sekadar profit, melainkan kendali atas ingatan dan emosi publik.

Kesepakatan Oracle–TikTok bukan akhir, tapi awal dari babak baru di mana suara Palestina—dan suara kebenaran lain—bisa dipadamkan tanpa kita sadari. Kita yang masih bisa menonton, menulis, dan berbicara, perlu terus bersuara sebelum algoritma yang sunyi itu menelan segalanya.

2 Comments

2 Comments

  1. Pingback: Perang Algoritma Netanyahu dan TikTok Amerika

  2. Pingback: Israel Panik, Gunakan AI untuk Propaganda

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer